Selayang Pandang Pendirian Rumah Qur’an Ibnu Katsir Probolinggo

Ikhtiar menyebarkan cahaya Al-Qur’an terus dilakukan oleh Ibnu Katsir, salah satunya melalui pendirian Rumah Qur’an Ibnu Katsir Probolinggo. Program ini menjadi langkah strategis dalam memperluas dakwah Al-Qur’an dengan pendekatan yang lebih sederhana, kolaboratif, dan menyentuh masyarakat secara langsung.

Kisah pendirian Rumah Qur’an ini bermula sekitar tiga tahun yang lalu, ketika salah satu penggerak dakwah di Probolinggo, ustadz Imam Mudzakkir, menghubungi pihak Yayasan Ibnu Katsir.

Disampaikan bahwa terdapat seorang wakif yang memiliki sebidang tanah strategis seluas kurang lebih 3.000 meter persegi di tengah kota Probolinggo, lengkap dengan sumber mata air alami. Informasi ini kemudian ditindaklanjuti hingga terjalin komunikasi dengan wakif, yaitu Ibu dr. Nurul. Proses berlanjut hingga akhirnya dilakukan ikrar wakaf secara resmi melalui KUA, sehingga tanah tersebut sah menjadi aset wakaf yang dikelola oleh Ibnu Katsir. Dari sinilah awal mula berdirinya Rumah Qur’an Ibnu Katsir Probolinggo.

Menariknya, lembaga ini tidak dibangun dalam bentuk pesantren seperti pada umumnya, melainkan dalam bentuk Rumah Qur’an.

Hal ini bukan tanpa alasan. Pendekatan Rumah Qur’an dipilih agar tidak “menyaingi” pesantren atau lembaga yang sudah ada, lebih fleksibel dan mudah berkolaborasi, fokus pada pembinaan Al-Qur’an, khususnya tahfizh

Dengan konsep ini, Rumah Qur’an Ibnu Katsir hadir sebagai pelengkap, bukan pesaing. Ia menjadi tempat penguatan hafalan, pembinaan bacaan, serta pusat aktivitas Al-Qur’an yang bisa bersinergi denganberbagai lembaga pendidikan dan masyarakat sekitar.

Dalam proses peletakan awal hingga pengembangan, dukungan datang dari berbagai unsur masyarakat, mulai dari perwakilan yayasan, keluarga wakif, aparat kelurahan, Babinsa, Ketua RW, tokoh masyarakat dan takmir masjid sekitar

Salah satu keunikan Rumah Qur’an Ibnu Katsir Probolinggo adalah konsep yang diusung, yaitu
menggabungkan keindahan alam dengan aktivitas Al-Qur’an.

Karena lokasi memiliki sumber mata air alami, maka ke depan akan dikembangkan konsep RUmah Qur’an dengan gazebo untuk halaqah dan pembinaan, rumah musyrif sebagai pusat pengelolaan, dan rea taman alami dengan aliran air dan ikan

Bayangkan suasana belajar Al-Qur’an di tengah gemericik air, udara segar, dan lingkungan yang asri. Tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menghadirkan pengalaman wisata ruhani.

Dalam jangka panjang, Rumah Qur’an ini juga direncanakan menjadi rumah transit Qur’an. Secara geografis, Probolinggo berada di jalur strategis antara Surabaya dan Jember. Hal ini membuka peluang besar untuk menjadikan lokasi ini sebagai tempat singgah para dai, pengajar, atau tamu dakwah yang melakukan perjalanan antar kota. Dengan demikian, Rumah Qur’an tidak hanya menjadi pusat pembinaan lokal, tetapi juga bagian dari jaringan dakwah yang lebih luas.

Secara umum, masyarakat menyambut baik kehadiran Rumah Qur’an ini. Dukungan terlihat dari keterlibatan aktif warga sekitar serta antusiasme dalam proses awal pembangunan.

Meski demikian, dinamika tetap ada. Sebagian kecil masyarakat yang belum memahami konsep secara utuh terkadang menunjukkan sikap yang berbeda. Namun hal ini dipandang sebagai sesuatu yang wajar dalam setiap proses pembangunan.

Maka dari itu, upaya komunikasi, sosialisasi, dan silaturahmi dengan masyarakat terus dilakukan oleh salah satu alumni yang diberikan amanah untuk mengelola Rumah Qur’an Probolinggo tersebut, yaitu ustadz Rustam beserta istrinya.
Harapan Besar: Manfaat untuk Semua

Rumah Qur’an Ibnu Katsir Probolinggo diharapkan menjadi tempat yang membawa manfaat luas, baik bagi masyarakat sekitar maupun masyarakat umum.

Dengan konsep yang santai dan alami, masyarakat bisa berkumpul, belajar, dan menghafal Al-Qur’an dalam suasana yang nyaman—bahkan sambil menikmati kebersamaan sederhana seperti minum teh atau kopi di gazebo.

Lebih jauh lagi, program ini diharapkan menjadi bagian dari upaya besar dalam membangun generasi yang dekat dengan Al-Qur’an, serta memperkuat nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat.