
Ringkasan kajian KH. Abdul Aziz, Lc oleh Zulfa dan Salamah, mahasantri Ibnu Katsir 2
Kadar iman menurun?
Minat dan semangat beribadah melemah? Hati selalu gundah, sementara umur terus bertambah? Bingung harus bagaimana? Mari kita mulai dengan memahami apa itu iman dan bagaimana hati memainkan peran penting dalam hidup kita.
Iman sering kita dengar sebagai keyakinan yang kuat, yang diwujudkan melalui perbuatan dan diucapkan dengan lisan. Ia adalah kepercayaan yang meresap ke dalam hati, memengaruhi pandangan hidup kita, dan menjadi penghubung antara manusia dengan Tuhannya. Iman yang kuat dan terjaga adalah kewajiban mutlak seorang muslim untuk tetap berada di jalan Allah.
Sedangkan hati, dalam konteks ini adalah qalbu. Dalam bahasa Arab, qalbu memiliki makna luas, mencakup jantung, hati, akal, semangat, bahkan keberanian. Hati adalah raja dari seluruh anggota tubuh; ia memerintah, dan tubuh mengikuti.
Lalu, apa hubungannya dengan penurunan iman?
Bayangkan, jika keyakinan kita kepada Allah melemah, dan keteguhan hati kita rapuh. Apa yang terjadi? Kita akan mudah terjerumus dalam kemaksiatan. Hati menjadi tidak tenang, selalu resah, dan mudah digoda oleh setan. Nafsu duniawi pun menguasai diri, menjadikan kita manusia tanpa asa, tanpa ridho Allah, tanpa makna. Apakah kita ingin hidup seperti itu? Gelisah, galau, merana? Tentu tidak!
Iman yang lemah membawa akibat nyata: hati menjadi kotor, penuh noda, dan kehilangan arah. Qalbu, yang seharusnya bersih, ternoda oleh dosa, terbayang siksa neraka, hingga mata hati menjadi buta.
Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk menjaga iman?
Mari kita belajar dari kehidupan sehari-hari. Kita sering menghitung pendapatan, memantau keuangan, bahkan memperkirakan anggaran masa depan. Tetapi, pernahkah kita menghitung diri sendiri? Menghisab amal dan dosa? Menilai sejauh mana kita lalai atau taat?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Hendaklah kalian menghisab diri sebelum kalian dihisab, timbanglah amal kalian sebelum ditimbang, dan bersiaplah menghadapi hari besar saat amal diperlihatkan.”
Menghisab diri adalah evaluasi diri, menghitung amal baik dan buruk, sebagai persiapan menghadapi yaumul hisab di akhirat nanti. Umar bin Khattab juga berpesan agar kita menghitung diri sebelum datang penyesalan, sebelum maut menjemput, agar kita sadar akan kesalahan dan memperbaikinya.
Namun, sering kali, kita justru menghindar. “Nanti saja,” “Besok masih ada waktu,” alasan demi alasan meluncur tanpa henti. Padahal di antara nikmat Allah, ada dua yang sering kita lalaikan: kesehatan dan waktu luang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Dua nikmat yang banyak manusia lalai darinya adalah kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari)
Kesehatan dan waktu luang adalah anugerah yang sering kita sia-siakan, membuat kita lupa untuk bersyukur dan memperbaiki diri. Maka, jangan tunggu waktu luang, tetapi luangkan waktu. Hisab diri, maafkan kesalahan orang lain, dan ikhlaskan rasa sakit di hati demi ketenangan.
Setelah memahami pentingnya iman dan muhasabah, langkah apa berikutnya?
Langkah berikutnya adalah memperbaiki yang salah dan mempertahankan yang benar. Bertobat atas dosa-dosa kita dan memohon ampun kepada Allah. Rasulullah menceritakan kegembiraan Allah atas tobat hamba-Nya melebihi kegembiraan seseorang yang kehilangan untanya di padang pasir, lalu menemukannya kembali. Allah Maha Baik, senantiasa menanti tobat hamba-Nya dan menggugurkan dosa mereka.
Di penghujung tahun ini, mari luangkan waktu untuk mengevaluasi diri, memperbaiki tingkah laku, dan membersihkan hati. Mantapkan tujuan hidup kita untuk meraih ridho Allah. Kembalilah kepada-Nya dengan hati yang bersih dan tekad yang kuat. Dengan menghisab diri setiap hari, kita melangkah menuju perbaikan yang berkesinambungan, hingga menjadi hamba yang dicintai oleh-Nya.
