Hari Solidaritas Hijab Sedunia? Perlukah Memanfaatkan Momentum Ini?

Banyak yang masih belum mengerti mengenai hari solidaritas hijab sedunia ini. Entah itu karena memang belum mengarahkan perhatian kesana, atau memang karena syiar-nya masih belum maksimal. Setiap tahun, tepatnya tanggal 4 September diperingati sebagai Hari Solidaritas Hijab Sedunia. Tentunya ini berbeda dong dengan Hari Hijab Sedunia yang jatuh setiap tanggal 1 Februari. Hari solidaritas hijab sedunia ini diperingati sebagai bentuk penolakan atas diskriminasi yang diterima para wanita berhijab.

Ya, kita tahu kalau beberapa tahun yang lalu dunia digemparkan dengan istilah “Islam Phobia”, dimana tidak diperkenankan untuk menggunakan simbol keagamaan. Dan yang paling menyedihkan adalah adanya wanita yang menggunakan hijab tidak mendapatkan perawatan medis yang layak. Melihat hal itulah kemudian banyak masyarakat dunia yang tergerak dan menyelenggarakan konferensi London tanggal 4 September 2004 (dikutip dari lman akurat.com).

Namun seiring berkembangnya zaman, kemudian mulailah diperingat sebagai hari solidaritas hijab sedunia sejak tahun 2009. Di beberapa tempat di belahan dunia sana, tanggal 4 september dijadikan momen untuk aksi damai sebagai bentuk penolakan akan diskriminasi.

Apakah perayaan atau peringatan tahun ini bisa dilakukan seperti tahun sebelumnya?

Kita sama-sama tahu bahwa tahun 2020 ini menjadi tahun yang super spesial, karena kita tidak bisa melihat senyuman orang lain karena tertutup masker atau harus menjaga jarak untuk kebaikan bersama. Apalagi dengan kenaikan angka positif yang ternyata masih terus bertambah, jadi kemungkinan untuk adanya  peringatan seperti biasanya belum bisa dilaksanakan.

Kalau berkacamat pada tahun-tahun lalu sebelum keadaan seperti sekarang ini, biasanya diadakan peringatan dengan dialog interaktif, talkshow, hingga aksi solidaritas. Tidak hanya itu, kadang mahasiswa juga mengadakan sebuah kegiatan di lokasi-lokasi umum. Namun yang menjadi tolak ukur pelaksanaan kegiatan seperti ini, karena pasti bisa menimbulkan kerumunan maka pasti bagaimana penanganan dan kondisi daerah tersebut menjadi perhitungan.

Ustadzah Anis Rohmatillah, Kepala PAUD Qur’an Ibnu Katsir menjelaskan bahwa untuk daerah Jember sendiri, nampaknya memang belum diperbolehkan untuk mengadakan kegiatan seperti ini. Tetapi semoga saja bisa dilaksanakan meskipun hanya sebatas diskusi online, webinar dan seterusnya sebagai salah satu cara memanfaatkan momen untuk syiar. Kalau seperti tahun lalu, biasanya sederhana seperti memberikan stiker dan hijab gratis di sekitar area kampus dengan menggandeng sponsor.

Apakah tahun ini masih bisa dilakukan kegiatan seperti tahun sebelumnya? Mungkin jika hanya bagi-bagi hijab dan stiker tidak akan menjadi masalah asalkan protokol kesehatan tetap dijaga, karena nampaknya banyak juga yang bagi-bagi masker dan handsanitizer, namun untuk acara yang ruang tertutup yang belum bisa dilaksanakan. Tetapi seharusnya untuk syiarnya memang harus tetap ada, karena momennya bagus.

Jika memang mau, harusnya peringatan seperti ini menjadi salah satu agenda namun dengan kondisi pembelajaran yang serba online seperti sekarang ini nampaknya belum bisa diadakan acara seremonial. Tetapi syiar untuk menggunakan hijab tetap bisa dilakukan dengan banyak cara tanpa harus dilakukan seremonial. Dulu masih banyak yang menganggap orang berhijab itu macam-macam, misal ikut aliran apa dan seterusnya. Pengalaman dari para muslimah yang dulu menggunakan hijab agak lebar saja sudah menjadi sorotan sebenarnya.

Esensi sebenarnya menggunakan hijab

Tetapi, seiring dengan perkembangan zaman dan maindset masyarakat kita yang terus berkembang sehingga menggunakan hijab lebar, gamis, dan seterusnya sudah menjadi trend fashion muslimah masa kini. Hal ini bisa saja disebabkan karena isu yang lama sudah bergeser, esensinya tetap untuk membumikan hijab karena banyak muslimah diluar sana yang belum mengenakan hijab dan belum sadar mengenakan itu. Tetapi syiarnya lebih kepada istiqamah dan bagaimana hijab itu bisa membawa perubahan bagi jati diri.

Kita sama-sama tahu bahwa banyak sekali muslimah yang hanya memakai hijab saja dengan prinsip gugur kewajiban, tetapi adab belum tertata dengan baik, interaksi dengan lawan jenis masih tidak dijaga. Jadi syiar ini lebih kepada istiqamah seperti ini dan istiqamah dalam mengenakannya. Banyak atau sering kita temukan di sekitar kita wanita yang menganakan hijab hanya ketika di sekolah, kantor atau lokasi yang mewajibkannya, namun setelah di keluar dari lingkungan itu maka hijab dilepas. Nah kasus seperti inilah yang perlu ditanamkan esensi bagaimana sebanrnya hijab itu.

