
Ringkasan materi ustadz Faisal Hani Abdullah Benseh oleh Desita Aisyah, Mahasantriwati Ibnu Katsir 2
Di era modern, seiring pesatnya perkembangan teknologi, kita secara tidak langsung mengalami pengikisan nilai—baik secara internal maupun eksternal—yang menjauhkan dari kehidupan mulia yang berpedoman pada Al-Qur’an. Kerusakan moral di Indonesia, sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, kini bahkan menjadi sorotan internasional. Namun demikian, kondisi ini seharusnya tidak membuat kita sibuk saling menuding pihak yang dianggap bersalah, sebab tanpa disadari kita sendiri telah menjadi bagian dari penyumbang kerusakan tersebut.
Setiap umat pasti telah didatangi seorang pembawa peringatan. Gambaran kecilnya, hadirnya para dai di tiap desa, kota, dan berbagai tempat lainnya yang senantiasa menyeru kepada kebaikan. Namun, tidak sedikit yang mengabaikan seruan tersebut, hingga akhirnya musibah datang sebagai konsekuensi atas perbuatan mereka sendiri. Al-Qur’an sering kali hanya didengar dalam forum pengajian, lalu ditinggalkan tanpa diamalkan. Oleh karena itu, tanpa disadari, kita turut menjadi bagian dari penyumbang kerusakan negeri ini.
QS. Al-A‘raf ayat 35 menjelaskan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk dan pedoman hidup untuk meraih kesuksesan di dunia dan akhirat. Apabila petunjuk tersebut diikuti dengan memperbaiki diri serta bertakwa, Allah menjanjikan kehidupan tanpa rasa takut dan kesedihan. Jika hal ini diwujudkan secara bersama-sama, niscaya negeri ini akan menjadi negara yang merdeka dan mandiri, dengan tingkat kemiskinan serta kejahatan yang semakin berkurang, dan tidak bergantung pada negara lain dalam mengelola sumber daya alam yang dimiliki.
Hal tersebut dapat diwujudkan dengan memulai perbaikan dari diri sendiri, di antaranya dengan menjaga shalat tepat waktu dan berjamaah. Kebiasaan ini akan membantu terwujudnya keluarga Qur’ani, sebagaimana umat terdahulu diperintahkan untuk menegakkan shalat berjamaah, baik laki-laki maupun perempuan. Pada hakikatnya, shalat mencegah dari perbuatan keji dan munkar (QS. At-Tahrim: 6, Al-Baqarah: 43, Ali ‘Imran: 43).
Ketika liku-liku kehidupan dijalani dengan mengikuti tuntunan Al-Qur’an, Allah memberikan jaminan tidak adanya rasa takut dan sedih, baik di dunia maupun di akhirat, sebagaimana yang Allah berikan kepada para wali-Nya. Mengapa demikian?
Pertama, mereka tidak memiliki keraguan terhadap Allah.
Allah berfirman dalam QS. Al-An‘am ayat 48:
“Barang siapa yang beriman dan melakukan perbaikan, maka tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka tidak bersedih hati.”
QS. Yunus ayat 62:
“Ingatlah, sesungguhnya para wali Allah itu tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka tidak bersedih hati.”
Kedua, mereka yakin bahwa janji Allah pasti benar.
QS. Adz-Dzariyat ayat 5:
“Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti benar.”
QS. Adz-Dzariyat ayat 23:
“Maka demi Tuhan langit dan bumi, sungguh, apa yang dijanjikan itu pasti terjadi, sebagaimana perkataan yang kamu ucapkan.”
Ketiga, Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya.
QS. Ar-Ra‘d ayat 31:
“Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji-Nya.”
Keempat, mengikuti Rasulullah ﷺ dan istiqamah.
QS. Al-Ahqaf ayat 13:
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka istiqamah, maka tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka tidak bersedih hati.”
QS. Ali ‘Imran ayat 31:
“Katakanlah (Muhammad), jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Ketika Al-Qur’an telah benar-benar menjadi pedoman dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat, maka akan lahir generasi beriman dan berakhlak Qur’ani sebagai pembawa perubahan menuju Indonesia Emas sebagaimana cita-cita bersama. Oleh karena itu, penting untuk disadari bahwa perubahan besar selalu berawal dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten dan dilandasi keikhlasan semata karena Allah.
