WISUDAWAN TERBAIK (SERI 2/HABIS): Bermodal Juz 30 Yang Tak Genap

TAHFIDZ TERBAIK: M. Misbahul Munir, sungkem kepada ibundanya saat wisuda Quran di Ibka, Ahad (10/12) lalu.

 

HAMPIR semua teman-temannya di Pondok Pesantren Alquran (PPA) Ibnu Katsir (Ibka) Putra Jember mengenalnya sebagai mahasantri yang pendiam. Bila berbicara pun suaranya tak terlalu keras. Tetapi, saat wisuda di pondok tahfidz Quran itu Misbahul Munir ditetapkan sebagai wisudawan terbaik bidang tahfidz. Sebuah tiket umrah dia dapatkan sebagai hadiah dari seorang donatur.

“Saya bersyukur, ini semua karunia dari Allah. Saya tidak menyangka ditetapkan sebagai wisudawan terbaik karena hafalan yang yang mutqin (lancar) sebenarnya tidak sampai 30 juz,” ujar mahasantri yang biasa disapa Misbah ini.

Misbah masuk ke Ibka dengan modal yang boleh dibilang pas-pasan. Bagaimana tidak, sejatinya saat masuk pada 2013 lalu syarat untuk masuk Ibka harus memiliki hafalan minimal 3 juz. Jika calon mahasantri yang lain dites hafalan 3 juz, Misbah hanya dites bacaan Qurannya.

Dia mengaku saat masuk Ibka hanya punya hafalan beberapa surat di juz 30. Itu pun yang dia hafal tidak genap semua surat di juz 30. “Saya menjalani pula tes tulis dan wawancara. Ditanya apa tujuan saya, keinginan saya mondok di Ibka, dan ternyata saya diterima,” kata pemuda asal Kecamatan Silo, Jember, ini.

Selama menjalani pendidikan di Ibka selama 4 tahun, Misbah sangat terkesan dengan kedekatan antara asatidz dengan para santri. Hampir tidak ada sekat antara asatidz dengan santri. “Juga padatnya jadwal dirosah dan kuliah di IAIN. Ini sering dijadikan alasan teman-teman tidak lancar saat hafalan. Padahal, kalau dijalani dengan baik enak,” tuturnya.

Menurut Misnoto, ayahanda Misbah, anak sulungnya itu sudah memiliki keinginan untuk menghafal Alquran sejak masih SMP dan mondok di Madinatul Ulum, Jenggawah. Ternyata, ketemunya dengan Ibka. “Saya sendiri kenal Ibka dari kakak saya, Pak Haji Satik,” akunya.

Sang ibunda, Syarifah, mengaku Misbah merupakan anak yang rajin. Meski secara akademik tidak terlalu istimewa, tetapi setiap sekolah tidak pernah bolos. Malah, bila bangun kesiangan dan tidak sekolah, Misbah marah. “Misbah piagam penghargaan sejak kecil memang sudah banyak,” katanya.

Ke depan, dia hanya bisa mengarahkan dan mendoakan kebaikan bagi anak sulungnya itu. “Dia memang sejak kecil arahnya ke agama. Saya hanya arahkan dan dukung. Selama tujuannya baik, pasti saya dukung,” pungkasnya. (*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *