USTADZ ABU: Kehormatan Besar bagi Kami Diundang Pesantren Salafiyah Syafi’iyah

SILATURAHIM: Ustadz Abu Hasan, SPdI, Al Hafidz (kanan), berdialog dengan jajaran pengurus Ponpes Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Situbondo.

 

KEHADIRAN Ustadz Abu Hasan, SPdI, Al Hafidz, mudir Ibnu Katsir (Ibka) Jember, di Ponpes Salafiyah Syafi’iyah, merupakan kehormatan tersendiri bagi pimpinan pesantren yang baru berdiri hampir 7 tahun lalu itu. “Kami merasa mendapat kehormatan besar diundang pesantren sebesar Salafiyah Syafi’iyah ini,” katanya.

Ponpes Salafiyah Syafi’iyah adalah pesantren yang sudah berdiri lebih dari 1 abad. Pesantren ini didirikan KHR Syamsul Arifin. Kepemimpinan pesantren dilanjutkan oleh KHR As’ad Syamsul Arifin, lalu diteruskan putranya KHR Fawaid As’ad. Setelah Kiai Fawaid meninggal dunia pada 2012, kepempimpinan pesantren diteruskan KHR Ahmad Azaim Ibrahimy.

Saat ini Ponpes Salafiyah Syafi’iyah itu menjadi tempat belajar bagi sekitar 13 ribu orang santri dari seluruh Indonesia. Mereka menempuh pendidikan pesantren, diniyah, formal mulai SMP sampai perguruan tinggi. Dalam sekali penerimaan santri baru, ada 3 ribuan orang yang diterima.

“Masyaa Allah, kami belajar banyak dari pesantren yang sangat besar ini bagaimana mengelola pesantren dengan jumlah santri sampai ribuan orang. Bagi kami yang baru mengelola ratusan santri, hal seperti ini belum terbayang sama sekali bagaimana menjalankannya,” aku Ustadz Abu.

Beberapa pelajaran penting didapatkan Ustadz Abu dan tim yang hadir ke Sukorejo. Antara lain, SPP santri dibayarkan setahun sekali. Untuk jenjang aliyah Rp 900 ribu/tahun dan MTs Rp 750 ribu/tahun. SPP itu sudah termasuk asrama, listrik, pendidikan, dll, kecuali makan.

Untuk makan, para santri Sukorejo membeli sendiri di warung sarga sekitar. Tetapi, pesantren sudah menjalin komitmen dengan warung sekitar bahwa satu porsi makan tidak boleh dijual lebih dari Rp 3.500. “Kalau ada yang menolak komitmen ini, pesantren cukup tulis surat ke santri jangan beli di warung itu karena harganya mahal. Kasihan santri ini,” kata seorang ustadz pengasuh.

Pihak pesantren sejak awal memang tidak mengurus makan santri. Sebab, dengan pola seperti sekarang, secara tidak langsung pesantren ikut memberdayakan ekonomi warga sekitar. “Untung bersih satu warung dalam sehari ada yang mencapai Rp 700 ribu,” ungkapnya.

Karena itu, Ustadz Abu berharap, dirinya suatu saat bisa kembali silaturahim ke Sukorejo. “Lebih khusus bisa ketemu langsung dan mohon doa kepada Kiai Azaim,” harapnya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *