Selamat Jalan Pejuang Alquran, Engkau Telah Dirindukan Allah…

SEBAGIAN mahasantri putra Pondok Pesantren Alquran (PPA) Ibnu Katsir (Ibka) Jember di Jl Mangga 18 Patrang, pagi itu, masih beraktivitas di pondok. Di Masjid Al Falah, Ustadz Abu Hasan, SPd, Al Hafidz dan Ketua Yayasan Ibnu Katsir Jember KH Khoirul Hadi, Lc, membuka dan memberi arahan pada calon mahasantri baru.

Pagi itu adalah pembukaan seleksi calon mahasantri baru putra Ibka.

Sekitar 100 meter di barat pondok, Ustadz HM Askin bersiap menguji skripsi mahasiswa. Istrinya, Ustadzah Inggarwangi Nurcahyani, baru saja mengantar bubur untuk salah seorang anaknya yang balita. Si kecil tengah sakit. Sehari sebelumnya demam.

Ustadz Askin dan Ustadzah Inggar –demikian biasa disapa– beberapa jam sebelumnya baru datang dari luar kota. Ahad sebelumnya, mereka mengantar Ibrahim dan Fatimah, kedua anaknya, kembali ke pondok di Batu. Setelah dari Batu, pasangan suami istri (pasutri) itu menjenguk orang tua Askin di Sedayu, Gresik.

Askin yang juga bendahara Yayasan Ibka Jember sudah sejak lama rutin menjenguk kedua orang tuanya di Gresik setiap pekan. Jika mendengar salah satu orang tuanya sakit, Ustdaz Askin langsung ke Gresik tanpa menunggu akhir pekan.

Sekitar pukul 07.30, kegiatan pembukaan seleksi calon mahasantri baru sudah selesai. Ustadz Abu langsung ke Wirolegi untuk mengisi pengajian. Sedangkan Kiai Khoirul kembali ke rumahnya di Cluster Quran, yang terletak di belakang pondok putra.

Ustadz Syamsul Haidi, mudir Madrasah Diniyah Alquran (MADINA) Ibka, masih di pondok. Kurang 10 menit lagi jarum jam menunjukkan pukul 08.00. “Lalu, saya mendengar ada yang teriak ada kecelakaan. Pak Askin kecelakaan di perlintasan kereta Jl Mangga,” ujar Ustadz Syamsul.

Tanpa pikir panjang, Ustadz Syamsul ambil motor. Beberapa pengurus dan mahasantri yang masih di pondok bergegas menyusul.

Setiba di perlintasan Jl Mangga, ratusan orang telah berkerumun. Pemandangan berikutnya sangat mengerikan.

Setelah memastikan identitas korban yang tertabrak kereta, Ustadz Syamsul Haidi langsung lemas. Dia yakin korban kecelakaan itu adalah Ustadz Askin setelah menemukan KTP di dompet korban.

Informasi kecelakaan itu langsung viral di media sosial dan grup-grup WA. Beberapa ustadzah Ibka yang mendengar kabar itu langsung menangis. Bahkan, beberapa ustadzah yang sedang menguji calon mahasantri putri di Ibka Kaliwates langsung menangis, setelah memastikan kabar di WA itu benar.

Tak terkecuali dengan ujian skripsi mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Jember (Unej). Tempat Ustdaz Askin tercatat sebagai dosen. Infonya, ujian skripsi itu dimulai pukul 08.00. Begitu mendengar kabar salah satu pengujinya meninggal dunia karena kecelakaan, ujian skripsi itu hanya berlangsung 30 menit. Setelah itu langsung diakhiri.

Tidak kurang dua ribuan pelayat datang ke kompleks Ibka Jl Mangga, tempat kedua jenazah disemayamkan, mengantar kepergian Ustadz Askin dan Ustadzah Inggar. Mereka adalah seluruh santri, asatidz Ibka, para ustadz di Jember, mahasiswa, para sahabat, dan rekan kerja di Unej.

Ibarhim (baju putih), anak pertama Ustdaz Askin dan Ustadzah Inggar, memegang jasad ibundanya untuk kali terakhir.

 

Pukul 15.30 jenazah keduanya dishalatkan, setelah putra-putrinya dan keluarga besar berkumpul. Ibrahim dan Fatimah, dua anak terbesar keduanya, tidak kuasa menahan tangis melihat jasad orang tuanya telah berada di dalam peti dan berbalut kafan.

Demikian pula ayahanda dan ibunda Ustdaz Askin dari Gresik. Sang ibunda malah terlihat menangis sambil memeluk peti jenazah putranya.

Ibunda Ustdaz Askin menangis di atas peti jenazah putranya.

 

Hampir semua pelayat yang menyaksikan adegan selama sekitar 15 menit itu menangis. Tidak peduli tua muda atau laki-laki dan perempuan. Semua larut dalam kesedihan mendalam.

Pelepasan kedua jenazah ke tempat peristirahatan terakhir dilakukan oleh Dekan FTP Unej Siswoyo. “Kita semua menjadi saksi kebaikan dan kedermawanan beliau berdua. Pesantren ini tidak akan pernah ada tanpa peran besar kedua beliau. Insha Allah keduanya husnul khotimah, dan ditempatkan Allah dalam surga firdaus,” ujar Ustadz Abu Hasan, yang berpidato mewakili keluarga.

Sekitar pukul 16.10, kedua jenazah dibawa ke pemakaman di Kompleks SMKIT Ibnu Katsir di Rembangan. Ratusan motor dan mobil pentakziah mengiringi. Menjelang azan Maghrib, iring-iringan jenazah tiba di kompleks SMKIT Ibnu Katsir di Rembangan.

Setelah menunaikan shalat Maghrib berjamaah, dilaksanakan kembali shalat jenazah kedua. Usai dishalatkan untuk kali kedua, jenazah dua pejuang Alquran itu diantar ke pemakaman. Menjelang azan Isya berkumandang, proses pemakaman kedua jenazah sudah selesai. “Wahai dua saudaraku, Ustadz Askin dan Ustdazah Inggar, kami semua menyayangi kalian. Tapi, kalian lebih disayang dan dirindukan Allah,” kata Ustdaz Abu yang menyampaikan nasihat kematian kepada ratusan pelayat di area pemakaman.

Saat para pelayat mulai meninggalkan pemakaman, tampak Gus Toha, pengasuh Ponpes Al Islah Bondowoso, hadir. Gus Toha menyalami dan memeluk Ustadz Abu, Kiai Khoirul, dan menyalami anak-anak Ustadz Askin dan Ustadzah Inggar. “Orang tua kalian ini orang shalih dan shalihah, Orang baik. Insha Allah tempatnya di surga. Kalian sabar ya,” ujar Gus Toha, kepada Ibrahim, putra pertama.

Selamat jalan Ustadz Askin dan Ustadzah Inggar… (*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *