
Ikhlas bukan sekadar niat tersembunyi dalam hati. Ia adalah kerja hati yang berat, menjaga agar semua amal hanya tertuju kepada Allah, bukan untuk pujian, pengakuan, atau kehormatan dari manusia.
Karena itulah, balasan untuk keikhlasan juga sangat besar.
Ada sebuah kisah menyentuh dari salaf yang menunjukkan betapa amal kecil yang ikhlas bisa lebih berat timbangannya daripada dosa besar.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Muṣannaf, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallāhu ‘anhu:
أن راهبًا عبد الله في صومعة ستين سنة، فجاءت امرأة فنزلت إلى جنبه، فنزل إليها فواقعها ست ليال، ثم أسقط في يده، ثم هرب، فأتى مسجدًا فأوى فيه، فمكث ثلاثًا لا يطعم شيئًا، فأتي برغيف فكسر نصفه، فأعطاه رجلًا عن يمينه، وأعطى الآخر عن يساره، ثم بعث إليه ملك فقبض روحه، فوضع عمل ستين سنة في كفة، ووضعت السيئة في أخرى، فرجحت، ثم جيء بالرغيف، فرجح بالسيئة.
Disebutkan bahwa seorang rahib (ahli ibadah) beribadah di dalam menara ibadahnya selama 60 tahun.
Namun suatu ketika, ia tergoda oleh seorang wanita yang menginap di dekat tempatnya. Ia terjerumus dalam dosa zina selama enam malam.
Setelah tersadar dari perbuatannya, ia pun menyesal dan melarikan diri ke sebuah masjid. Di sana ia berdiam selama tiga hari tanpa makan apapun, hingga seseorang memberinya sepotong roti.
Ia membagi roti itu menjadi dua: satu untuk orang di sebelah kanannya, satu lagi untuk orang di kirinya.
Kemudian, Malaikat diutus untuk mencabut nyawanya. Saat ditimbang, amal ibadahnya selama enam puluh tahun ternyata lebih ringan daripada dosa zinanya.
Namun ketika amal sedekah roti itu ditambahkan ke timbangan, ternyata sedekah kecil itu lebih berat dari dosa besar yang ia lakukan.
MasyaaAllah, inilah kekuatan dari sebuah amal kecil yang dilakukan dengan penuh keikhlasan.
