
Tepat lima belas tahun sejak berdirinya pada 2011, Yayasan Ibnu Katsir menggelar Konsolidasi Akbar dan Doa Bersama yang diikuti oleh seluruh civitas yayasan dari berbagai penjuru negeri. Acara yang digagas dan diinisiasi oleh Himpunan Alumni Ma’had Ibnu Katsir (HAMKA) ini berlangsung secara virtual melalui platform Zoom pada 15 Mei 2026, mempertemukan para pendiri, pengurus, alumni, santri, asatidz, dan para donatur dalam satu majelis yang penuh keberkahan.
Acara ini digelar bertepatan dengan hari Jumat sore, di bulan Dzulqa’dah, salah satu bulan haram yang dimuliakan dalam Islam. Ustadz Agus Rohmawan selaku Wakil Ketua Yayasan membuka sambutannya dengan mengingatkan betapa istimewanya waktu pelaksanaan acara ini.
“Kita adalah insyaallah yang dipilih oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, hadir pada waktu yang diberkahi Allah. Ini pasti diberkahi, hari Jumat, waktu ashar, di bulan haram,” ujar beliau membuka sambutan.
Ustadz Agus mengajak seluruh peserta untuk meniatkan kehadiran mereka sebagai bentuk silaturahim, refleksi milad, sekaligus wujud syukur atas segala nikmat dan karunia Allah selama lima belas tahun perjalanan Yayasan Ibnu Katsir.
Dalam sambutannya, Ustadz Agus Rohmawan secara khusus mengingatkan seluruh alumni dan santri akan semangat awal para pendiri yayasan yang mendirikan pesantren Al-Qur’an ini dengan satu niat: lillahi ta’ala, murni karena Allah, demi mencetak kader-kader ulama dan dai Al-Qur’an yang akan berkhidmat untuk bangsa dan agama.
“Angka lima belas tahun Ibnu Katsir ini berbalut merah putih, untuk mengingatkan sejarah emas kita. Kita ingin meraih keemasan dan kegemilangan,” tuturnya dengan penuh semangat sembari menunjukkan background virtual yang sedang beliau pasang.
Pesan terpenting yang beliau titipkan: Al-Qur’an yang dihafal jangan hanya berhenti di hafalan dan kebanggaan dalam musabaqah. Al-Qur’an harus dibumikan, dijadikan akhlak dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana Rasulullah ﷺ sendiri berakhlak Al-Qur’an.
Ustadz Agus menutup sambutannya dengan menyerukan kepedulian terhadap nasib bangsa, generasi, dan secara khusus kepada nasib umat Islam di Palestina serta kemuliaan Masjidil Aqsha yang merupakan amanah dari Baginda Rasulullah ﷺ. Satu harapan besar yang beliau sampaikan, semoga seluruh civitas Ibnu Katsir dapat menunaikan shalat di Masjidil Aqsha yang sudah benar-benar terbebas dari cengkraman zionis Yahudi.
Kyai Abu Hasanuddin menyambung sambutan dengan menyampaikan laporan perkembangan yayasan dari awal hingga sekarang. Beliau menceritakan bahwa lima belas tahun silam, dengan penuh keberanian dan ketulusan, para pendiri memberanikan diri untuk berkhidmat kepada Al-Qur’an di sebuah kota kecil di Jember, Jawa Timur, dengan mendirikan Ma’had Ali. Kini, atas izin Allah, Yayasan Ibnu Katsir telah berkembang menjadi delapan cabang yang tersebardi empat kota: Jember, Probolinggo, Mojokerto, dan Sragen.
Program yang ditawarkan pun kini mencakup jenjang yang luas. Mulai dari TK hingga perguruan tinggi, semuanya berbasis Al-Qur’an. Jumlah santri aktif kini mendekati seribu orang dari berbagai jenjang pendidikan. Dan dari Ma’had Ali saja, hampir lima ratus alumni telah diwisuda, bahkan sebagian di antaranya telah dipertemukan dengan jodoh mereka melalui yayasan. Tercatat ada sekitar 140 pernikahan antar alumni maupun alumni dengan relasi yayasan dalam delapan tahun terakhir.
“Tidak banyak yang bisa kami lakukan. Alhamdulillah kami didukung oleh masyarakat dengan wakaf dari mereka dan pembiayaan pendidikan Al-Qur’an. Alhamdulillah, tidak kurang. Hampir seribu siswa sekarang,” ungkap Kyai Abu Hasan penuh syukur.
Kyai Abu menutup sambutannya dengan harapan yang tulus: semoga Al-Qur’an menjadi hadiah terbaik yang bisa diberikan yayasan kepada keluarga para santri dan alumni, dan semoga langkah ini menjadi amal shaleh terbaik di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Hadir pula jajaran dewan pembina dan pengawas Ibnu Katsir meskipun tak turut memberikan sambutan. Diantaranya adalah ustadz Ir. H. Kosala Dwija Purnama, MSi., Ir.H Suwardi M.P., Ir. H. Ade Prasetyo. Para santri dari Pesantren Ibnu Katsir 1-8 juga hadir berjamaah melalui akun zoom pesantren.
Puncak acara adalah khotmil Qur’an yang dipimpin oleh alumni Ibnu Katsir dari Pontianak, Ustadz Nizam Alwi, yang kini merintis Rumah Qur’an di kota asalnya. Bacaan dimulai dari Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, dilanjutkan dengan Al-Fatihah dan beberapa ayat awal Al-Baqarah secara bersama-sama.
Kemudian, doa khotmil Qur’an yang sakral itu dipimpin langsung oleh Prof. Dr. H. Said Agil Husin Al Munawar, MA., seorang ulama Al-Qur’an internasional yang juga pernah menjabat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia periode 2001–2004. Kehadiran beliau menjadi anugerah tersendiri bagi seluruh civitas Ibnu Katsir yang telah lama merindukannya.
Dalam taujih singkatnya, Prof. Said Agil menyampaikan penghargaan yang mendalam atas perjalanan lima belas tahun Yayasan Ibnu Katsir yang telah berkiprah luar biasa dalam membumikan Al-Qur’an, baik dalam bentuk bacaan, hafalan, maupun ilmu-ilmunya.
Beliau mengingatkan bahwa Al-Qur’an sebagai mukjizat yang kekal dan abadi adalah pedoman hidup dan kehidupan. Menghafal dan membaca Al-Qur’an bukan perkara sia-sia; semua itu adalah amal yang akan dibawa dan diterima pahalanya di akhirat kelak. Menghafal Qur’an adalah salah satu sunnah, karena Rasulullah ﷺ adalah penghafal Al-Qur’an. Para sahabat, tabi’in, tabiut tabiin, dan para salafus shalih juga meniti jalan menghafal Al-Qur’an.
Prof. Said Agil menceritakan sejarah Ma’had Ali — lembaga yang ia bangun dan rapikan semasa menjabat sebagai Menteri Agama, dengan menghimpun para kiai pengasuh pondok pesantren dalam kajian bersama. Beliau mengenang almarhum Kyai As’ad Syamsul Arifin Situbondo dan segala jasanya yang menjadi fondasi awal berdirinya Ma’had Ali yang kini telah berkembang dengan tiga jenjang: Ma’had Ali 1 (S1), Ma’had Ali 2 (S2), dan Ma’had Ali 3 (S3).
Beliau menutup taujihnya dengan ucapan selamat kepada Yayasan Ibnu Katsir yang mengambil nama seorang tokoh besar, Imam Ibnu Katsir, seorang ahli tafsir dan ahli Al-Qur’an yang wafat pada 774 Hijriyah, dan mendoakan agar yayasan ini terus berkembang dan dapat berkhidmat kepada umat.
“Saya sudah istilahnya mewakafkan diri saya untuk Al-Qur’an al-Karim. Semua yang kita lakukan, tidak ada yang sia-sia. Kita akan menerima pahala amal kita di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala,” pungkas beliau, menjadi sebuah pengingat luar biasa bahwa hendaknya seluruh civitas Ibnu Katsir juga menjadi pengabdi yang mewakafkan diri untuk Al-Qur’an.
Beliau juga memohon doa dari seluruh hadirin untuk kesehatan dan kelancaran perjalanan ibadah haji beliau bersama sekitar 353 jamaah yang akan berangkat beberapa hari setelah acara ini.
Menyempurnakan acara, KH. Khoirul Hadi Lc., perintis Ibnu Katsir yang juga menjadi guru dari para pengajar Pesantren, memimpin doa dengan khidmat. Untaian demi untaian munajat kebaikan yang beliau panjatkan diaminkan seluruh peserta.
Dari satu pondok kecil di Jember hingga hadir di berbagai kota, dari nol santri hingga hampir seribu, dari mimpi sederhana para pendiri, Yayasan Ibnu Katsir telah membuktikan bahwa keikhlasan dan kecintaan kepada Al-Qur’an adalah modal yang tak pernah habis.
Selamat Milad ke-15, Yayasan Ibnu Katsir. Semoga Allah melanggengkan langkah mulia ini dan menjadikannya amal jariyah yang terus mengalir hingga hari kiamat.
