
Oleh: Inayatullah A Hasyim
Sejarah Islam diwarnai oleh tokoh-tokoh yang perjalanan hidunya bagai lukisan dramatis, penuh warna kontras antara gelap dan terang. Salah satu masterpiece dari lukisan itu adalah sosok Ikrimah bin Amr bin Hisyam, lebih dikenal sebagai Ikrimah bin Abu Jahal. Namanya terukir indah dalam tinta emas para sahabat Nabi, namun untuk mencapainya, ia harus melalui jalan terjal penuh onak dan duri permusuhan, serta ujian dari saudara-saudara seimannya sendiri.
Awalnya, Ikrimah adalah bara api perlawanan terhadap dakwah Rasulullah SAW. Darahnya adalah darah Abu Jahal, sang Fir’aun umat ini. Warisan kebencian ayahnya seakan mengalir deras dalam nadinya. Ikrimah menjadi musuh bebuyutan yang gigih, memimpin pasukan demi pasukan untuk menumpas kaum Muslimin.
Puncaknya adalah ketika Nabi Muhammad SAW menaklukkan Kota Mekah (Fathu Makkah). Saat semua orang berbondong-bondong menyatakan masuk Islam, Ikrimah justru melarikan diri ke Yaman, lalu hendak mengarungi lautan menuju Habasyah. Namun, rahmat Allah SWT Mahaluas. Ummu Hakim binti Al-Harits, istri Ikrimah yang telah memeluk Islam, memohon dan mendapatkan jaminan keamanan dari Rasulullah SAW untuk suaminya.
Ia pun menyusul Ikrimah dan membawanya kembali. Dengan perasaan gamang, Ikrimah menghadap Rasulullah SAW. Melihatnya datang, Rasulullah SAW bersabda kepada para sahabatnya dengan sabda yang agung:
يَأْتِيكُمْ مُهَاجِرُ اللَّهِ وَرَسُولِهِ، فَلَا تَسُبُّوا أَبَاهُ، فَسَبُّ الْمَيِّتِ يُؤْذِي الْحَيَّ، وَلَا يَبْلُغُ الْمَيِّتَ
“Akan datang kepada kalian seorang Muhajir (orang yang berhijrah) karena Allah dan Rasul-Nya. Maka, janganlah kalian mencaci ayahnya. Sesungguhnya mencaci orang yang telah mati akan menyakiti orang yang hidup, dan tidak akan sampai kepada orang yang mati.” (HR. Al-Hakim).
Betapa agungnya akhlak Nabi SAW. Beliau tidak hanya memberikan amnesti, tetapi juga melindungi harga diri Ikrimah.
Sejak saat itu, Ikrimah berubah total. Ia bersumpah di hadapan Rasulullah SAW bahwa setiap infak yang pernah ia keluarkan untuk memerangi Islam, akan ia ganti dengan infak dua kali lipat untuk membela Islam. Dan setiap perang yang ia ikuti untuk memerangi Islam, akan ia ganti dengan jihad dua kali lipat di jalan Allah.
Ikrimah menepati janjinya. Ia menjadi Muslim yang taat dan pemberani. Namun, jalan taubatnya tidak selalu mulus. Noda masa lalunya yang kelam terkadang masih menjadi bahan bisikan, hingga suatu peristiwa mengujinya.
Pasca penaklukan Mekah, terjadi Perang Hunain. Allah menganugerahkan kemenangan dan harta rampasan perang (ghanimah) yang sangat melimpah kepada kaum Muslimin. Saat itu, Rasulullah SAW memberikan bagian yang cukup besar dari harta rampasan itu kepada para pemimpin Quraisy yang baru masuk Islam (mu’allafatu qulubuhum), dengan tujuan memperkuat keimanan dan loyalitas mereka. Ikrimah, yang merupakan mantan tokoh Quraisy yang sangat terpandang, termasuk yang menerima pemberian yang besar tersebut.
Pemberian ini tidak luput dari perhatian beberapa sahabat Anshar dan lainnya. Terdengar suara-suara sumbang dan rasa tidak puas. Bagaimana mungkin orang yang kemarin masih memerangi Islam, hari ini justru mendapatkan bagian yang begitu besar? Hati mereka diuji oleh perasaan ini, sebuah kecemburuan yang wajar sebagai manusia.
