
Safari dakwah menjadi salah satu ikhtiar penting dalam menyebarkan nilai-nilai Islam ke berbagai daerah di Indonesia. Salah satu kegiatan tersebut adalah perjalanan dakwah yang diikuti oleh KH. Sukri Nursalim, Wakil Ketua Yayasan Ibnu Katsir Jember, ke Kota Sangatta, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.
Kegiatan ini mempertemukan para dai dan aktivis dakwah dari berbagai daerah di Indonesia untuk bersama-sama menghidupkan suasana Ramadhan di tengah masyarakat. Kehadiran para dai dari berbagai daerah ini menjadi bagian dari upaya memperkaya perspektif dakwah serta mempererat ukhuwah di antara para pegiat dakwah di Indonesia.
Sangatta dikenal sebagai daerah yang dihuni oleh masyarakat yang sangat beragam. Sebagian besar penduduknya merupakan para pendatang yang menetap di Kabupaten Kutai Timur sebagai pedagang maupun pekerja di sektor pertambangan. Ada pula masyarakat yang tidak menetap secara permanen. Mereka bekerja di Sangatta selama beberapa waktu, namun tetap memiliki tempat tinggal utama di daerah asalnya. Meski demikian, suasana keberagamaan masyarakat Sangatta terasa hidup, terutama pada bulan Ramadhan. Masjid-masjid di kampung maupun di kompleks perumahan terlihat ramai dengan berbagai kegiatan ibadah dan kajian.
Hal menarik lainnya, banyak masjid di lingkungan pemukiman yang memiliki imam tetap seorang hafizh Al-Qur’an. Sebagian masjid bahkan secara khusus mendatangkan imam dari pesantren-pesantren sekitar untuk memimpin shalat dan membimbing kegiatan keagamaan.
Selama bulan Ramadhan, kegiatan dakwah di Sangatta berlangsung dengan sangat semarak. Masyarakat menyambut berbagai kajian keislaman dengan penuh antusias. Beragam kegiatan rutin diselenggarakan sepanjang hari, di antaranya
- Kajian setelah shalat tarawih
- Kuliah subuh
- Kajian dhuha
- Kajian setelah shalat zuhur
- Kajian menjelang berbuka puasa
Menariknya, sebagian kegiatan kajian tersebut juga disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube, sehingga jangkauannya tidak hanya terbatas pada jamaah yang hadir secara langsung di masjid.
Meski peluang dakwah di Sangatta sangat luas, para dai juga menghadapi sejumlah tantangan. Selain berdakwah kepada masyarakat umum, terdapat pula medan dakwah yang cukup besar di kalangan karyawan perusahaan tambang batubara. Tantangan terbesar adalah keberagaman latar belakang masyarakat, baik dari sisi budaya maupun pendekatan dakwah yang mereka kenal. Di Sangatta terdapat berbagai kelompok dengan latar belakang manhaj yang berbeda, seperti kalangan salafi, tarbiyah, tabligh, hingga warga yang memiliki kedekatan dengan NU dan Muhammadiyah. Kondisi ini menuntut para dai untuk memiliki kebijaksanaan dalam menyampaikan materi dakwah, agar pesan yang disampaikan dapat diterima oleh berbagai kalangan tanpa menimbulkan gesekan.
Sebagian besar masyarakat Sangatta bekerja di sektor pertambangan dengan jadwal kerja yang cukup padat. Oleh karena itu, metode dakwah perlu menyesuaikan dengan kondisi tersebut. Banyak pekerja tambang memiliki semangat belajar agama yang tinggi, namun keterbatasan waktu membuat mereka lebih memilih kajian yang fleksibel. Karena itu, metode pembelajaran daring atau kajian online menjadi salah satu pendekatan yang paling efektif. Dengan cara ini, mereka tetap dapat mengikuti kajian meskipun berada di tengah kesibukan pekerjaan.
Dalam konteks masyarakat modern seperti Sangatta, materi dakwah yang paling dibutuhkan adalah pembahasan mengenai problematika kehidupan modern. Tema-tema yang berkaitan dengan kehidupan keluarga, etika kerja, pengelolaan kehidupan di tengah dunia industri, hingga tantangan spiritual masyarakat modern menjadi materi yang sangat diminati oleh jamaah.
Dalam safari dakwah ini, para dai berusaha menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Mulai dari kalangan pekerja, keluarga muda, hingga masyarakat umum. Semua segmen masyarakat dipandang sama-sama membutuhkan sentuhan dakwah dan bimbingan keagamaan.
Salah satu faktor yang membuat kegiatan dakwah di Sangatta dapat berjalan dengan baik adalah adanya dukungan dari berbagai pihak.
Pemerintah daerah, BAZNAS, serta beberapa perusahaan tambang seperti KPC, Pama, dan perusahaan lainnya turut memberikan dukungan terhadap program-program dakwah. Dukungan tersebut terlihat dari keberlanjutan program safari dakwah yang secara rutin menghadirkan para dai dari berbagai daerah. Mengingat biaya transportasi udara, akomodasi, dan kebutuhan lainnya cukup besar, keberadaan dukungan dari berbagai pihak ini menjadi sangat penting.
KH. Sukri Nursalim berpesan kepada para pendakwah yang ingin berdakwah di Sangatta agar mempersiapkan diri dengan baik. Selain memiliki bekal ilmu dan materi dakwah yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, para dai juga perlu memiliki keterampilan komunikasi yang baik agar dapat diterima oleh berbagai kalangan. Yang tidak kalah penting adalah memahami kultur masyarakat yang sangat beragam. Dengan memahami kondisi sosial masyarakat setempat, dakwah akan lebih mudah diterima dan memberikan dampak yang lebih luas.
