[KISAH UNIK KTQ] Dari yang “Nangis Bombay” sampai Hafalan Sambil Berendam di Kolam

MASIH TK: Seorang peserta terkecil di KTQ 3 saat membacakan hafalan beberapa surat di juz 30.

 

SETIAP pelaksanaan Karantina Tahfidz Quran (KTQ) selalu menyisakan berbagai kisah unik khas anak-anak. Menangani 202 peserta dengan beragam gender, usia, dan latar belakang pendidikan serta keluarga, menjadi tantangan tersendiri bagi 53 orang panitia, musyrif dan musyrifah tahfidz yang terlibat di KTQ 3 mulai 4 sampai 10 Juni lalu.

Seperti yang diceritakan Dani Yusuf, panitia KTQ 3 ini. Beberapa jam usai pembukaan, sudah ada peserta yang “nangis Bombay” dan minta panitia menelepon orang tuanya. Si anak minta agar sang orang tua menjemputnya.

Yang bikin keki panitia, peserta ini menangis sejak bakda dhuhur sampai menjelang Isya. “Kami panitia bingung mau menangani peserta ini. Akhirnya kami telepon orang tuanya dan ceritakan semua. Ternyata, orang tuanya bilang, biar saja di situ ustadz. Itu modus,” katanya, sambil tersenyum.

Sang orang tua mengaku, si anak di rumah biasanya mengisi liburan dengan main game di gadget. “Kepada anak ini, kami bilang orang tuamu bilang kamu tetap di sini. Kalau kamu pulang, tidak ada gadget, jadi percuma kalau pulang. Akhirnya dia diam dan bertahan sampai penutupan,” ujarnya.

Menghadapi peserta yang tidak kerasan dan kangen dengan orang tuanya sudah ibarat sambal sayur bagi panitia. Karena itu, panitia sudah menunjuk musyrif dan musyrifah yang telaten dan sabar untuk menghadapi peserta yang masih anak-anak.

Bukan hanya bersabar menghadapi peserta yang tidak kerasan, panitia juga harus bersabar dan tegas menghadapi wali santri peserta. Di grup WA khusus wali santri peserta KTQ, beberapa orang tua sempat minta izin menjenguk anaknya di hari kedua dan ketiga. Alasannya sama: kangen dengan buah hati.

Karena masih pertama pisah, karena masih kecil, dan beberapa alasan lainnya. Tetapi, panitia dengan halus menolak permintaan itu. “Jangan dijenguk, Bu. Kalau dijenguk, ibu pulang, nanti ada tangisan drama Korea,” kata Ustadzah Dyah Ratna Wulandari, seorang panitia, dengan nada humor di grup WA wali santri peserta.

Lain lagi dengan Dr Misnawi, direktur Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Indonesia, yang sebagian area kantornya dipakai KTQ. Dia senang kantornya yang berada di tengah kebun menjadi riuh oleh bacaan Alquran.

Suatu hari dia sempat keliling beberapa sudut kantornya, termasuk di kolam renang. Kolam renang itu di hari biasa menjadi tempat rekreasi bagi setiap wisatawan yang berkunjung. “Pagi-pagi saya lihat ada beberapa anak-anak itu menghafal Alquran sambil berendam di kolam renang. Tampak bahagia sekali mereka. Alhamdulillah,” katanya sambil tersenyum.

Urusan buka puasa pun menjadi saat yang paling dinanti para peserta. Setiap sore selalu ada keriuhan khas anak-anak mengantri takjil dan makanan. Tidak cukup mengambil jatah takjil dari panitia, sebagian peserta masih mengambil jatah takjil yang disediakan takmir masjid Puslitkoka. “Jadi, ada anak-anak yang takjilnya dobel,” kata seorang peserta menceritakan tingkah polah teman-temannya.

Atas semua jerih payah panitia, Ketua Yayasan Ibnu Katsir Jember Ustadz H. Khoirul Hadi, Lc, mengapresiasi kinerja panitia. “Saya mengamati dan melihat langsung, dari tahun ke tahun manajemen pelaksanaan KTQ ini semakin baik. Terima kasih Mas Dani dan jajaran panitia lainnya. Semoga jerih payah semua panitia menjadi catatan amal shalih yang berkah di sisi Allah,” katanya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *