Masjid Ibka Rembangan Ramah Difabel

RAMAH DIFABEL: Di bagian samping Masjid Ibnu Katsir di Rembangan terdapat selasar yang bisa dilalui kaum difabel, khususnya yang berkursi roda atau memiliki keterbatasan fisik lainnya. Sehingga, tidak harus susah payah menaiki tangga.

 

ISLAM tidak pernah membedakan manusia dari kondisi fisiknya. Sekalipun ada manusia yang memiliki keterbatasan fisik, Islam tetap memberikan perhatian yang sama. Sebagaimana peringatan Allah SWT kepada Rasulullah Muhammad SAW yang sempat “abai” dengan kedatangan Abdullan bin Ummi Maktum yang buta, tatkala Rasulullah SAW menemui para pembesar-bangsawan kaum kafir.

Demikian pula saat pengurus Ibnu Katsir (Ibka) membangun masjid di Rembangan, Arjasa. Sejak awal masjid yang cukup megah itu didesain ramah difabel. “Sejak masih awal pembangunan, kami sudah hadirkan teman-teman difabel untuk memberi masukan bagaimana desain masjid ramah difabel,” kata Ustadz Agus Rohmawan, SE, pengurus Yayasan Ibka Jember.

Atas berbagai masukan yang ada, pengurus merancang di samping masjid terdapat sebuah selasar yang dilalui kursi roda, sejak dari halaman paving hingga ke dalam masjid. Lantai dirancang bertekstur sedikit kasar agar roda tidak mudah tergelicir. “Masjid ini pun dinilai teman-teman difabel sebagai masjid yang ramah difabel,” ujarnya.

Selayaknya, kata dia, masjid harus dirancang agar mudah diakses para difabel. Bagaimana pun, mereka memiliki hak yang sama untuk bisa beribadah di masjid dengan nyaman. “Pagar di jalur difabel ini juga baru kami pasang, tetapi dananya masih kurang,” akunya.

Karena itu, bila ada masyarakat yang ingin menyempurnakan pagar jalur difabel, Ibka akan dengan senang hati menerimanya. Informasi lebih lanjut bisa menghubungi Ustadz Agus Rohmawan, SE, di nomor 081336633043. (*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *