
By : Moch. Ilyas
Ramadan selalu datang dengan sambutan meriah. Masjid dipenuhi jamaah pada malam-malam awal, grup percakapan riuh dengan ucapan selamat berpuasa, dan meja berbuka tersaji lebih cepat dari sajadah dibentangkan. Tetapi ada pertanyaan besar yang jarang diajukan:
Mengapa begitu banyak yang “berpuasa”, namun begitu sedikit yang “berubah”?
Jika puasa adalah perisai, mengapa banyak yang tetap terluka oleh dosa?
Jika Ramadan adalah musim ampunan, mengapa banyak yang tetap pulang tanpa pengampunan?
Jika Al-Qur’an adalah ruh Ramadan, mengapa ia justru paling sering ditinggalkan?. Inilah paradoks yang menggetarkan: ritualnya hidup, nilainya mati. Ramadan ramai, tetapi panen pahala banyak yang gagal total.
Tulisan ini bukan sekadar nasihat, melainkan evaluasi darurat : daftar kelalaian yang terus berulang, kekeliruan yang dianggap wajar, dan peluang ibadah yang dibiarkan lewat begitu saja, padahal Nabi ﷺ sudah menyalakan lampu penunjuk jalan 14 abad yang lalu.
1. Lisan masih aktif memproduksi dosa
Rasulullah ﷺ menegaskan:
مَن لَم يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ وَالجَهْلَ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta, perbuatan dusta, dan kebodohan, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.”
Ini adalah peringatan kelas berat. Artinya: jika seseorang berpuasa tetapi lisannya tetap menebar hoaks, ghibah, atau kata-kata yang merusak, maka puasanya turun kasta menjadi sekadar ritual fisik—bukan ibadah yang bernilai di sisi Allah.
2. Puasa dijadikan simbol, bukan fungsi
Dalam riwayat lain:
الصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَلا يَرْفُثْ وَلا يَجْهَلْ
“Puasa itu perisai, maka jangan berkata vulgar dan jangan bertindak bodoh.”
Puasa adalah sistem perlindungan. Ia bukan sekadar label, tetapi benteng yang harus diaktifkan. Namun banyak yang menjaga makan, tetapi tidak menjaga mata, adab, emosi, dan perilaku.
3. Tidak menjaga adab saat konflik
Nabi ﷺ mengajarkan:
فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ
“Jika seseorang mencelanya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia berkata: ‘Aku sedang berpuasa.’”
Fakta yang sering terjadi: provokasi kecil dibalas reaksi besar. Kritik ringan memicu debat berat. Energi emosi habis, energi ibadah terlewat.
4. Banyak yang hanya mendapat lapar
Rasulullah ﷺ menggambarkan:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ
“Betapa banyak orang berpuasa, namun tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar saja.”
Sebabnya jelas : puasa perut login, puasa anggota tubuh logout.
5. Sahur dilewatkan, padahal ia gerbang keberkahan
Nabi ﷺ bersabda:
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً
“Makan sahurlah, karena pada sahur terdapat keberkahan.”
Sering terjadi karena: begadang tanpa manfaat, bangun kesiangan, akhirnya sahur hilang, dan keberkahan tidak sempat check-in.
6. Qiyam Ramadan kalah oleh kenyang
Janji Nabi ﷺ:
مَن قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنْبِهِ
“Siapa yang menegakkan shalat malam di bulan Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Namun masjid sering sunyi setelah pekan pertama. Qiyam menjadi nostalgia, bukan agenda.
7. Lailatul Qodar tersisih agenda dunia
Nabi ﷺ menuntun:
الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Carilah Lailatul Qadr di sepuluh malam terakhir Ramadan.”
Namun sebagian umat sibuk belanja, perjalanan, dan persiapan hari raya hingga lupa malam bernilai 1.000 bulan ini.
8. Sedekah menurun, padahal Nabi ﷺ menaikkannya
Riwayat menegaskan:
كَانَ رَسُولُ الله ﷺ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ…
“Rasulullah ﷺ adalah manusia paling dermawan, dan puncak kedermawanan beliau terjadi di bulan Ramadan.”
Ramadan adalah bulan transfer kebaikan, bukan menahan pemberian.
9. Al-Qur’an jarang dibuka
Kebiasaan Nabi ﷺ:
وَكَانَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ
“Jibril menemui Nabi ﷺ setiap malam di Ramadan, lalu keduanya saling mempelajari Al-Qur’an.”
Namun realitasnya : Al-Qur’an dibuka sesekali, dilalaikan berkali-kali.
Jangan biarkan Ramadan hanya singgah di perut, bukan di akhlak
Ramadan adalah momentum perbaikan menyeluruh, bukan ritual parsial.
Maka peringatan ini layak digaungkan kembali:
Puasa bukan sekadar menahan makan, tetapi menahan dosa. Ramadan bukan sekadar menunggu berbuka, tetapi menunggu perubahan.
Semoga Ramadan berikutnya bukan hanya hadir di kalender, tetapi hadir dalam karakter, adab, dan amal kita. Selamat Menjalankan Ibadah puasa.
