Semua Karena Alquran

Oleh: Hari Setiawan *

 

SEMUA karena Alquran. Saya belum move on. Setidaknya sampai sehari setelah perhelatannya. Pernikahan Quran.

Inilah satu fragmen sejarah dalam perjalanan hidup saya. Anak sulung saya masih 14 tahun. Tidak punya pengalaman menikahkan anak. Sekalinya menjadi ketua panitia pernikahan, langsung 4 pasangan sekaligus.

Hudzaifah Al Ayyubi – Aminatus Zuhro

Bukan jumlah pasangannya saja yang wow. Tapi, pengantinnya pun istimewa. Delapan mempelai semuanya hafal Alquran 30 juz.  Semua adalah alumni Pondok Pesantren Alquran (PPA) Ibnu Katsir. Empat mempelai di antaranya baru menjalani Wisuda Quran, sehari sebelum ijab qobul.

Semua karena Alquran. Hudzaifah Al Ayyubi menikah dengan Aminatus Zuhro. Syamsul Haidi berpasangan dengan Sa’adah. Ruhul Muhammad mengikat janji suci dengan Aisyah Aqidatul Muslimah. Dan Ahyak Ulumuddin mempersunting Istipsaroh.

Hudzaifah yang dari Depok berjodoh dengan gadis dari Madura. Syamsul yang lahir di Jambi mendapatkan istri asal Sunda (Kuningan, Jawa Barat). Ruhul yang dari Blitar, bertemu dengan perempuan asal Banyuwangi. Dan Ahyak, ternyata berjodoh dengan gadis sekampung.

Tetapi, Alquran membuat kedelapan mempelai ini tak berpacaran, insya Allah. Sebagian kenal dengan sang calon sebelumnya, mungkin iya. Karena Syamsul pernah sepondok dengan Sa’adah. Atau, Ahyak pernah sepesantren dengan Istipsaroh, walau beda angkatan.

Syamsul Haidi – Sa’adah

Jodoh tetaplah jodoh. Sama misterinya dengan maut. Tak seorang pun mampu menerka kapan datangnya. Siapa calonnya. Dari mana asalnya.

Semua karena Alquran. Entah mengapa Ustadz Abu Hasan, SPd, Al Hafidz, sang mudir Ibnu Katsir, di suatu pagi menunjuk saya menjadi ketua panitia acara yang baru pertama digelar pesantren ini. Mungkin karena hari H pelaksanaan tinggal 5 pekan.

Bisa jadi saya dianggap biasa bekerja dengan deadline ketat. Maklum, mantan wartawan koran harian. Dan yang saya haren: mengapa saya tidak berdaya untuk menolak amanah ini?

Semua karena Alquran. Itu pertimbangan saya yang “nekat” menerima amanah kegiatan yang tidak ada contoh sebelumnya di Ibnu Katsir ini. Berkah Allah melalui Alquran. Melalui para “keluarga Allah di bumi”: para penghafal Alquran.

Sebab, saya ingat Rasulullah SAW pernah bersabda yang salah satu pesannya, termasuk mengagungkan Allah siapa saja yang memuliakan ahlul Quran. Sabda yang diriwayatkan Abu Daud ini benar-benar menjadi sumber “kenekatan” saya.

Ruhul Muhammad – Aisyah Aqidatul Muslimah

Kepada para orang tua para mempelai saat ta’aruf antar keluarga yang difasilitasi pesantren, dua hari sebelum hari H, saya tidak memperkenalkan diri sebagai ketua panitia. Tapi, saya menyebut diri saya sebagai pelayan pesantren. Saya lebih nyaman disebut sebagai pelayan pesantren. Karena pesantren sedang punya hajat, wajib bagi saya terlibat di dalamnya. Begitulah yang ada di pikiran saya.

Bukan hanya itu. Bukankah dalam Alquran, Allah telah menegaskan: kebaikan akan kembali kepada sesiapa yang berbuat baik. Jika lelah dan payah saya bersama banyak panitia lain ini diridhai Allah, semoga kebaikan yang sama kembali ke anak-anak saya.

