Ini Nasihat Syeikh Subhi yang Wajib Anda Baca!

Syeikh Subhi bin Khomis bin Hamid Ghonim (tiga dari kiri).

 

WISUDA Quran yang dilaksanakan Pondok Pesantren Alquran (PPA) Ibnu Katsir (Ibka) Jember, Ahad (10/12) lalu, dihadiri pula oleh Syeikh Subhi bin Khomis bin Hamid Ghonim. Syeikh Subhi adalah qori’ internasional pemegang 17 sanad.

Dalam kesempatan Wisuda Quran di pesantren tahfidz Quran itu, Syeikh Subhi berkesempatan menyampaikan tausiyah kepada lebih 500 orang undangan yang menghadiri acara tersebut. Berikut intisari dari tausiyah Syeikh Subhi:

Kepada semua manusia, Allah telah mempersiapkan surga, meski dia dari kalangan Habasyi, orang kulit hitam. Sebab, Allah menegaskan di Alquran: surga Aku wariskan kepada hamba-hamba-Ku yang bertakwa, siapa pun dia.

Saya ucapkan selamat dan salam kepada para hafidz dan hafidzah, juga hadirin yang sudah hadir di wisuda Quran, termasuk donatur, jajaran pemerintahan, tokoh, dan warga sekitar. Kepada yang hadir, semoga Allah takdirkan anak-anaknya menjadi hafidz dan hafidzah. Semoga kelak di hari kiamat, yang hadir ini dapat syafaat Quran.

Dalam Alquran, Allah memerintahkan kita untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Termasuk, dalam menghafal Alquran, mendukung program Alquran.

Abdullah bin Masud, seorang sahabat Nabi, adalah orang yang selalu berlomba-lomba dalam kebaikan. Kini mereka sudah tiada, orang-orang yang di tengah-tengh mereka juga sudah tiada, tinggal surga yang Allah janjikan kepada hamba-Nya yang berlomba dalam kebaikan, menghafal, dan mempelajari Alquran. Karenanya, Nabi memotivasi kita untuk menghafal Alquran. Nabi bersabda, orang yang hafal Quran, seperti buah utrujah, yang rasanya amat nikmat, harum aromanya.

Perumpamaan orang yang tidak hafal Quran tapi beriman, seperti kurma. Rasanya enak, tapi tidak tercium harumnya. Nabi mengumpamakan, orang munafik seperti bunga melati, aromanya harum tapi rasanya pahit. Demikian pula perumpamaan orang munafik yang sama sekali tidak baca Alquran, sama dengan buah yang rasanya pahit dan tidak tercium bau harum.

Di antara keutamaan-keutamaan menghafal Alquran, sebagai firman Allah, seperti yang selalu kita baca dalam shalat, yakni surat-surat pendek, tidak boleh kita abaikan hanya karena suratnya pendek. Sebab, dalam Alquran, semua surat dan ayat semuanya besar. Tidak ada istilah surat pendek atau panjang karena semua yang ada di Alquran memiliki kelebihan tersendiri.

Misalnya, keutamaan surat Al Ikhlas. Suatu saat datang seorang pria mengadu kepada Nabi karena diuji dengan berbagai macam dosa. Dia memberitahu semua dosa-dosanya. Rasul lalu bersabda kepada orang itu: perbanyaklah baca surat Al Ikhlas karena surat ini surat tauhid, mengesakan Allah, hanya beribadah kepada Allah.

Diriwayatkan oleh Aisyah, ketika Rasulullah mengangkat seorang pemimpin dari pembesar-pembesar kaum, ada seorang panglima perang yang setiap shalat setelah membaca Al Fatihah, tidak pernah tinggalkan surat Al Ikhlas.

Saat pasukan pulang dari perang, mereka mengadu ke Rasul karena sang panglima selalu membaca Al Ikhlas dalam shalat. Karenanya, lihatlah sikap Rasul setelah terima pengaduan itu. Bukan menjawab tentang surat panjang atau pendek, tapi Rasul menyuruh mereka untuk bertanya langsung ke panglima itu mengapa selalu baca Al Ikhlas. Lalu, pasukan-pasukan itu bertanya ke panglima, mengapa selalu membaca Al Ikhlas setiap rakaat. DIjawab oleh panglima, karena Al Ikhlas ini sifat Allah Yang Pengasih dan Penyayang, karena itu penghafal Alquran dituntut punya sikap ini.

Lalu, pasukan itu menghadap Rasul dan menyampaikan apa jawaban panglima. Kemudian, Rasul menyuruh sahabat-sahabat yang ikut perang dengan panglima itu untuk kembali ke panglima itu sambil bawa kabar gembira. Kata Rasulullah, berilah kabar gembira bahwa Allah mencintai dia karena  membaca Al Ikhlas di setiap rakaatnya.

Panglima itu lalu datang ke Rasul, dan dia mengatakan, saya senang membaca surat Al Ikhlas. Karena itu saya tidak meninggalkannya dalam shalat. Rasul menjawab: gembiralah kamu karena Allah menjadikanmu ahli surga karena engkau mencintai Al Ikhlas.

Pada satu ketika Rasul masuk masjid, menemui seorang sahabat membaca doa yang isinya mirip dengan Al Ikhlas. Di akhir hadits itu, Rasul mengatakan: Allah sudah mengampuni dosamu, 3 kali Rasul katakan itu. Dan di antara keutamaan-keutamaan Al Ikhlas dalam hadits: siapa yang raiin baca Al Ikhlas, dia diselamatkan dari azab kubur. Bukan hanya selamat dari siksa kubur, di riwayat lain: siapa yang baca Al Ikhlas saat sakit parah hingga meninggal dunia, maka Allah akan selamatkan dirinyadari impitan kubur. Keutamaan amat besar dari Al Ikhlas: siapa yang baca surat Al Ikhlas saat sakit parah dan mati, Allah mencatat orang itu mati dalam keadaan syahid.

Bukan hanya itu, Allah juga memberi keistimewaan, kelak Allah menyuruh malaikat membawa nyawa mereka dengan sayap-sayap mereka, orang yang senantiasa membaca Al Ikhlas. Hadits lain, kepada sahabat Rasul bertanya, adakah yang mampu baca sepertiga Alquran? Kalau kalian membaca surat Al Ikhas, itu sebanding dengan sepetiga Alquran.

Ini baru keutamaan Al Ikhlas. Bagaimana kalau orang yang hafal Alquran, semua isi Alquran? Yang baca surat Al Ikhlas saja sudah luar biasa, apalagi yang menghafal, sangat besar keutamaannya. Bukan hanya penghafal, lebih penting untuk mengamalkan nilai-nilai Alquran.

Para sahabat Rasul itu membaca Alquran dengan hati, menikmati Alquran sebagaimana menikmati makanan-makanan lezat. Seperti kita makan makanan yang lezat. Karenanya, Imam Hasan Al Basri mengatakan, yang ingin merasakan manis dan lezatnya iman, carilah di Alquran. Kalau kita tidak menikmati lezatnya Alquran, berarti kita terhalang dari Allah. Lalu, Hasan Al Basri ditanya, dimana kita bisa dapati lezatnya iman itu? Dijawab beliau, saat shalat, zikir, dan membaca Alquran. Tiga hal inilah yang apabila kita lakukan, kita bisa merasakan manisnya iman.

Bila kita membaca Alquran dan merasakan manisnya, carilah ayat-ayat yang membuat kita tergetar, tergetar saat membacanya. Saat kita membaca Quran, shalat, zikir, dan tidak merasakan manisnya bacaan Alquran, tidak tergetar, artinya hubungan kita dengan Allah terhalang. Tidak ada pintu lain komunikasi dengan Allah kecuali dengan 3 hal itu. Dan diantara keutamaan Quran, di ayat kursi saja, siapa yang membaca ayat kursi setelah shalat fardhu, maka saat dia meninggal pilihannya hanya satu: masuk surga.

Saya nasihatkan kepada saya dan hadirin, dua hal, khususnya penghafal Alquran: selalu menjaga Alquran dan interaksi dengan Alquran, dengan membacanya dan menghafal. Agar hafalan Quran kuat dan kokoh, maka setiap hari luangkan waktu untuk menghafal Quran. Setiap hari lakukan murojaah seperempat juz. Semoga Allah menjadikan kita hafidz dan hafidzah, demikian pula anak-anak dan cucu kita. (*)

One thought on “Ini Nasihat Syeikh Subhi yang Wajib Anda Baca!

  • Assalamu’alikum wr wb. Ust. Bagaimna jika saya kirim adik saya kessna di mtsnya .tapi saya dan orang tua dak ada biaya untuk lnjutkn ke mts. Ust. Mihon saya di bntu pak. Adek saya kembar. Ust. Di sudah gapal jus 30. ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *