
Ringkasan materi Kajian Ustadz Faisal Hani A. Benseh oleh Afifah dan Puji, Mahasantri Ibnu Katsir 2
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Dari ayat ini, kita bisa memahami bahwa terkadang, apa yang kita anggap baik belum tentu membawa kebaikan, dan apa yang kita anggap buruk mungkin justru adalah yang terbaik bagi kita. Mungkin saja nikmat yang Allah SWT berikan kepada kita sebenarnya bisa melalaikan kita dan menjauhkan kita dari-Nya. Sebaliknya, ujian dan cobaan yang kita hadapi bisa menjadi kebaikan di masa depan, meskipun kita tidak menyadarinya saat ini. Sayangnya, kebanyakan manusia tidak melihatnya dari perspektif ini dan malah menganggap ujian sebagai bentuk ketidakadilan Allah SWT.
Sebagai seorang Muslim yang baik, kita harus belajar memandang ujian dan cobaan dari sudut pandang yang berbeda. Kita harus mencoba melihat hikmah dan rahmat yang terkandung di dalamnya. Bisa jadi, jika kita tidak diuji, kita akan tersesat terlalu jauh. Atau mungkin, jika Allah tidak memberikan teguran kepada kita, kita akan semakin jauh dari jalan-Nya.
Ada sebuah kisah inspiratif dari seorang tokoh masyarakat yang diuji oleh Allah SWT dengan kehilangan nikmat penglihatan pada usia 48 tahun. Alih-alih meratapi keadaannya, beliau justru melihat cobaan ini sebagai kesempatan yang besar. Allah SWT menggerakkan hatinya untuk mulai menghafal Al-Qur’an, dan melalui hafalan ini, beliau mendapati nikmat yang lebih besar daripada nikmat penglihatannya yang telah hilang. Tidak hanya itu, beliau juga mengkaji Al-Qur’an dan menemukan keagungan kalam-Nya, yang kemudian dijadikan pedoman dan sandaran hidup. Beliau lah pemateri dalam Majlis Dhuha edisi Oktober ini, ustadz Faisal Hani A. Benseh.
Dalam pengkajiannya, beliau merujuk kepada QS. Fatir: 2:
“Apa saja rahmat yang Allah anugerahkan kepada manusia, maka tidak ada sesuatu pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan-Nya, maka tidak ada sesuatu pun yang sanggup untuk melepaskannya setelah itu. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Fatir: 2)
Ayat ini menegaskan bahwa rahmat Allah SWT diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan jika rahmat itu sudah menjadi milik seseorang, tak ada yang bisa mengambilnya. Allah SWT akan menjaga rahmat tersebut dengan sempurna.
Beliau juga menegakkan Al-Qur’an sebagai jalan yang lurus, sebagaimana Allah firmankan dalam QS. Al-An’am: 153:
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am: 153)
Al-Qur’an adalah jalan yang lurus yang harus kita ikuti untuk mendapatkan keberuntungan. Namun, pertanyaan yang muncul adalah, bagaimana Al-Qur’an bisa masuk ke dalam hati manusia? Dalam QS. Al-Qiyamah: 17, Allah SWT memberikan garansi bahwa Dia akan mengumpulkan Al-Qur’an di dalam dada manusia:
“Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.” (QS. Al-Qiyamah: 17)
Namun, hal ini tentu membutuhkan usaha dan perjuangan dari pihak manusia. Tidak cukup hanya menunggu, kita harus berjuang untuk menghafal dan memahami Al-Qur’an. Oleh karena itu, Allah juga memberikan peringatan keras bagi orang-orang yang enggan memahami Al-Qur’an. Mereka diberi penglihatan dan pendengaran, tetapi tidak digunakan untuk memahami tanda-tanda keagungan Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya:
“Dan sesungguhnya Kami ciptakan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 179)
Sebagai umat yang beriman, kita dianjurkan untuk selalu bersyukur atas rahmat yang Allah berikan kepada kita, karena rahmat tersebut tidak bisa diambil oleh siapapun dan akan selalu dijaga oleh-Nya. Selain itu, kita harus mengikuti Al-Qur’an sebagai jalan yang lurus untuk mencapai keberuntungan. Ini memerlukan usaha dan perjuangan untuk memahami dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Allah juga mengingatkan kita agar tidak lalai dalam menggunakan penglihatan dan pendengaran kita untuk mengenali tanda-tanda keagungan-Nya, sehingga kita tidak termasuk orang-orang yang enggan memahami isi Al-Qur’an.
