Bunda Aliah: Tidak Hanya Hafal Quran, Semoga Juga Mampu Pahami dan Amalkan

Hj Aliah M. Suharman

 

______________________

Salah seorang yang paling bahagia dalam acara pelepasan santri putri angkatan I Ibnu Katsir (Ibka) yang akan menjalani karantina Quran adalah Hj. Aliah M. Suharman. Bersama suaminya, dr H. Suharman Rasyid, spesialis anak, keduanya adalah muwakif pertama pondok Ibka Putri. Ini adalah “panen pertama” dalam benih yang ditanam keduanya saat mewakafkan Aula Quran Aliah pada 2013.

______________________

“SAYA tidak pernah menyangka tempat ini akan menjadi pesantren dan melahirkan para penghafal Quran,” katanya, dengan mata yang mulai berair, ketika ditanya tentang perasaan yang muncul saat melepas 22 santri putri angkatan I menjalani karantina Quran.

Dia mengaku sangat bahagia dan terharu Ibka Putri akan melahirkan hafidzah. “Apalagi, selama beberapa tahun terakhir saya melihat sendiri bagaimana perjuangan anak-anak menghafal Quran setiap hari. Ada yang di gubuk pinggir sawah, bawa kursi duduk di tepi sungai, atau di atas loteng pondok. Masyaa Allah perjuangan mereka,” akunya.

Perempuan yang biasa disapa Bunda Aliah itu mengaku, Senin besok dia bersama suaminya akan ikut mengantar para santri putri ke tempat karantina di kawasan Kebun Kaliwining, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. “Saya bersyukur kepada Allah swt tercapai cita-cita saya bersama Ust Abu, Ust Syukri dan ustadz yang lain, saat itu menghadap Bapak Bupati Jember menyampaikan harapan tidak hanya menjadi kota karnaval, tetapi juga kota penghafal Alquran,” tuturnya.

Bunda Aliah mengatakan, saat dirinya bersama suami membangun gedung pertemuan yang sekarang diberi nama Aula Quran Aliah itu, niat awalnya adalah memfasilitasi ibu-ibu belajar membaca dan tadabur Quran. Saat itu lokasi pengajian pindah dari satu rumah ke rumah yang lain.

Karena kondisi tempat yang berbeda-beda, kadang jamaah ada yang tidak kebagian tempat duduk. Akhirnya, dia terpikir untuk membangun sebuah aula serbaguna yang bisa dipakai banyak acara. Tetapi, yang utama adalah aula untuk belajar Quran.

Setelah dibangun bersama dr Suharman, aula itu bisa dipakai tempat mengaji. Bahkan, beberapa acara lain secara gratis. Tetapi, banyak para peminjam yang tidak mau gratisan. Mereka memberi sejumlah uang untuk petugas kebersiah gedung. “Kalau mau bayar kebersihan, jangan dikasihkan saya. Kasihkan ke petugasnya langsung,” kata perempuan asal Minang itu, kepada rekan-rekannya yang meminjam aula.

Hingga, Ramadhan 2013 lalu Bunda Aliah dan dr Suharman diajak pengurus Ibka untuk melihat para santri yang tengah lomba di Festival Quran radio Prosalina. Saat itu, ada beberapa peserta putri dari Jember dan sekitarnya. “Saya tanya Ustadz Abu, Ibka tidak kirim santri putri? Beliau bilang gedungnya yang tidak ada,” sambung cucu dari Buya Hamka ini.

Sepulang dari menyaksikan lomba, Bunda Aliah berdiskusi dengan suaminya untuk mewakafkan aula itu untuk pesantren putri Ibka. Setelah keduanya sepakat, Bunda Aliah menelepon kedua putrinya yang tinggal di luar kota. Kedua putrinya yang telah berkeluarga itu sangat setuju bila kedua orang tuanya mewakafkan aula serbaguna itu untuk pesantren tahfidz putri. “Setuju sekali Mami. Biar Mami dan Papi tidak capek merawat gedung itu. Alhamdulillah kalau Mami dan Papi mewakafkan aula itu di jalan Allah,” ujar Bunda Aliah, menirukan respons ana-anaknya saat dimintai pendapat rencana wakaf aula itu.

Tidak berpikir lama, sekitar dua hari sebelum Idul Fitri 2013, Bunda Aliah dan dr Suharman bertemu pengurus Yayasan Ibka Jember. Di akhir Ramadhan yang mulia itu, Bunda Aliah dan dr Suharman melepas aset propertinya yang ditaksir bernilai Rp 2 miliar untuk pesantren penghafal Quran.

Dan setahun berikutnya, Ibka membuka pendaftaran santri putri. Mereka inilah yang mulai 2 April ini akan menjalani karantina Quran sampai akhir Agustus, sebelum menjalani wisuda Quran awal September nanti.

“Saya berharap, semua santri bisa melancarkan hafalannya 30 juz. Terpenting adalah setelah wisuda nanti mereka tidak hanya hafal, tapi benar-benar memaham isi Alquran dan mengamalkannya serta mengajarkannya kepada yang lain,” harap Bunda Aliah. (*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *