
Bencana banjir besar dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Barat dan Sumatera Utara meninggalkan luka mendalam bagi Indonesia, lebih-lebih masyarakat setempat. Di tengah situasi darurat tersebut, Pesantren Ibnu Katsir turut mengambil peran melalui pengiriman relawan dan penyaluran bantuan kemanusiaan secara langsung ke lokasi terdampak.
Sebanyak tiga perwakilan Ibnu Katsir berangkat secara bergantian ke Aceh. Relawan pertama adalah Umi Novannisa, Manajer Poskestren Ibnu Katsir, yang berangkat sejak H+4 pasca bencana. Beliau bertugas selama tujuh hari, mulai 1 hingga 7 Desember, sebagai relawan tenaga kesehatan dari BSMI.
Dalam keterangannya, Umi Novannisa menyampaikan bahwa aksi kemanusiaan difokuskan di Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya. Selain itu, ia juga sempat menjangkau Kecamatan Juli di Kabupaten Bireuen, meski sebagian besar aktivitas dilakukan di wilayah Pidie Jaya. Pada hari-hari awal kedatangannya, kondisi posko pengungsian masih sangat sepi dari relawan maupun bantuan.
“Saat pertama kali turun, hampir belum ada relawan dan bantuan lain. Posko-posko pengungsian masih kosong dan masyarakat benar-benar bertahan dengan apa adanya,” ungkapnya.
Sepulang Umi Novannisa, estafet relawan dilanjutkan oleh Ustadz Abdullah selaku Manajer LMI Ibnu Katsir bersama Cak Sukris yang bertugas di layanan donatur Ibnu Katsir. Keduanya berangkat dan mengabdi selama kurang lebih 12 hari di lokasi bencana, memastikan distribusi bantuan berjalan tepat sasaran sekaligus membersamai para penyintas. Mereka juga melakukan berbagai trauma healing kepada anak-anak untuk mengurangi trauma yang mereka derita.
Dari hasil penggalangan dana yang dilakukan bersama para donatur dan unit-unit Ibnu Katsir seperti Madina Ibnu Katsir, TK Qur’an Ibnu Katsir, Majlis Dhuha dan lain-lain, terkumpul dana sekitar 40 juta rupiah. Dana tersebut disalurkan langsung di lapangan sesuai kebutuhan mendesak masyarakat terdampak, mulai dari kebutuhan pokok hingga layanan pendukung bagi para pengungsi.
Para relawan menilai bahwa dampak banjir kali ini terasa sangat berat. Bahkan, menurut pengalaman Umi Novannisa yang juga pernah menjadi relawan saat tsunami Aceh 2004, kerusakan dan penderitaan warga dalam bencana banjir ini terasa lebih luas dan merata di banyak titik.
Ikhtiar kecil dari Ibnu Katsir ini diharapkan dapat meringankan beban para penyintas, sekaligus menjadi penguat bahwa mereka tidak sendirian menghadapi masa sulit.
