BOHONG ITU BENCANA BESAR | Majlis Dhuha Februari 2026

Ringkasan materi KH. Abdullah Muadz oleh Sutri Purnamasari, mahasantriwati Ibnu Katsir 2

Saat mendengar kata bencana, kebanyakan dari kita langsung membayangkan banjir, gempa, atau tsunami. Bencana selalu kita hubungkan dengan kerusakan alam dan kehancuran fisik. Padahal ada bencana lain yang dampaknya jauh lebih panjang dan merusak, tetapi sering luput dari perhatian, yaitu kebohongan.

Berbeda dengan bencana alam yang kerap dikaitkan dengan kesalahan manusia dalam memperlakukan lingkungan, kebohongan sepenuhnya lahir dari pilihan manusia sendiri. Ia bukan sekadar persoalan pribadi, melainkan telah berubah menjadi persoalan sosial yang perlahan merusak kehidupan bersama.

Hari ini kita menghadapi bencana nilai: materialisme membuat banyak orang menilai segala sesuatu dari sisi untung dan rugi. Kebohongan pun tidak lagi dipandang sebagai kesalahan moral, melainkan dianggap wajar, bahkan perlu. Dari sekadar perilaku individu, kebohongan berkembang menjadi kebiasaan sosial yang dimaklumi. Dalam kondisi seperti ini, kejujuran justru sering dianggap mengganggu.

Akibatnya, peradaban menjadi rapuh. Bukan karena agama tidak diajarkan, tetapi karena kejujuran tidak lagi dihidupkan. Orientasi spiritual tergeser oleh kepentingan duniawi. Kehormatan diukur dengan harta, dan martabat ditentukan oleh apa yang dimiliki. Padahal, Al-Qur’an telah menegaskan bahwa kemuliaan manusia ditentukan oleh ketakwaannya, bukan oleh materi atau status sosial. Jika ukuran ini diabaikan, kita hanya akan tampak kuat dari luar, tetapi kosong di dalam.

Pekerjaan yang sebenarnya mulia sering kali tidak lagi dihargai, sementara segala sesuatu yang menjanjikan materi diagungkan. Demi mengejar itu, kebohongan menjadi jalan pintas yang dianggap masuk akal. Banyak orang sadar bahwa kebohongan membawa dampak buruk, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi orang lain dan masa depan. Namun, tetap saja kebohongan dipilih karena dianggap sebagai cara paling cepat mencapai tujuan.

Kebohongan hari ini hadir dalam berbagai bentuk. Informasi dimanipulasi, hoaks menyebar luas, kesejahteraan digambarkan seolah baik-baik saja, sementara penderitaan nyata disembunyikan. Dalam kehidupan berbangsa, kondisi ini sangat berbahaya. Kepercayaan yang seharusnya menjadi fondasi bersama perlahan runtuh. Masyarakat mudah terpecah, saling curiga, dan sulit membangun solidaritas.

Dampaknya tidak berhenti di situ. Kebohongan juga diwariskan kepada generasi berikutnya. Kita bisa saja melahirkan generasi yang rajin beribadah, tetapi miskin nilai moral. Ibadah semakin ramai, namun korupsi tetap terjadi. Ceramah semakin banyak, tetapi hoaks justru sering beredar dari ruang-ruang keagamaan. Simbol keimanan tampak kuat, sementara akhlak sosial melemah. Ini bukan kesalahan ajaran agama, melainkan kegagalan kita dalam menghadirkannya di kehidupan publik.

Banyak upaya dilakukan untuk memperbaiki keadaan, namun sering kali hanya bersifat formalitas. Yang paling mendasar justru belum disentuh, yaitu keberanian untuk menempatkan kejujuran sebagai nilai bersama yang benar-benar dijaga.

Lalu, apakah peradaban ini masih bisa dipulihkan? Harapan itu masih ada, tetapi hanya jika kejujuran kembali dijadikan landasan dalam beragama, berkuasa, dan bermasyarakat. Tanpa kejujuran, semua pembangunan akan berdiri di atas kebohongan yang suatu saat pasti runtuh.

Menyuarakan kebenaran memang tidak selalu disukai. Ia sering kali tidak menguntungkan dan bahkan bisa membuat seseorang disingkirkan. Namun, kejujuran tidak dituntut untuk populer, melainkan untuk diperjuangkan. Sebab jujur bukan hanya soal pribadi, tetapi tanggung jawab sosial yang menentukan arah masa depan kita bersama.