5 Fakta Unik Nikah Qurani Pasangan Hafidz-Hafidzah

PENGURUS pesantren menikahkan santri dan santriwatinya bisa jadi sudah biasa. Tetapi, pernikahan santri dan santriwati Pondok Pesantren Alquran (PPA) Ibnu Katsir (Ibka) Jember, Ahad (9/9) nanti punya beberapa keunikan.

Tidak tanggung-tanggung, sekali menikahkan santri dan santriwatinya, Ibka memfasilitasi pernikahan 4 pasangan hafidz dan hafidzah sekaligus. Keempatnya adalah Hudzaifah Al Ayyubi dan Aminatus Zuhro, Syamsul Haidi dan Sa’adah, Ruhul Muhammad dan Aisyah Aqidatul Muslimah, serta Ahyak Ulumuddin dan Istipsaroh.

Keunikan-keunikan tersebut, bisa jadi, belum pernah ada sebelumnya di pesantren lainnya. Berikut ini catatan redaksi mengenai fakta-fakta unik  pernikahan 4 pasang hafidz dan hafidzah calon alumni Ibka tersebut:

 

(1) Mempelai Hafal Quran 30 Juz

Menikahkan pasangan hafidz dan hafidzah dalam sebuah ikatan pernikahan tidak semudah yang dibayangkan orang. Sebab, seseorang memutuskan menikah tidak hanya memperhatikan apakah calon pasangannya hafal Quran atau tidak. Di dalamnya terdapat faktor hati: yang godaan setan selalu ada di dalamnya.

Bukan hanya urusan hati. Tetapi, menyamakan visi sepasang hafidz dan hafidzah dalam bingkai rumah tangga tidak semudah membalik tangan. Karena, semua orang memiliki visi pribadi, yang tidak mudah untuk dipertemukan dengan visi orang lain (baca: calon pasangan).

Atas izin Allah SWT dan jerih payah jajaran asatidzah Ibka, yang tidak mudah itu pada akhirnya mencapai puncaknya: menikahkan pasangan hafidz dan hafidzah.

 

(2) Menikahkan 4 Pasang Langsung

Lazimnya, orang tua menikahkan seorang anaknya saja. Anggap saja Ibka sebagai orang tua, lazimnya cukup menikahkan seorang santrinya saja. Tetapi, sebagai hajat yang pertama pesantren sejak berdiri 2011 lalu, Ibka langsung menikahkan 4 pasangan sekaligus.

Bagi orang tua yang pernah menikahkan anak, mempertemukan “kepentingan” dengan seorang calon besan saja rumitnya minta ampun. Mulai dari urusan hari dan tanggal, desain acara, pelaminan, konsumsi, dll. Semuanya urusan rumit. Saking rumitnya, kadang persiapannya memakan waktu minimal 6 bulan sampai 1 tahun lamanya. Karena memang tidak mudah…

Ibka menggelar hajatan pernikahan kali ini langsung mengelola “kepentingan” 8 keluarga besar. Ya, 8 keluarga besar. Yang latar belakangnya berbeda-beda, tempat tinggalnya berbeda-beda. Ada yang dari Madura, Depok, Jambi, Banyuwangi, Kuningan (Jawa Barat).

Tetapi, lika-liku dan dinamika prosesnya dimudahkan oleh Allah SWT. Allah Maha Kuasa atas segalanya.

 

(3) Persiapan Akad dan Tasyakuran Nikah Hanya 5 Pekan

Ini juga yang terasa mustahil bagi sebagian besar orang. Menikahkan 4 pasangan, mengelola “kepentingan” 8 keluarga besar, dan diselesaikan dalam tempo 5 pekan. Tapi, itulah keputusan Allah SWT bila Dia berkehendak.

Begitu 8 santri dan santriwati menyatakan siap menikah, ketua panitia baru ditunjuk. Sepekan berikutnya barulah panitia dibentuk. Tinggallah 4 pekan tersisa. Maka, waktu yang ada itulah dimanfaatkan untuk koordinasi intensif guna melakukan berbagai persiapan teknis.

Hampir semua sumber daya santri dikerahkan untuk mengerjakan berbagai persiapan teknis tersebut. Sejumlah pengurus pun back up panitia dalam mempersiapkan hajatan ini. Khususnya, dalam penggalangan dana.

 

(4) Panitia Mempersiapkan Nikahan dengan Modal Nol Rupiah

Tidak sedang mengada-ada. Kenyataan demikian. Panitia terbentuk tanpa modal uang sepeser pun. Kata orang Surabaya bonek (bondo nekat). Tetapi, nekatnya panitia dengan selalu memohon kebersamaan Allah SWT dan keyakinan bahwa tujuan acara ini sangat baik untuk dakwah.

Panitia menggalang dana dan tumpeng untuk konsumsi akad nikah dan tasyakuran pernikahan di pesantren. Ya, pesantren menggelar tasyakuran, bukan resepsi. Semua undangan nanti duduk lesehan bareng. Makan tumpeng bareng. Kesederhanaan yang tidak mengurangi rasa syukur kepada Allah SWT.

Dengan izin Allah SWT, masyarakat antusias menyambutnya. Mereka berlomba menyumbang tumpeng dan dana untuk acara ini. Yang pesantren yakini, 4 pasangan hafidz dan hafidzah ini pada akhirnya nanti akan memperkuat sumber daya manusia di Ibka dan semua lembaga pendidikannya. Pada gilirannya, mereka pun akan terjun ke masyarakat Jember untuk mendakwahkan Islam dan Alquran.

 

(5) Nasrullahi Qoriib

Inilah yang dirasakan panitia. Nasrullahi qoriib (pertolongan Allah itu dekat). Di saat niat lurus untuk kebaikan dakwah seraya hanya memohon pertolongan kepada Allah SWT, berbagai pertolongan dari langit datang bertubi-tubi untuk mendukung Pernikahan Qurani ini.

Ada donatur datang menyiapkan salon dan kostum mempelai. Gratis. Lalu, ada yang datang memberi bantuan dana dan tumpeng. Kemudian, ada pula yang memberikan diskon spesial saat sewa alat. Dan ada yang mengikhlaskan mobilnya dipinjam panitia untuk mengangkut keluarga mempelai di acara ini.

Masyaa Allah… Pengurus pesantren mengucapkan jazakumullah khairan katsiira kepada semua masyarakat dan donatur yang telah mendukung acara ini. Pesantren tidak akan pernah bisa membalas semua kebaikan itu.

Tapi, jajaran asatidz dan santri selalu mendoakan agar Allah SWT menerima semua kebaikan masyarakat dan donatur sebagai amal shalih dengan balasan terbaik dari-Nya. (*)

 

One thought on “5 Fakta Unik Nikah Qurani Pasangan Hafidz-Hafidzah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *