
Ringkasan materi KH. Ahmad Dairobi Naji oleh Nurhaliza Idris, Mahasantri Ibnu Katsir 2
Ada banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita. Di antaranya nikmat kesehatan, keluarga, rezeki, juga kesempatan hidup. Namun, di antara seluruh nikmat itu, ada satu yang sering kali kita lupakan, yaitu nikmat iman dan Islam.
Kita lahir sebagai seorang Muslim. Sejak kecil mengenal Allah, tahu siapa Rasulullah saw., belajar Al-Qur’an, dan berdoa kepada-Nya. Namun, pernahkah kita bertanya, “Bagaimana semua nikmat ini bisa sampai kepada kita?”
Salah satu jawaban terbesarnya ialah melalui perantara manusia mulia, utusan Allah SWT, yakni Rasulullah Muhammad saw.
Beliau terlahir di Makkah, sebuah wilayah yang secara geografis keras. Tanahnya tandus, air terbatas, dan kehidupan tidak semudah yang kita bayangkan. Namun, justru di tempat seperti itulah Allah menumbuhkan sebuah peradaban.
Di tengah masyarakat yang telah lama mengenal Ka’bah, tetapi banyak menyimpang dari tauhid, lahirlah seorang anak dari Bani Hasyim. Namanya Muhammad bin Abdullah. Ayahnya, Abdullah, telah wafat sebelum beliau lahir. Kemudian beliau berada dalam penjagaan ibunya, Aminah, dan keluarganya.
Beliau lahir sebagai seorang yatim. Tidak ada kerajaan yang diwariskan kepadanya. Tidak ada pasukan yang menunggunya. Tidak ada kekayaan besar yang menjadi bekalnya. Tetapi Allah mempersiapkannya menjadi seorang manusia yang kelak akan membawa perubahan yang jauh lebih besar daripada sekadar perubahan sebuah negeri. Beliau akan membawa manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya.
Bayangkan beratnya amanah itu. Ketika wahyu turun dan Allah berfirman, “Wahai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu berilah peringatan.” (QS. Al-Muddatstsir: 1–2), maka sejak saat itu, kehidupan Rasulullah saw. seketika berubah.
Beliau tidak hidup untuk dirinya sendiri. Di pundak beliau memikul tanggung jawab besar, yaitu berdakwah kepada keluarganya, para sahabatnya, kaumnya, dan kepada seluruh manusia. Sementara dakwah itu bukanlah jalan yang selalu dipenuhi tepuk tangan. Beliau dicaci, ditolak, dilempari batu, diboikot, bahkan orang-orang yang paling dekat dengannya pun ada yang menjadi penentang.
Tetapi, dengan keteguhan iman, beliau tetap berjalan. Mengapa? Karena beliau tahu bahwasanya yang beliau perjuangkan bukanlah popularitas, akan tetapi hidayah. Bukan agar manusia hanya mengingat nama Muhammad saw., tetapi agar manusia mengenal dan senantiasa mengingat Allah.
Coba kita bayangkan, andaikata hari ini kita diminta memperbaiki keadaan satu keluarga saja, kadang kita sudah merasa berat. Kadangkala ada orang tua yang sulit dinasihati, saudara yang belum mau berubah, dan ada pula teman yang tersinggung ketika diingatkan.
Lantas Rasulullah saw.? Beliau menghadapi sebuah masyarakat yang akrab dengan tradisi jahiliahnya, menghadapi kaum yang mempertahankan berhala, juga tekanan politik dan sosial. Namun, beliau tidak pernah berhenti berjuang. Karena beliau memahami satu hal, bahwa perubahan besar dimulai dari keberanian untuk menyampaikan kebenaran.
Maka, dari Makkah, bumi yang kecil itu, dakwah Islam terus bergerak dari rumah ke rumah, satu hati ke hati lainnya, dari Makkah menuju Madinah, dari Madinah kemudian menjangkau berbagai penjuru dunia. Dan hari ini, kita yang hidup ribuan kilometer dari Makkah pun bisa mengucapkan, “Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.” Bukankah itu luar biasa?
Kelahiran Rasulullah saw. bukan sekadar cerita sejarah maupun kisah untuk diperingati setiap tahun. Sebab, kalau kita hanya tahu kapan beliau lahir, tetapi tidak mengikuti apa yang beliau perjuangkan, maka sejarah itu belum mengubah kita.
Apabila Rasulullah saw. telah berjuang sedemikian rupa agar Islam sampai kepada kita, lalu apa yang sudah kita lakukan untuk menjaga Islam dalam diri kita? Beliau rela menghadapi kesulitan demi menyampaikan kebenaran. Lalu kita, mengapa sedikit saja nasihat membuat kita tersinggung?
Maka, mengenang kelahiran Nabi Muhammad saw. seharusnya membuat kita malu sekaligus rindu. Malu, karena begitu besar perjuangan beliau untuk kita, sementara ibadah kita masih sering seadanya. Dan rindu, karena kita ingin menjadi bagian dari umat yang beliau perjuangkan.
Bukan hanya dengan menyebut namanya dan bershalawat kepadanya, tetapi dengan mengenal perjuangannya, mengikuti sunnahnya, meneladani akhlaknya, dan meneruskan risalah kebaikan yang beliau bawa.
Sebab, Rasulullah saw. tidak hadir untuk membuat kita sekadar kagum kepada sejarah. Beliau hadir untuk mengubah manusia. Dan semoga kelahiran beliau bukan hanya menjadi kisah yang kita dengarkan, tetapi menjadi awal dari pertanyaan yang lebih dalam: “Sudah sejauh mana hidupku mencerminkan ajaran Muhammad saw.?”
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad.
Semoga Allah mempertemukan kita dengan Rasulullah saw. dalam keadaan beliau ridha kepada kita. Aamiin, ya Rabbal ‘Aalamiin.
Wallahu a’lam bish-shawab.
