Hijrah Mindset : Kisah Stoples Tua dan Sebatang Paku

Kisah ini bermula jauh ke belakang, ketika Ustadz Agus Rohmawan masih berstatus sebagai seorang mahasiswa. Di masa-masa mudanya itu, ia memiliki rutinitas sehat yang kerap dilakukannya: berlari pagi. Langkah kaki mudanya biasa menelusuri rute dari Masjid Kampus, melintasi Jalan Kalimantan, Jalan Jawa, Jalan Riau, hingga Jalan Mastrip, sebelum akhirnya kembali ke sebuah kontrakan sederhana yang berada dekat dengan Fakultas Pertanian Universitas Jember, sebuah tempat tinggal yang menempel pada Masjid Nurul Haq, yang kerap disebutnya sebagai Masjid Pertanian.

Namun, aktivitas lari pagi itu bukan sekadar urusan membakar kalori atau menjaga stamina. Ada sebuah nilai hadits yang telah tertanam kuat dan ia bawa sejak masa lajangnya. Setiap kali matanya menangkap sepotong paku yang mencuat, baut yang terlepas, atau mur berkarat di aspal jalan—benda-benda kecil yang sering diabaikan orang namun menyimpan potensi bahaya bagi pengendara dan pejalan kaki—ia akan berhenti. Benda-benda itu tidak hanya ia singkirkan ke tepi jalan. Ia memungutnya, memasukkannya ke dalam saku, dan membawanya pulang untuk dikumpulkan di dalam sebuah stoples khusus.

Ketika masa lajangnya usai dan ia melangkah ke gerbang pernikahan, wadah kaca itu tidak ditinggalkan. Stoples tersebut ikut diboyong ke rumah barunya, terus diisi, dan perlahan-lahan bertransformasi menjadi semacam lumbung kecil yang bermanfaat bagi siapa saja. Isi di dalam stoples itu terus keluar masuk, dipakai oleh anggota keluarga atau tetangga yang membutuhkan. Tanpa terasa, kebiasaan yang tampaknya sepele itu telah berjalan konsisten selama 32 tahun. Sebuah stoples tua yang menjadi saksi bisu atas sebuah konsistensi yang terjaga melintasi dekade.

Bagi sebagian orang, mengumpulkan paku atau baut bekas mungkin terlihat sebagai pekerjaan yang kurang kerjaan. Namun, Ustadz Agus kerap menyaksikan bagaimana Allah SWT melipatgandakan nilai dari amalan kecil tersebut lewat ketepatan waktu yang menakjubkan. Sering kali, dalam momen-momen mendesak, barang yang dicari justru tersedia di dalam stoples itu. Pernah suatu ketika, ia sangat membutuhkan empat pasang baut dan mur ukuran 10. Saat memeriksa wadah tuanya, ia mendapati jumlah dan ukuran yang tersedia persis sama dengan apa yang ia perlukan.

Di atas kertas, perkara ini mungkin terlihat remeh. Di zaman sekarang, siapapun tentu mampu membeli sebutir baut kecil ke toko bangunan. Namun, jika dikonversi ke dalam nilai waktu dan tenaga, ada sebuah kemenangan efisiensi di sana. Seseorang tidak perlu menyalakan kendaraan, membuang waktu di jalan, dan mencari toko hanya demi satu barang kecil yang urgen. Kejadian-kejadian penuh kebetulan yang presisi ini terjadi berulang kali dalam hidupnya, seolah-olah menjadi cara tersembunyi dari Allah SWT untuk menegaskan satu pelajaran penting: tidak boleh ada yang mubazir, karena menyia-nyiakan sesuatu adalah karib dari perbuatan setan.

Melalui stoples kecil itu, Ustadz Agus merenungkan sebuah ironi yang sering kali menjangkiti kaum muslimin saat ini. Di tengah riuhnya pembicaraan tentang agama, tidak sedikit yang justru enggan atau malas mengamalkan sunnah-sunnah Nabi Muhammad SAW yang sifatnya praktis dan sosial. Banyak yang lupa bahwa mengamalkan satu hadits saja dengan niat tulus mengikuti Rasulullah (ittiba’ur rasul), dampak spiritual dan sosialnya bisa sangat luar biasa, sekalipun perbuatannya terkesan sepele seperti menyingkirkan duri di jalanan.

Rasulullah SAW sendiri senantiasa mendidik umatnya agar kebiasaan berbuat baik itu mengakar kuat, dimulai dari perubahan-perubahan kecil. Pola pendidikan ini tercermin dalam salah satu pesan mendalam beliau: seandainya hari kiamat telah tegak dan di tangan salah seorang di antara kalian terdapat bibit kurma, maka jika ia mampu menanamnya sebelum kiamat terjadi, hendaklah ia menanamnya. Sebuah instruksi untuk tetap produktif dan menabur kebaikan bahkan di detik-detik terakhir kehidupan dunia, tanpa perlu menunggu orang lain bergerak.

Pola perubahan inilah yang kemudian sering dirumuskan ke dalam konsep sederhana namun kuat: Mulai dari hal yang kecil, mulai dari diri sendiri (ibda’ binafsik), dan mulai saat ini juga. Namun, Ustadz Agus menekankan bahwa jangan pernah berharap sebuah perubahan perilaku akan bersifat permanen jika tidak diawali dengan perubahan cara pandang atau mindset.

Baginya, meluruskan pemahaman kaum muslimin terhadap sunnah adalah hal yang fundamental. Sunnah bukan sekadar pilihan hukum yang jika ditinggalkan tidak berdampak apa-apa, melainkan sebuah bentuk ibadah yang mendatangkan berkah nyata, baik di dunia maupun di akhirat. Mengamalkan sunnah adalah bagian dari syariat, dan sebagaimana yang ditegaskan oleh para ulama dalam kaidah syara: “Haitsuma takunu syar’a takunu maslahah”—di mana pun syariat itu ditegakkan, di sanalah kemaslahatan akan terwujud.

Pada akhirnya, kisah tentang sebatang paku dalam stoples tua ini membawa kita pada satu kesimpulan besar. Perubahan totalitas dalam hidup tidak harus menunggu momentum yang megah. Ia harus dimulai dari sebuah pergeseran paradigma, sebuah Hijrah Mindset, sebagaimana yang diisyaratkan dalam Al-Qur’an Surat Ar-Ra’d ayat 11 bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Keberkahan hidup sering kali tidak ditemukan dalam riuh rendah pujian manusia, melainkan tersimpan rapat di dalam stoples keikhlasan dari amalan-amalan kecil yang konsisten dijalankan.