[Ngaji di Ibka 4 Mojokerto] Alquran Sumber Kebahagiaan

RUTIN: Ustadz Abu Hasan, SPd, Al Hafidz, saat mengisi pengajian bulanan di Ibnu Katsir (Ibka) 4 Mojokerto, Ahad (11/3) malam.

 

 

SEORANG mukmin sudah selayaknya untuk selalu bahagia dalam menjalani hidupnya. Sebab, bagi orang beriman tidak ada kehidupan yang buruk. Kalau pun buruk terasa, lebih disebabkan hati yang kurang lapang dalam menerima ketentuan Allah SWT.

Dalam pengajian bulanan di Ibka 4 Mojokerto, Ahad (11/3) malam, Ustadz Abu Hasan, SPd, Al Hafidz, mudir Ibka Jember, mengatakan, seorang mukmin seharusnya tidak perlu bingung mencari sumber kebahagiaan dalam hidup. Sebab, Alquran adalah sumber kebahagiaan.

“Untuk menemukan sumber kebahagiaan dalam Alquran, harus benar dulu bacanya,” kata Ustadz Abu. Lalu, jamaah diajak tahsin dengan bacaan yang benar pada Surat Thaaha ayat 25 sampai 28.

Setelah itu, Ustadz Abu menyentil, mengapa hati manusia mudah sesak dalam menerima kenyataan hidup yang dianggap buruk? “Karena hatinya kurang ombo (lapang, Red). Kurang nyegoro (kurang meluas seperti lautan, Red),” katanya.

Ustadz Abu lantas menganalogikan garam sesendok yang dimasukkan mulut. Rasanya, pasti sangat asin. Tetapi, kalau garam itu dimasukkan ke dalam segelas air, asinnya sudah sedikit berkurang. “Lantas, bagaimana kalau garam sesendok tadi dimasukkan sumur? Tidak terasa lagi asinnya. Seperti itulah hati manusia,” tegasnya.

Fakta yang layak menjadi teladan adalah saat Rasulullah Muhammad SAW dakwah ke Thoif. Di kota itu, dakwah Rasulullah ditolak. Bahkan, Nabi dilempari dengan batu dan kotoran, hingga badannya penuh luka dan pakaiannya kotor.

Saat itulah malaikat penjaga gunung turun dan menawarkan bantuan kepada Rasulullah. Bila ia mau, malaikat akan menimpakan gunung ke seluruh penduduk Thoif hingga musnah. Tetapi, hal itu tidak dilakukan Rasulullah. Mengapa? “Karena hati Rasulullah lapang,” jawab Ustadz Abu. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *