Bahagia dan Tawa di Ta’aruf Keluarga

 

PROSES menuju Pernikahan Qurani diwarnai dengan berbagai hal yang unik. Disebut unik karena tidak lazim bagi proses menuju jenjang pernikahan sebagaimana lazimnya.

Satu contoh saja. Lazimnya, seseorang yang hendak melamar putrid seseorang, orang tua sang putri biasanya sudah kenal lebih dulu dengan calon menantu dan besan. Tetapi, di pernikahan pasangan hafidz dan hafidzah Pondok Pesantren Alquran (PPA) Ibnu Katsir Jember hal itu tidak terjadi.

Hudzaifah Al Ayyubi, seorang calon mempelai, misalnya. Datang melamar calon istri, Aminatus Zuhro, di Madura, tidak kenal sebelumnya dengan orang tua calon istrinya. Demikian pula orang tua Aminatus Zuhro, tidak pernah kenal dan tahu sebelumnya dengan sang calon menantu dan besan.

“Tetapi, subhanallah, karena Alquran, semua menjadi mudah. Punya anak hafal Quran, pasti orang tuanya baik. Dan kalau yang melamar seorang penghafal Quran juga, insya Allah semua juga jadi mudah. Dan seperti itulah pada akhirnya,” kata Ustadz Abu Hasan, SPd, Al Hafidz, mudir Ibka Putra, dalam ta’aruf antar keluarga mempelai, Jumat (7/9) sore.

Dalam ta’aruf antar keluarga itu, suasana pertemuan penuh dengan bahagia dan tawa. Sebab, beberapa kejadian yang menggelikan terungkap dalam pertemuan.

Misalnya, ibunda Syamsul Haidi, calon mempelai dari Jambi, yang kini menjadi Kepala MADINA Ibka, tidak tahu siapa calon menantunya. Saat tiga mempelai peremuan duduk berjajar, saat diminta Ustadz Abu menebak siapa calon menantunya, sang ibunda mengaku tidak tahu. Bahkan, salah menebak orang. Tawa pun pecah di seisi ruangan.

Semua hanyut dengan rasa bahagia. “Impian kami di pesantren adalah mereka bisa menguatkan Quran di rumah tangganya. Sehingga, dari rumah tangga Islami, naik kelas menjadi keluarga Qurani. Dari keluarga Qurani itulah kami berharap lahir banyak penghafal Quran yang sudah berproses bahkan sejak dari kandungan,” harapnya.

Tidak hanya bahagia dan tawa, pertemuan itu juga diwarnai suasana haru. Terutama, saat pengurus menyampaikan harapan agar para calon mempelai mendoakan para pengurus pesantren bisa mendapatkan kebahagian serupa kelak.

“Anak-anak kami masih kecil, tapi kami sudah menjadi panita pernikahan para penghafal Quran. Doakanlah kami, 10 atau 15 tahun lagi, kami yang akan menikahkan anak-anak kami yang hafal Quran, dengan menantu yang juga hafal Quran. Doakan kami, karena kami hanya berharap cipratan kebaikan dan keberkahan dari Quran yang kalian miliki,” kata Hari Setiawan, panitia Pernikahan Qurani. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *