Inspirasi Qur’ani Pejuang Palestina: Belajar dari Tangguhnya Warga Palestina  |  Majlis Dhuha Spesial Ramadhan 2026

Ringkasan materi Syekh Ja’far Yousuf Ahmad Al-Hourani oleh Deswita Aisyah, mahasantri Ibnu Katsir 2

Majelis Dhuha kembali kedatangan seorang syekh asal Palestina yang merupakan pakar ekonomi dan politik, mantan anggota parlemen Yordania, serta pembicara lintas negara mengenai isu Palestina. Beliau membuka kajian dengan ucapan terima kasih dan rasa bangga kepada Yayasan Ibnu Katsir karena telah memfasilitasi jamaah dalam pertemuan kali ini.

Beliau juga menyampaikan kondisi Palestina terkini yang semakin memburuk setelah kesepakatan gencatan senjata terjadi. Hal ini antara lain disebabkan oleh pelanggaran kesepakatan tersebut oleh Israel, sementara Amerika dinilai tidak mampu mewujudkan perdamaian di antara keduanya. Namun, ketangguhan rakyat Palestina dalam menghadapi berbagai ujian dan gangguan berat yang terus berdatangan menimbulkan pertanyaan: apa yang selama ini menguatkan mereka?

Syekh Ja’far menuturkan bahwa semua itu terjadi berkat Al-Qur’an yang hidup di dalam dada setiap warga Palestina. Menghafal Al-Qur’an menjadi sebuah keharusan bagi mereka. Sebagai contoh, markas tahfiz di Yordania mendidik para penghafal Al-Qur’an dengan sangat disiplin. Jumlah penduduk Palestina sekitar lima juta jiwa, dan seperempatnya merupakan penghafal Al-Qur’an.

Melalui Al-Qur’an, banyak pelajaran yang dapat diambil. Kisah Fir’aun, misalnya, bukan untuk diteladani melainkan untuk dihindari. Begitu pula kisah ketakwaan Ashabul Kahfi yang melarikan diri dari pemimpin zalim hingga Allah menolong mereka dengan menidurkan mereka selama 309 tahun. Semua pelajaran dan hikmah tersebut dapat diperoleh dengan membaca Al-Qur’an serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Beliau juga mengungkapkan bahwa Palestina dahulu merupakan wilayah yang sangat indah dengan posisi paling strategis di dunia, sebelum kedatangan Israel laknatullah yang tidak hanya menyerang secara fisik, tetapi juga melalui pemikiran. Beliau menyinggung sosok Syekh Ahmad Yasin. Meskipun hanya dapat menggerakkan kepalanya, beliau mampu menjadi pelopor para mujahidin Hamas. Beliau syahid setelah diketahui mengadakan perkumpulan yang berisi pembacaan Al-Qur’an dan pembahasan syariat. Karena ketakutan, Israel mengebom tempat tersebut hingga beliau gugur.

Semangat juang yang besar juga dapat dilihat ketika Hamas berhasil membangun terowongan pangkalan militer di bawah tanah sepanjang 50 meter dengan tangan mereka sendiri tanpa bantuan teknologi. Teknologi tidak digunakan karena dapat dideteksi oleh Israel. Hal ini menjadi bukti kuasa serta pertolongan Allah. Israel beserta sekutunya yang memiliki kekuatan militer terkuat di dunia sekalipun tidak mampu mengalahkan Hamas yang merupakan kelompok kecil.

Di sisi lain, Israel terus menunjukkan kekejamannya dengan melakukan genosida, menodai, memfitnah, serta berusaha meratakan Palestina. Dalam sehari, hampir 100 pesawat menjatuhkan bom. Mereka tidak peduli meskipun seluruh bangunan telah rata, karena yang mereka incar adalah apa yang berada di bawahnya.

Salah satu bentuk kekejaman mereka adalah membunuh seorang anak kecil lalu membawa jasadnya. Dua tahun kemudian, jasad tersebut dikembalikan sehingga sang ibu kembali larut dalam kesedihan. Kekejaman yang tidak masuk akal lainnya adalah memvonis seorang warga Palestina dengan hukuman hingga ribuan tahun.

Syekh Ja’far juga bersyukur bahwa Indonesia merupakan negara yang aman dan damai. Ketika ingin makan, minum, atau berobat, tersedia makanan, minuman, dan rumah sakit. Sementara di Palestina, ketersediaan makanan dan air bersih sangat terbatas. Bahkan banyak rumah sakit telah dihancurkan sehingga sangat sulit menangani orang yang sakit.

Beliau juga menyampaikan kebanggaannya karena Indonesia telah banyak menyalurkan bantuan kepada Palestina. Beliau pun mendoakan kebaikan bagi bangsa Indonesia.

Sebagai penutup, beliau membacakan firman Allah dalam Surah Al-Isra’ ayat 1:

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Menurut tafsir, frasa “yang diberkahi sekelilingnya” mencakup Masjidil Aqsa dan wilayah di sekitarnya, termasuk penduduknya serta orang-orang yang hatinya terpaut dengan Masjidil Aqsa. Oleh karena itu, siapa pun yang hatinya terpaut dengan Masjidil Aqsa—baik melalui doa, jiwa, maupun hartanya—termasuk orang-orang yang diberkahi oleh Allah.