Semua karena Alquran. Para panitia yang lain seperti tak ada capeknya. Makin dekat hari H, rapatnya jadi setiap hari. Pikiran dan waktu dikuras demi suksesnya Pernikahan Alquran ini. Walau panitia terbentuk tanpa modal uang sama sekali, akhirnya Allah banyak menurunkan pertolongan-Nya.

Ada saja wujud bantuan Allah melalui para “malaikat-Nya” dari kalangan manusia. Ada yang berdonasi kostum pengantin dan riasnya. Semua dikasih gratis. Lebih dari 20 donatur meminjamkan mobilnya dengan sukarela untuk akomodasi keluarga para mempelai selama acara.

Yang menyumbang tumpeng tidak kalah banyak. Ada yang langsung menyumbang 10 tumpeng, 5 tumpeng, sampai 1 tumpeng. Mulai sumbangan dari pribadi sampai lembaga. Donasi dalam bentuk diskon edan-edanan untuk sewa peralatan dan jasa pun berdatangan.

Yang mengharukan, ada yang menghias mobil pengantin dengan bunga segar dan pita yang mewah, menyiapkan hand bucket untuk pengantin perempuan, dan bunga segar untuk meja akad nikah. Anda tahu kami harus bayar berapa? Hanya Rp 300 ribu. Bila kami membayar normal, pasti harus merogoh kocek jutaan rupiah.

Belum lagi Pak Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo, SH, SIK, MH, membantu pengawalan kendaraan pengantin dengan mobil patroli Satuan Lalu Lintas Polres Jember gratis. Lalu, Ibu Bupati dr Hj Faida, MMR, mengirim 4 buah bunga papan ucapan selamat untuk para mempelai.

Yaa Rabb… Malu rasanya. Allah dan “malaikat-malaikat-Nya” itu demikian baik. Saya yakin.

Semua karena Alquran. Pikiran para donatur itu pasti sama dengan saya. Kami semua ingin mendapat berkah Allah melalui para penghafal Alquran ini.

Ahyak Ulumuddin – Istipsaroh

Saya yakin, para dermawan itu tidak butuh dibalas dengan materi. Mereka hanya berharap berkah dari Allah. Berkah yang dihantar Alquran.

Bertubi-tubinya bantuan dari para dermawan ini sejatinya mengirimkan satu pesan kepada para mempelai: jangan lupakan mereka. Sekali lagi, bukan untuk dibalas dengan materi. Tetapi, doakan mereka, doakan umat. Entaskanlah umat dari keterpurukan ini dengan Alquran.

Saat menikah, semangat dakwah harus lebih bergelora. Suami berdakwah, istri harus menyokong dari belakang. Bahkan, ikut terjun berdakwah sesuai kapasitasnya.

Berumah tangga justru harus mengokohkan dakwah.

Semua karena Alquran. Siapa sih yang tak ingin anaknya hafal Alquran? Lalu, saat dewasa berjodoh dengan penghafal Alquran pula? Yaa Rabb, saya ingin sekali. Dan para donatur itu pasti juga menginginkan hal yang sama.

Karena itu, kepada anak-anak akademis saya yang saat itu hendak menikah, di depan orang tua masing-masing, pinta saya satu. Doakan kami, para pelayan pesantren Ibnu Katsir berikut semua donatur dan pendukungnya, kelak mendapat nikmat yang sama: anaknya hafal Quran dan berjodoh dengan penghafal Alquran.

Di akhir catatan ini, izinkan saya mengucapkan terima kasih kepada semua donatur yang telah menyukseskan Pernikahan Quran ini. Yang telah menyumbang tumpeng, meminjamkan mobil dan bensinnya, mendiskon berbagai sarana pendukung dan jasa, yang telah mendermakan waktu dan tenaga, yang telah hadir memenuhi undangan, bahkan yang telah mendoakan dari jauh karena berhalangan hadir.

Kami mohon maaf bila ada yang belum terundang dan kami belum bisa memuliakan semua tamu di acara ini. Baik tamu dari keluarga mempelai maupun masyarakat umum.

Sekali lagi terima kasih. Kami tak pernah mampu membalas semua kebaikan itu.

Kami berdoa, semoga Allah memberi balasan terbaik atas semua kebaikan itu. (*)

 

* Penulis adalah Direktur Majlis Dhuha, ketua panitia Pernikahan Quran PPA Ibnu Katsir Jember

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *