Diplomasi Pakistan: Dari Ambang Kiamat ke Meja Perundingan
Oleh: Inayatullah A. Hasyim
Anggota Komisi Luar Negeri dan Kerjasama Internasional MUI.

Catatan: Artike ini ditulis di sela-sela Halal Bi Halal Baznas dan Laznas di kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, 09 April 2026.

DUNIA nyaris menyaksikan neraka. Pada Selasa pagi, 7 April 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman yang membuat bulu kuduk merinding: “A whole civilisation will die tonight, never to be brought back.” Kalimat itu disampaikan tepat pada hari terakhir tenggat waktu yang ia berikan kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Wakil Presiden J.D. Vance menambahkan minyak ke dalam api dengan pernyataan bahwa AS memiliki “tools in our toolkit that we so far haven’t decided to use.” Bahasa halus untuk senjata nuklir.

Seperti ditulis Khurram Husain dalam esainya “War and peace” di Dawn (9 April 2026), para pengamat yang cermat melihat pesawat pengebom berat lepas landas dari pangkalan di Inggris, menuju Iran dengan waktu tempuh tujuh hingga delapan jam. Itu adalah momen paling mencekam dalam ingatan hidup generasi ini.

Namun, kemudian sesuatu yang tak terduga terjadi. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengirimkan cuitan: kesepakatan gencatan senjata telah dicapai. Beberapa jam kemudian, Washington dan Teheran mengonfirmasi. Perang paling merusak di zaman kita dihentikan sebelum sempat meledak menjadi bencana total. Dan Pakistan—bukan Rusia, bukan China, bukan Turkiye, bukan Qatar dan bukan sekutu Eropa mana pun—memainkan peran utama ini.

Ini bukan prestasi kecil. F.S. Aijazuddin, dalam tulisannya “Another volte-face” di Dawn edisi yang sama, menyebut ini sebagai “Pakistan’s second diplomatic coup,” setelah peran Islamabad dalam mendekatkan AS dan China pada 1971. Sebuah kebanggaan yang sah, tapi juga pertanyaan besar: bagaimana Pakistan melakukannya, dan berapa lama gencatan senjata ini akan bertahan?

Di Balik Layar: China dan Saudi

Duta Besar Pakistan untuk AS, Rizwan Saeed Sheikh, dalam wawancara dengan CNN yang dilaporkan Anwar Iqbal di harian Dawn (9 April 2026), mengakui bahwa keberhasilan ini adalah hasil “intense diplomatic effort that was in progress over the past few weeks.” Namun, ia juga menyebut peran Beijing. “China, from the very start, has also been mentioning the exercise of restraint and affording space for diplomacy,” katanya. Para analis percaya China memberikan jaminan kepada Iran bahwa gencatan senjata tidak akan dimanfaatkan AS untuk serangan mendadak—sebuah faktor kunci yang membuat Teheran bersedia duduk di meja perundingan.

Arab Saudi dan negara-negara Teluk juga dikonsultasikan secara intensif. “More than five and a half million Pakistanis live in the GCC region only,” kata Sheikh. Konsultasi dilakukan “more than once or twice a day” selama fase paling kritis. Riyadh, yang menjadi sasaran serangan Iran terhadap fasilitas energinya, memiliki kepentingan langsung dalam mencegah eskalasi.

Mengapa Trump Mundur?

Khurram Husain menawarkan bacaan menarik: Trump-lah yang sebenarnya mendorong gencatan senjata, bukan karena cinta damai, melainkan karena ia terpojok oleh dampak ekonomi. Perang yang ia mulai dengan asumsi keliru—menuntut “penyerahan tanpa syarat”—akhirnya memaksanya merunduk ke kondisi Iran. Dari 15 poin tuntutan AS, ia akhirnya menerima gencatan senjata diikuti pembicaraan berdasarkan 10 poin Iran. Itu adalah “as close to total capitulation as possible” untuk sebuah perang antara negara adidaya dan negara kekuatan menengah.

Mengapa? Harga minyak. Persediaan minyak global yang ditimbun sepanjang 2025 dan awal 2026 mulai menipis. Jika Selat Hormuz tetap tertutup, lonjakan harga akan menghantam ekonomi AS lebih cepat dan lebih keras daripada negara maju lainnya. Bukan karena ekonomi Amerika tidak tangguh, melainkan karena konsumen AS sangat sensitif terhadap sedikit saja rasa sakit. Harga bensin yang mendekati $5 per galon, hipotek yang meroket—itu bisa mengubah dukungan politik terhadap Trump dalam sekejap.

Israel dan Bom di Lebanon

Namun, jangan buru-buru tepuk tangan. Harian Al-Masry Al-Youm (8 April 2026) melaporkan bahwa Israel justru melancarkan serangan udara terbesar terhadap Lebanon sejak perang dimulai, beberapa jam setelah gencatan senjata AS-Iran diumumkan. Analis politik Palestina, Ayman Al-Raqab, mengatakan kepada surat kabar Kairo itu bahwa serangan Israel mencerminkan penolakan tegas dari pemerintah Benjamin Netanyahu. “Israel tidak bisa menyerang Iran berdasarkan kesepakatan dengan AS, jadi mereka menyerang Lebanon,” ujarnya.

Amnesty International, seperti dikutip Al Jazeera (9 April 2026), mengecam serangan itu dan menyerukan negara-negara untuk “immediately halt the transfer of arms and weapons to Israel.” Gencatan senjata yang dirayakan sebagai kemenangan diplomasi ternyata segera diuji di front lain. Apakah Lebanon termasuk dalam kesepakatan? PM Shehbaz Sharif mengklaim gencatan senjata berlaku untuk “Lebanon and elsewhere.” Namun, fakta di lapangan berkata lain.

Jalan Terjal di Islamabad

Para pihak akan bertemu di Islamabad pada 10 April 2026. Iran datang dengan 10 poin tuntutan yang mencakup jaminan atas lalu lintas Selat Hormuz, pencabutan sanksi, dan penarikan pasukan tempur AS dari pangkalan regional. AS dipimpin langsung oleh Vance. Pakistan menjadi tuan rumah—sebuah kehormatan sekaligus beban. Pertanyaannya: bisakah Pakistan mempertahankan peran sebagai penjaga perdamaian ketika kedua belah pihak sama-sama mengklaim “kemenangan”?

Yang jelas, dunia berutang napas lega pada diplomasi Pakistan. Tapi seperti ditulis F.S. Aijazuddin, mengutip Winston Churchill: “Now this is not the end. It is not even the beginning of the end. But it is, perhaps, the end of the beginning.” Gencatan senjata hanyalah jeda. Perang sejati—di atas meja perundingan—baru akan dimulai hari Jum’at ini, 10 April 2026.

Dan Pakistan, sekali lagi, berada di pusat badai. Semoga kali ini, badai itu membawa hujan perdamaian, bukan banjir petaka.

Wallahua’lam bish showwab

Referensi:
Khurram Husain, “War and peace,” Harian Dawn, Pakistan, edisi 09 April 2026.
F.S. Aijazuddin, “Another volte-face,” Harian Dawn, Pakistan edisi 09 April 2026.
Anwar Iqbal, “Pakistan’s envoy to US acknowledges China’s quiet but persuasive role in Iran talks,” Harian Dawn – Pakistan, 9 April 2026.
“Mufawadat Islam Abad: Salam ‘ala Haql Algham” [Negosiasi Islamabad: Damai di atas Ladang Ranjau], Al-Masry Al-Youm, edisi 08 April 2026.
Amnesty International, pernyataan via Al Jazeera live update, 9 April 2026.