
By. Satria hadi lubis
DI DUNIA ini, kita sering melihat manusia yang begitu rakus terhadap harta, jabatan, pujian, bahkan hawa nafsu seksual. Siang malam dikejar, tenaga dikuras, pikiran dihabiskan. Namun anehnya, ketika berbicara tentang pahala, banyak yang justru santai, bahkan cenderung lalai.
Padahal, jika ada satu “kerakusan” yang layak dipelihara dalam hidup ini, maka itu adalah kerakusan terhadap pahala.
Allah SWT berfirman: “Maka berlomba-lombalah kalian dalam kebaikan.”(QS. Al-Baqarah: 148)
Ayat ini bukan sekadar ajakan biasa, tapi dorongan kuat agar seorang muslim tidak biasa-biasa saja dalam ibadah. Bukan sekadar cukup, tapi berusaha lebih. Bukan hanya menjalankan yang wajib, tapi juga memburu yang sunnah.
Muslim yang “rakus” terhadap pahala akan gelisah ketika kehilangan kesempatan berbuat baik. Ia merasa rugi ketika ada waktu kosong tanpa dzikir. Ia menyesal ketika lisan lebih banyak bicara sia-sia daripada membaca Al-Qur’an. Ia merasa bersalah jika hari-harinya sepi dari dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar.
Rasulullah saw bersabda: “Manfaatkanlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum sakitmu, masa kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum masa sibukmu dan masa hidupmu sebelum kematianmu.” (H.R. Ibnu Abi Ad-Dunya, Al-Hakim no. 7846, dan Al-Baihaqi no. 10248)
Hadits ini mewasiatkan bahwa setiap detik adalah ladang pahala, dan orang-orang yang cerdas adalah yang “serakah” memanfaatkannya.
Lihat bagaimana para sahabat. Mereka bukan hanya taat, tapi “berlomba”. Ketika turun ayat sedekah, mereka bersegera. Ketika turun ayat wajibnya berjilbab, para sohabiah segera menunaikan. Ketika ada peluang jihad, mereka antri. Jika tidak bisa ikut jihad, mereka menangis sedih. Bahkan dalam hal sederhana seperti shalat berjamaah pun, mereka ingin berada di shaf paling depan.
Mengapa mereka begitu bersemangat berlomba mencari pahala? Karena mereka paham satu hal : pahala adalah bekal abadi, sedang dunia hanya persinggahan sementara.
“Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?” (QS al-An’am ayat 32)
Namun perlu diingat, “rakus” di sini bukan berarti riya atau pamer ibadah demi meraih pernik-pernik duniawi. Justru sebaliknya, ia adalah bentuk kesungguhan yang lahir dari taqwa dan keikhlasan. Ia ingin sebanyak mungkin mendapatkan pahala untuk menyelamatkan diri di akhirat kelak. Bahwa satu pahala kecil pun akan terasa sangat berharga disana.
Hasan Al-Bashri berkata: “Sesungguhnya seorang mukmin itu menggabungkan antara rasa takut dan harap, sedangkan orang munafik menggabungkan antara kelalaian dan angan-angan.”
Oleh karena itu, jadilah engkau muslim yang tidak puas dengan amal yang sedikit. Yang selalu merasa kurang, meski sudah berbuat banyak. Yang terus menambah, meski orang lain merasa cukup. Jadilah engkau orang yang “rakus” terhadap pahala dan ridho Allah SWT.
Jangan sebaliknya, engkau rakus terhadap dunia. Rakus terhadap harta, tahta dan wanita, tapi merasa kenyang dengan amal ibadah dan dakwah yang sedikit. Merasa sudah banyak berkorban untuk kebaikan, padahal jika dibandingkan dengan orang-orang sholih terdahulu amalmu tak ada seujung kuku pun.
“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133)
