
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Miftachul Akhyar, menegaskan bahwa bulan Syawal bukan sekadar penutup rangkaian ibadah Ramadhan, melainkan momentum untuk meningkatkan kualitas dzikir dan amal seorang Muslim.
Beliau menjelaskan bahwa secara makna, “Syawal” mengandung arti peningkatan. Oleh karena itu, seorang Muslim seharusnya menunjukkan kualitas diri yang lebih baik dibandingkan sebelumnya. “Syawal itu bulan peningkatan. Harus meningkat, jangan seperti kemarin,” ungkapnya, sebagaimana dikutip oleh NU Online dalam artikel berjudul KH Miftachul Akhyar Sebut Syawal adalah Kesempatan Umat Islam Jadi Ahli Zikir (Selasa, 31/3/2026).
Kiai yang akrab disapa Kiai Miftach ini menekankan bahwa memperbanyak dzikir menjadi salah satu amalan utama yang perlu ditingkatkan di bulan Syawal. Hal ini sebagai upaya menjaga dan menaikkan derajat ketakwaan, terlebih setelah seorang Muslim melewati Ramadhan dan kembali pada kondisi fitrah.
Menurut beliau, dzikir tidak cukup hanya diucapkan oleh lisan, tetapi harus meresap hingga memenuhi hati dengan kehadiran Allah SWT. Untuk mencapai tingkat tersebut, diperlukan latihan yang terus-menerus dan kesungguhan, hingga seseorang bisa sampai pada derajat “ahli dzikir”.
Ia menggambarkan bahwa ketika seseorang telah mencapai derajat tersebut, seluruh anggota tubuhnya akan selaras dalam ketaatan kepada Allah. “Jika hati sudah dipenuhi dengan Allah, maka tangan, mata, telinga, dan seluruh anggota tubuh akan mengarah kepada-Nya,” jelasnya.
Sebagai pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah di Surabaya, Jawa Timur, beliau juga mengingatkan bahwa menjadi ahli dzikir bukan berarti hanya fokus pada dzikir semata, lalu mengabaikan kewajiban lainnya. Justru, kewajiban harus ditunaikan dengan baik, dan amalan sunnah terus dijaga hingga mencapai kenikmatan dalam beribadah.
Beliau menyebut kondisi tersebut sebagai halawatudz dzikr atau manisnya dzikir, juga halawatul iman (manisnya iman), yaitu saat seluruh aktivitas seorang hamba sepenuhnya tertuju kepada Allah.
Lebih lanjut, Kiai Miftach mengaitkan hal ini dengan makna dalam hadits qudsi, bahwa hamba yang mencapai derajat tersebut akan mendapatkan kecintaan Allah. Bahkan, ketika ia berdoa, tidak selalu harus diucapkan, karena Allah Maha Mengetahui apa yang ada dalam hati hamba-Nya.
“Meskipun tidak diucapkan, Allah mengetahui keinginan hamba-Nya. Bahkan sekadar lintasan hati pun Allah Maha Tahu,” tuturnya.
Namun demikian, beliau menambahkan bahwa doa yang diucapkan tetap memiliki makna penting, yaitu sebagai bentuk pengakuan bahwa manusia senantiasa membutuhkan Allah SWT dalam segala hal.
*ditulis ulang dari NU Online
