I’TIKAF: SUNNAH YANG DIJAGA SAMPAI WAFAT
Oleh: Moch. Ilyas

I’tikaf bukan sekadar aktivitas berdiam diri di masjid.
Ia adalah ibadah yang secara sadar memutus keterikatan dunia, lalu mengarahkan seluruh perhatian kepada Allah.

Dan ini bukan ibadah biasa.
Ini adalah ibadah yang dijaga langsung oleh Rasulullah ﷺ hingga akhir hayatnya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ
“Sedang kamu beri’tikaf di masjid…”
(QS. Al-Baqarah: 187)

Ayat ini menunjukkan bahwa i’tikaf adalah ibadah yang disyariatkan secara langsung, bukan tradisi budaya atau kebiasaan lokal.

Dalam riwayat sahih disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ senantiasa beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan hingga beliau wafat.

Hal ini menunjukkan dua perkara penting:

  1. I’tikaf adalah sunnah muakkadah.
  2. Waktu paling utama adalah sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Beliau tidak menjadikannya amalan sesekali.
Beliau menjadikannya komitmen tahunan.

Diriwayatkan bahwa beberapa istri Rasulullah ﷺ seperti:

  • Siti Aisyah r.a.
  • Siti Hafshah r.a.
  • Siti Zainab binti Jahsy r.a.

meminta izin untuk ikut beri’tikaf bersama beliau. Maka dibuatlah tenda-tenda kecil di dalam masjid.

Namun ketika jumlahnya semakin banyak, Rasulullah ﷺ melihat adanya potensi berubahnya suasana — dari kekhusyukan menjadi keramaian.

Beliau tidak marah.
Beliau tidak melarang dengan keras.

Namun beliau membatalkan i’tikaf saat itu dan menggantinya pada bulan Syawal.

Dalam hadis riwayat al-Bukhari disebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَعْتَكِفُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ، فَاسْتَأْذَنَتْهُ عَائِشَةُ فَأَذِنَ لَهَا، فَضَرَبَتْ خِبَاءً، فَاسْتَأْذَنَتْ حَفْصَةُ فَأَذِنَ لَهَا، فَضَرَبَتْ خِبَاءً، فَلَمَّا رَأَتْ ذَلِكَ زَيْنَبُ بِنْتُ جَحْشٍ ضَرَبَتْ خِبَاءً، فَلَمَّا أَصْبَحَ النَّبِيُّ ﷺ رَأَى الْأَخْبِيَةَ فَقَالَ: آلْبِرَّ تُرِدْنَ؟ فَتَرَكَ الْاعْتِكَافَ ذَلِكَ الشَّهْرَ، ثُمَّ اعْتَكَفَ عَشْرًا مِنْ شَوَّالٍ.
(HR. al-Bukhari)

Apa pelajarannya?

I’tikaf bukan soal banyaknya orang.
I’tikaf adalah soal kemurnian niat dan terjaganya suasana ruhani.

Suatu malam ketika Rasulullah ﷺ sedang beri’tikaf, datang istri beliau, Shafiyyah binti Huyayy r.a. Beliau berbincang sejenak, lalu mengantar istrinya pulang.

Di perjalanan, dua sahabat Anshar melihat beliau. Maka Rasulullah ﷺ segera bersabda:

“Ini adalah Shafiyyah binti Huyayy.”

Para sahabat menjawab, “Subhanallah, wahai Rasulullah.”

Beliau kemudian menjelaskan bahwa setan berjalan pada diri manusia seperti aliran darah, dan beliau tidak ingin ada prasangka yang masuk ke dalam hati mereka.

Perhatikan ini.

Dalam kondisi i’tikaf — fokus ibadah — beliau tetap menjaga kebersihan hati umatnya dari prasangka.

Inilah i’tikaf yang hidup.
Bukan sekadar diam, tetapi menjaga kejernihan jiwa.

Awalnya Rasulullah ﷺ beri’tikaf pada sepuluh hari pertama Ramadhan.
Lalu berpindah ke pertengahan.
Hingga akhirnya beliau menetapkan sepuluh malam terakhir.

Mengapa?

Karena di sanalah Lailatul Qadar.
Malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Satu malam yang nilainya melebihi usia rata-rata manusia — lebih dari 83 tahun.

Maka i’tikaf adalah strategi ruhani.
Ia bukan rutinitas, tetapi pencarian.

Masjid boleh penuh.
Tetapi hati yang penuh itulah tujuan.

I’tikaf mengajarkan:

  1. Meminimalkan interaksi dunia.
  2. Memperbanyak dzikir.
  3. Menghidupkan Al-Qur’an.
  4. Memperbanyak doa dan istighfar.
  5. Tidak memindahkan aktivitas dunia ke dalam masjid.

Jika Rasulullah ﷺ menjaga i’tikaf hingga wafat,
jika para sahabat menyaksikan langsung keseriusan itu,

maka sepuluh malam terakhir bukan waktu yang biasa.

Ia adalah peluang.
Ia adalah momen perubahan takdir.
Ia adalah ruang sunyi untuk memperbaiki hubungan dengan Allah.

Pertanyaannya kini sederhana:

Apakah kita menjadikan i’tikaf sebagai tradisi,
atau sebagai titik balik kehidupan?

Wallahu a’lam.