Mendengar hal ini, Rasulullah SAW pun membela kebijakannya dengan penuh hikmah. Dalam sebuah riwayat, beliau bersabda:
إِنِّي أُعْطِي رِجَالًا حَدِيثِي عَهْدٍ بِكُفْرٍ أَتَأَلَّفُهُمْ، أَمَا تَرْضَوْنَ أَنْ يَذْهَبَ النَّاسُ بِالْأَمْوَالِ وَتَرْجِعُونَ إِلَى رِحَالِكُمْ بِرَسُولِ اللَّهِ؟ فَوَاللَّهِ لَمَا تَنْقَلِبُونَ بِهِ خَيْرٌ مِمَّا يَنْقَلِبُونَ بِهِ، إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ بَعْدِي أُثْرَةً شَدِيدَةً فَاصْبِرُوا حَتَّى تَلْقَوُا اللَّهَ وَرَسُولَهُ، فَإِنِّي فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ
“Sesungguhnya aku memberikan (harta) kepada orang-orang yang baru saja meninggalkan kekafiran (masuk Islam) untuk menarik hati mereka. Apakah kalian tidak rela, jika orang-orang pergi membawa harta (dunia), sedangkan kalian pulang ke rumah-rumah kalian membawa Rasulullah? Demi Allah, apa yang kalian bawa pulang (iman dan cinta kepada Nabi) itu lebih baik daripada apa yang mereka bawa pulang (harta). Sesungguhnya kalian akan melihat setelahku ‘atsarah’ (kesenjangan, favoritisme, dan ketidakadilan) yang sangat menyakitkan. Maka bersabarlah hingga kalian bertemu dengan Allah dan Rasul-Nya (di akhirat). Sesungguhnya aku akan mendahului kalian di telaga (Al-Haudh).” (HR Imam Ahmad bin Hanbal)
Sabda Nabi ini adalah pelajaran besar tentang strategi dakwah dan kebijaksanaan (wisdom) seorang pemimpin. Pemberian kepada Ikrimah dan yang lainnya bukanlah bentuk pilih kasih, melainkan investasi untuk memperkuat barisan Muslimin dan melemahkan barisan musuh. Rasulullah SAW melihat masa depan, sementara sebagian sahabat terpaku pada masa lalu Ikrimah.
Bagi Ikrimah sendiri, pemberian ini justru menjadi cambuk untuk lebih membuktikan kesungguhan taubatnya. Ia tidak ingin dianggap hanya mengejar dunia. Konon, ia pun kemudian membagikan kembali hartanya sebagai bentuk kesalehan dan kedermawanannya yang baru, menunjukkan bahwa tujuan hidupnya bukan lagi harta, tetapi ridha Allah.
Ikrimah pun terus berjuang. Hidupnya hanya diabdikan untuk menebus kesalahan masa lalu. Ia berjihad di jalan Allah dengan segenap jiwa raga, seolah tak takut mati.
Puncak pengabdiannya terjadi pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, saat memerangi kaum murtad. Ikrimah meminta izin untuk memimpin pasukan memerangi Musailamah al-Kadzzab di Yamamah. Abu Bakar mengizinkannya dengan pesan, “Jangan engkau yang memimpin pasukan, karena aku khawatir engkau akan terbunuh.” Namun, Ikrimah bersikeras.
Dalam pertempuran dahsyat di Yamamah, ia melihat panji-panji kaum Muslimin hampir roboh. Saat itu, ia berteriak lantang, “Aku adalah putra Abu Jahal! Aku adalah anak musuh Tuhan kalian dahulu! Majulah, hadapilah maut!” Teriakan itu adalah pengingat akan noda hitam masa lalunya yang harus ditebus dengan syahid.
Dengan gagah berani, ia menerjang musuh sendirian hingga tubuhnya penuh luka. Ia akhirnya gugur sebagai syuhada. Janjinya untuk mati di jalan Allah terpenuhi.
Kisah Ikrimah dan harta Hunain mengajarkan kita bahwa taubat yang sejati akan diikuti dengan ujian, baik dari dalam diri maupun dari orang lain. Ia juga mengajarkan kita untuk tidak memandang seseorang dari masa lalunya, tetapi dari kesungguhan iman dan amalnya sekarang, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal perbuatan kalian.” (HR. Muslim).
Allah SWT melihat ketulusan hati Ikrimah yang berubah, kesungguhan amalnya untuk bertaubat, dan pengorbanannya yang tanpa batas. Itulah yang mengangkat derajatnya menjadi salah satu sahabat yang mulia.
Dari Ikrimah kita belajar bahwa pintu taubat selalu terbuka, sebesar apa pun dosa kita. Kita juga belajar untuk tidak iri pada karunia yang Allah berikan kepada orang lain, karena hikmah di baliknya mungkin tidak kita ketahui. Yang terpenting adalah membersihkan hati dan bersungguh-sungguh dalam beramal.
Ikrimah bin Abu Jahal, sang Muhajir karena Allah dan Rasul-Nya, telah membuktikannya. Semoga kita dapat memetik hikmah dari perjalanan hidupnya yang penuh inspirasi.
Wallahua’lam bish showab
