
oleh : M. Ilyas
Setiap penghujung tahun membawa kita pada momen hening untuk menengok kebelakang: sudah sejauh mana kita melangkah, seberapa banyak waktu terbuang, dan apa saja yang telah kita capai. Namun sering kali, refleksi itu berujung pada satu kesadaran pahit banyak waktu berlalu sia-sia karena kelalaian dan distraksi.
Kita hidup di zaman yang serba cepat, penuh notifikasi, dan dikelilingi oleh hiburan instan. Tanpa sadar, kita kehilangan fokus dan semangat untuk memperbaiki diri. Rasa malas yang kecil berubah menjadi kebiasaan, dan kebiasaan itu perlahan membentuk nasib.
Penyakit terbesar manusia modern bukan kekurangan kemampuan, tetapi kelemahan dalam manajemen diri. Kita sering beralasan “belum sempat” padahal waktu kita habis untuk hal yang tidak mendekatkan kita pada tujuan.
Allah Ta‘ala sudah mengingatkan dalam firman-Nya:
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran..” (QS. Al-‘Ashr: 1–3)
Surat pendek ini menjadi peringatan abadi bahwa waktu adalah modal utama hidup. Barang siapa menyia-nyiakan waktu, ia sejatinya sedang merugi.
Namun mengapa banyak orang tahu pentingnya waktu, tapi tetap lalai? Jawabannya karena malas dan distraksi eksternal. Pikiran yang tidak terlatih mudah dialihkan. Media sosial, hiburan, dan kenyamanan semu mencuri fokus kita tanpa disadari.
Coba kita lihat orang-orang besar dalam sejarah. Nabi Muhammad ﷺ adalahteladan utama dalam disiplin dan manajemen waktu. Beliau membagi hari dengan sangat teratur: waktu ibadah, waktu bersama keluarga, waktu berperang, waktu mengajar, dan waktu beristirahat. Tidak ada yang terbuang tanpa makna.
Dalam sebuah hadits riwayat Al-Hakim, Rasulullah ﷺ bersabda:
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ:
“Gunakanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al-Hakim, Al-Baihaqi)
Hadits ini menegaskan pentingnya kesadaran waktu dan momentum. Orang sukses adalah mereka yang menghargai setiap detik seolah itu kesempatan terakhir.
Tokoh modern seperti Elon Musk dan Jack Ma juga menunjukkan nilai yang sama. Mereka bukan sekadar memiliki ide besar, tapi mampu mengatur waktu dan energi secara disiplin. Bahkan, Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin menulis: “Hari ini adalah wadah amal, dan besok wadah hasil. Barang siapa hari ini sibuk tanpa arah, maka besok ia menuai penyesalan.”
Ketika seseorang mampu mengendalikan dirinya, ia sedang membuka pintu kesuksesan jangka panjang. Disiplin melatih mental, melatih tubuh, dan melatih fokus. Tanpa disiplin, bakat besar pun akan tenggelam dalam ketidakteraturan.
Banyak yang berpikir sukses datang dari keberuntungan. Padahal, keberuntungan hanyalah buah dari kebiasaan yang teratur. Orang yang pandai mengatur waktu bukan hanya lebih produktif, tetapi juga lebih tenang dan percaya diri karena tahu arah hidupnya.
Banyak yang ingin berubah, tapi merasa langkah pertama terlalu berat. Di sinilah rahasianya: mulailah dengan dua menit.
Prinsip “Two-Minute Rule” mengajarkan: jika sebuah tindakan bisa dilakukan kurang dari dua menit, lakukan sekarang. Dan jika ingin membangun kebiasaan, cukuplakukan selama dua menit setiap hari.
Misalnya, membaca satu ayat Al-Qur’an, menulis jurnal singkat, atau merapikan meja kerja. Sekilas tampak kecil, tapi kebiasaan ini menumbuhkan momentum positif. Otak mulai terbiasa dengan pola disiplin dan konsistensi.
Dalam Al-Qur’an, Allah memuji orang yang berbuat terus-menerus walau sedikit, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Artinya, keberhasilan bukan dari intensitas sesaat, tapi dari istiqamah dalam langkah-langkah kecil.
Setiap perubahan kecil menular ke aspek hidup lain. Saat kita bangun lebih pagi, produktivitas meningkat. Saat kita menunda scrolling media sosial, fokus bertambah. Perubahan 10% pada satu kebiasaan dapat memberi dampak 90% terhadap hasil akhir hidup.
Konsistensi menumbuhkan keyakinan diri. Keyakinan diri melahirkan energi baru. Dan energi itu membuat kita terus bergerak. Dalam lima tahun, mereka yang setiap hariberlatih disiplin akan jauh meninggalkan yang hanya menunggu inspirasi datang.
Hasil nyata dari perbaikan diri bukan sekadar capaian materi, tapi rasa percaya diri dan energi hidup yang stabil. Seseorang yang mampu mengatur waktunya akan lebih siap menghadapi perubahan, lebih sabar dalam ujian, dan lebih fokus pada pertumbuhan.
Ia tidak lagi dikuasai oleh malas atau distraksi, karena ia tahu setiap menit adalah investasi menuju masa depan. Dan dari sinilah lahir pribadi yang tangguh, rendah hati, dan produktif.
Bayangkan diri kita lima tahun dari sekarang. Apa yang bisa kita banggakan? Apakah kita masih bergulat dengan kebiasaan lama, atau sudah hidup dengan arah yang jelas?
Sukses besar tidak muncul dalam semalam, tapi tumbuh dari disiplin kecil yang ditanam setiap hari. Setiap detik di penghujung tahun ini adalah undangan untuk memperbaiki diri, menata ulang waktu, dan memperkuat niat menuju versi terbaik dari diri kita.
Tidak ada rahasia ajaib dalam kesuksesan selain dua hal: manajemen waktu dan disiplin. Keduanya adalah pilar utama bagi siapa pun yang ingin membangun hidup penuh makna.
Sebagaimana ucapan hikmah dari Umar bin Khaththab رضي الله عنه:
“Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum ditimbang untukmu.”
Kini, saat tahun berganti, mari kita berhenti sejenak bukan untuk menyesal, tetapi untuk menata ulang arah hidup. Mulailah dari hal kecil, dua menit saja, tapi terus-menerus. Maka lima tahun dari sekarang, kita akan tersenyum, karena telah menjadi pribadi yang tumbuh, percaya diri, dan terus berenergi.