Tantangan muslimah yang berhijab sekarang ini bukanlah tentang bagaimana ia berhijab tetapi lebih kepada istiqamah atau tidaknya ia mengenakan hijab tersebut. Kemudian muncul trend banyak yang berhijab lalu akhirnya akhlaqnya masih tidak ada perubahan, sehingga membuat beberapa muslimah yang belum berhijab punya mainset “saya mau memperbaiki akhlah terlebih dahulu”. Bukan tanpa sebab tetapi karena yang tampah dalam pandangan mereka adalah wanita berhijab sama saja dengan yang tidak berhijab.

Hijab Fisik, Hijab Hati atau Bagaimana Sebenarnya?

Sudah seharunya bagi kita yang muslim untuk menjalankan syariat Allah itu tidak setengah-setengah. Bagaimana maksdunya? Kalau kita memang senang menjalankan syariat maka kita harus menjalankan semuanya, tetapi terkadang kita itu hanya menjalankan syariat secara pilih-pilih. Misalnya jika syariat itu kita suka dan mampu melakukannya, maka kita lakukan sepenuh hati, tetapi jika menemukan syariat yang kita tidak suka maka tidak dijalankan. Ini keliru sebanrnya, karena dalam Al-quran jelas sekali menggambarkan bahwa jika sudah bersyariat haruslah menerapkan semuanya termasuk disini dalam berhijab.

Jika ada yang mengatakan “saya mau hijabin hati dahulu” sebenarnya jika dilihat dari sudut pandang syariat bahwa wanita diwajibkan untuk menutup aurat, dan menutup aurat itu bukan menutup hatinya dan itu sifatnya fisik. Namun jika tujuannya adalah untuk memperbaiki akhlaq, maka sebaiknya menjadikan momen berhijab ini sebagai salah satu untuk mengubah penampilan fisik  sekaligus akhlaq dan aqidahnya.

Apakah orang yang  berhijab kemudian baik hati semua? Atau yang berhijab tidak baik semua? Tentu tidak. Begitu pula dengan yang belum berhijab, ada yang baik dan ada juga yang tidak. Artinya, jika kita bisa memperbaiki diri secara menyeluruh baik itu dalam dan luar, artinya penampilan dan akhlaq. Dan mereka yang menggunakan alasan itu untuk tidak berhijab sebenanrnya hanya mencari pembenaran sepertinya.

Kalau bisa sekarang, kenapa harus menunda berhijab

Apakah dengan semakin maraknya fashion muslimah kemudian hijab semakin mahal? Pada kenyataannya tidak karena masih banyak kok yang harganya terjangkau dengan model yang beragam. Tapi kalau nanti berhijab, apakah tidak bisa fashionable atau menjadi rule model dan seterusnya? Nyatanya banyak kok style hijab yang fashionable tapi tetap syar’I, karena memang penampilan menjadi hal yang perlu untuk diperhatikan, fil khusus muslimah. Minimal jangan sampai menjadi muslimah yang menyebalkan diantara sesama muslimahnya dengan sebut saja tidak bersih atau rapi dan seterusnya.

Satu hal yang perlu disadari bahwa ketika seorang wanita sudah memasuki masa baligh, maka segala tanggung jawab atau apa yang ia perbuat akan ditanggung sendiri. Termasuk dalam hal menutup aurat ini, jika ada laki-laki yang kemudian  melihat aurat maka tentu sudah ada balasannya seperti apa. Hal kedua yang perlu ditetapkan dalam hati adalah memandang hijab sebagai pelindung diri, meskipun masih ada saja celah untuk mencari alasan. Misalnya “saya sudah berhijab tetapi tetap menjadi pusat perhatian para laki-laki”, namun alasan ini menjadi sebuah boomerang karena sudah menutup aurat saja masih diganggu apalagi tidak menggunakan hijab.

Keshalihan seorang muslimah akan membawa kebaikan kepada kedua orang tua. Menjalankan syariat adalah salah satu cara kita berterima kasih kepada kedua orang tua dengan memberikan hal itu sebagai jariah. Jika saat ini, kita sebagai anak masih belum bisa mensejahterakan meliau dengan materi, maka kenapa tidak kita sejahterakan secara batin misal. Dengan kashalihan seorang muslimah itu bisa menyelamatkan orang tua atau meringankan beban beliau ketika hisab nantinya.

Perlu diketahui dan disadari bahwa setiap perubahan tentu akan ada konsekuensinya, termasuk itu sebuah pilihan untuk berhijab. Misalnya awalnya belum berhijab dan akrab dengan semua teman laki-lakinya, kemudian berhijab dan menjauh dari semua itu tentu akan menjadi sorotan. Artinya memang akan selalu ada konsekuensi dan resiko yang dihadapi ketika memilih sebuah keputusan, termasuk disini adalah berhijab.

Namun mengenai perubahan ini adalah bergantung pada pribadi, apakah kuat untuk menghadapi konsekuensi itu. Kemudian harus perlu untuk memperhatikan bahwa perlu waktu dan tempat untuk beradaptasi dengan itu semua sehingga akhirnya bisa terbiasa, namun tetap tidak berlebihan. Pergaulan tetap dijaga dengan banyak orang tetapi harus tau batasan, karena itu esensi dari hijab itu sendiri. Dan kita sebagai mahluk sosial memang perlu untuk sosialisasi dengan orang di sekitar dan tidak bisa individualisme. wallahu a’lam bishawab…