
Ringkasan materi Dr. KH Achmad Musta’in Billah oleh Salamah, Mahasantri Ibnu Katsir 2
Dalam perspektif Al-Qur’an, kebahagiaan sejati dan keberhasilan hidup bukan berasal dari hal-hal duniawi seperti food, fun, dan fashion yang hanya memberi kesenangan sementara bagi jasad dan akan hancur bersama tubuh, melainkan dari hal-hal yang melekat pada jiwa dan ruh. Orang yang paling bahagia adalah mereka yang hatinya selalu terhubung dengan Allah SWT dan memiliki tubuh yang sehat untuk beribadah. Kebahagiaan sejati bukan terletak pada harta, jabatan, atau kesenangan duniawi, melainkan pada kedekatan hati dengan Allah.
Meskipun Jasad manusia memang pada akhirnya akan hancur, namun amal saleh yang dilakukan dengan ikhlas tidak akan musnah. Amal-amal tersebut menjadi sumber cahaya dan pahala yang kekal di akhirat. Salah satu bentuknya adalah cahaya amal, yakni perbuatan baik yang menumbuhkan ketenangan batin dan menjadi penerang di kehidupan akhirat seperti mengumandangkan azan, menghafal Al-Qur’an, bershalawat, berzikir, beristighfar, bersabar, dan bersyukur. Selain itu, terdapat pula sikap kona’ah atau merasa cukup, yaitu keadaan hati yang ridha terhadap takdir Allah, tidak berlebihan dalam mengejar dunia, serta mampu menerima segala ketentuan dengan lapang dada. Amal-amal yang lahir dari keikhlasan dan rasa cukup tersebut memperkuat hubungan spiritual manusia dengan Allah dan meneguhkan kebahagiaan yang bersifat kekal. Sebab, hati yang ikhlas dan ridha akan senantiasa tenteram, meskipun jasad suatu saat akan binasa.
Kebahagiaan jiwa dan ruh lahir dari hubungan yang kuat dengan Allah SWT. Ruh yang tenang senantiasa dipelihara dengan zikir, shalat, dan ketaatan, sedangkan jiwa yang bahagia tumbuh dari keikhlasan, kesabaran, serta kepasrahan terhadap segala ketentuan Allah. Kesadaran bahwa manusia adalah ciptaan paling sempurna menjadikan seorang mukmin berusaha menjaga keseimbangan antara akal, hati, dan amal.
Kebahagiaan juga berkaitan erat dengan doa dan bakti, terutama kepada orang tua. Salah satu doa yang diajarkan Al-Qur’an berbunyi: “Allahummaghfir li wa liwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira” (Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku saat kecil).
Adapun prinsip hidup bahagia dalam Islam adalah menjalankan ajaran Nabi dan Al-Qur’an, menjaga shalat lima waktu tepat waktu — Isya, Subuh, Zuhur, Asar, dan Maghrib — serta mengikhlaskan setiap amal bukan karena dunia, melainkan karena Allah. Seorang mukmin yang bahagia selalu berusaha keras dalam kerja dan doa, tidak lupa bersyukur atas nikmat, serta beristighfar atas dosa-dosa yang telah diperbuat.
Dengan keseimbangan antara amal, doa, dan keikhlasan inilah kebahagiaan hakiki dapat diraih, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat kelak.
