
Ringkasan materi Ustadz DR. KH. Abdul Wahab Ahmad, M.HI. oleh Nurhaliza Idris, mahasantri Ibnu Katsir 2
Ada dua perasaan yang harus selalu hidup di hati seorang mukmin: khauf (takut kepada Allah) dan raja’ (berharap kepada rahmat Allah). Jika salah satunya hilang, perjalanan menuju Allah menjadi pincang. Keduanya ibarat dua sayap seekor burung. Jika salah satunya patah, burung itu tak akan mampu terbang menuju tujuannya.
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa hati manusia selalu berhubungan dengan tiga waktu: masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ketika mengingat nikmat dan karunia Allah di masa lalu, itulah dzikir. Sedangkan ketika memandang masa depan, hati akan bergerak kepada dua arah: harap (raja’) atau takut (khauf).
Khauf adalah takut kepada Allah. Takut terhadap murka-Nya, takut terhadap dosa, takut terhadap akibat maksiat yang dilakukan. Khauf bukanlah rasa takut yang membuat seseorang putus asa. Ia adalah rasa takut yang membuat seorang hamba berhati-hati dalam melangkah. Orang yang memiliki khauf akan bertanya kepada dirinya sebelum berbuat: “Apakah ini halal atau haram?”, “Apakah Allah ridha terhadap perbuatanku?”
Rasa takut seperti inilah yang menjaga seseorang dari dosa. Ia menjadi rem ketika hawa nafsu mengajak kepada kemaksiatan. Sayangnya, banyak orang hanya memiliki khauf sesaat. Takut ketika mendengar ceramah, takut saat ditimpa musibah, lalu kembali lalai ketika keadaan membaik. Padahal khauf seharusnya menjadi sifat yang menetap dalam diri, bukan sekadar tamu yang datang sesekali.
Sedangkan raja’ adalah berharap kepada Allah. Berharap ampunan-Nya, berharap rahmat-Nya, berharap surga-Nya. Kita berharap ampunan Allah, berharap diterima amalnya, dan berharap masuk surga-Nya. Namun raja’ bukanlah angan-angan kosong.
Imam Al-Ghazali mengibaratkan hati seperti sebidang tanah. Iman adalah benihnya, sedangkan amal saleh adalah air dan pupuknya. Orang yang menanam, menyiram, dan merawat tanamannya berhak berharap panen yang baik.
Tetapi bagaimana dengan orang yang tidak menanam apa-apa, lalu berharap mendapat hasil panen melimpah? Itulah yang disebut harapan palsu.
Demikian pula orang yang membiarkan dirinya tenggelam dalam maksiat, tetapi tetap yakin akan masuk surga tanpa taubat dan tanpa usaha memperbaiki diri. Itu bukan raja’, melainkan angan-angan yang menipu.
Salah satu penyakit hati yang sering muncul adalah merasa terlalu aman dari azab Allah. Ada orang yang berkata: “Allah Maha Pengampun.” Kalimat itu benar. Tetapi menjadi keliru ketika dijadikan alasan untuk terus bermaksiat. Mengharap ampunan tanpa taubat, menginginkan surga tanpa amal, atau mendambakan anak saleh tanpa mendidiknya dengan agama adalah bentuk harapan yang tidak realistis.
Sebuah syair menyebutkan: “Engkau mengharap keselamatan, tetapi tidak menempuh jalannya. Sungguh, kapal tidak akan berlayar di atas daratan.” Surga memiliki jalan, dan jalan itu harus ditempuh.
Allah memerintahkan hamba-Nya untuk beribadah dengan khauf dan raja’ sekaligus. Takut kepada azab-Nya dan berharap kepada rahmat-Nya. Jika khauf terlalu dominan tanpa raja’, seseorang bisa jatuh kepada keputusasaan. Jika raja’ terlalu dominan tanpa khauf, seseorang bisa terjerumus dalam kemalasan dan merasa aman dari dosa.
Karena itu para ulama mengajarkan keseimbangan. Saat sehat dan masih memiliki banyak kesempatan hidup, hendaknya rasa takut kepada Allah lebih dominan agar kita bersungguh-sungguh memperbaiki diri. Namun ketika ajal mulai mendekat, hendaknya harapan kepada rahmat Allah diperbesar agar kita menghadap-Nya dengan husnuzan dan penuh pengharapan
Sebagian orang mengingat rahmat Allah, namun melupakan azab-Nya. Akibatnya, dosa menjadi ringan. Maksiat dianggap biasa. Pelanggaran syariat tidak lagi menimbulkan rasa bersalah. Padahal seorang mukmin semestinya memiliki rasa takut. Takut ketika meninggalkan salat. Takut ketika mengambil yang bukan haknya. Takut ketika bermudah-mudahan dengan dosa. Takut bukan kepada manusia, tetapi kepada Allah. Karena rasa takut itulah yang menjaga seseorang tetap berada di jalan yang lurus.
Jangan menjadi orang yang ingin surga tetapi menolak jalannya. Jangan pula menjadi orang yang begitu takut hingga berputus asa dari rahmat Allah. Takutlah kepada Allah sehingga engkau menjauhi dosa. Berharaplah kepada Allah sehingga engkau tidak pernah menyerah untuk bertobat. Karena seorang mukmin sejati bukanlah orang yang hanya memiliki khauf, atau hanya memiliki raja’. Ia adalah orang yang menjaga keduanya tetap hidup dalam hatinya.
Mari kita bertanya kepada diri sendiri ;
“Apakah harapan kita kepada surga sudah diiringi dengan langkah menuju surga?”,
“Apakah kita masih takut kepada dosa sebagaimana para salaf dahulu takut kepada api yang menyala?”
Semoga Allah menjadikan hati kita selalu terbang dengan dua sayap yang seimbang yaitu Khauf yang menjaga dari maksiat dan Raja’ yang menghidupkan semangat beribadah. Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin.
Wallahua’lamubisshowab
