Terimakasih Sudah Menjadi Ayahku | Pengajian Ikadi Edisi Januari 2026

Ringkasan materi Ayah Feri D.S. pada Parenting Akbar Ikadi oleh Puji Hidayatun Nahar

Dia adalah ayah, sosok pahlawan tanpa tanda jasa yang bahunya selalu siap menjadi tempat bersandar dalam segala permasalahan. Ia menyediakan tempat paling nyaman untuk kembali pulang dari gegap gempita dunia yang fana, serta sosok yang selalu menguatkan ketika kaki tak lagi mampu berdiri.

Setiap anak yang terlahir di dunia ini pastilah memiliki seorang ayah. Namun, tidak semua ayah mampu memahami peran yang diembannya dalam mengasuh buah hati. Tugas ayah bukan hanya menjadi tulang punggung keluarga yang memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan, melainkan juga bertanggung jawab memberikan pendidikan dan pengajaran terbaik bagi keluarganya. Ibnul Qayyim pernah mengatakan, “Jika ingin melihat anak-anakmu menjadi anak yang baik, maka jadikanlah dirimu sebagai contoh dari kebaikan itu sendiri.”

Anak adalah pendengar yang buruk, tetapi peniru yang ulung. Setiap tindakan yang terlihat dan terdengar oleh pancaindra mereka akan terpatri jelas dalam ingatan, lalu direspons sebagai perintah dalam alam bawah sadar. Perilaku yang muncul pada seorang anak merupakan respons dari stimulus yang diberikan kedua orang tuanya selama masa pengasuhan. Seperti halnya tanaman yang memerlukan air dan cahaya untuk bertumbuh, anak pun membutuhkan kasih sayang serta pengajaran yang baik dan benar agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Dalam sebuah hadis riwayat Imam at-Tirmidzi disebutkan, “Tidak ada pemberian seorang ayah kepada anaknya yang lebih utama daripada (pendidikan) tata krama yang baik.” Hal ini menunjukkan bahwa ayah memegang tanggung jawab besar dalam membentuk budi pekerti anak-anaknya.

Ketika memasuki masa pertumbuhan, anak sangat memerlukan kehadiran seorang ayah sebagai penyeimbang kelembutan seorang ibu. Karena itu, ayah tidak bisa berlepas tangan dari tanggung jawab pengasuhan. Salah satu dampak ketika anak kehilangan figur ayah pada masa pertumbuhannya adalah terciptanya ruang kosong dalam alam bawah sadar anak, yang mendorongnya mencari pelarian untuk menutupi kekosongan tersebut dengan berbagai cara. Menurut data United Nations Children’s Fund (UNICEF), satu dari empat rumah tangga di Indonesia mengalami fatherless, yaitu kurangnya keterlibatan ayah dalam mendidik dan mengasuh anak. Salah satu dampaknya adalah meningkatnya kerentanan anak terhadap kenakalan remaja atau perilaku menyimpang akibat minimnya bimbingan, dukungan, serta teladan positif dari seorang ayah. Oleh karena itu, kehadiran ayah dalam membersamai tumbuh kembang anak merupakan hal yang mutlak dan tidak bisa digantikan oleh apa pun.

Ayah adalah pemimpin keluarga. Di tangannyalah masa depan keluarga ditentukan. Kasih sayangnya mungkin tak selalu terucap, tetapi kehadirannya dalam setiap fase tumbuh dan kembang anak akan menjadi sumber kekuatan yang tak pernah mati, meski raga kelak tak lagi memijak bum