
Ringkasan materi Kyai Abuhasanuddin, S.Pd., al Hafizh oleh Nurhaliza Idris, mahasantri Ibnu Katsir 2
Ada perahu yang diciptakan untuk mengambang di atas air. Ia kuat, ia kokoh, dan mampu menembus gelombang. Namun, perahu itu takkan tenggelam hanya karena air di sekelilingnya. Ia tenggelam saat air yang seharusnya berada di luar justru masuk ke dalam. Begitulah kita. Masalah tak pernah benar-benar menenggelamkan hidup kita. Ia hanya akan menenggelamkan ketika kita membiarkannya masuk ke dalam hati, menguasai pikiran, dan mengendap menjadi luka yang tak kunjung sembuh.
Padahal, pada hakikatnya kita tidak akan menjadi hina karena hinaan, dan tidak pula mulia karena pujian. Sebab nilai kita tak ditentukan oleh lisan manusia, melainkan oleh bagaimana hati kita bersandar kepada Allah.
Ramadan telah mengajarkan kita memperbaiki dan menyelesaikan hubungan dengan-Nya—tentang ibadah, tentang taat, dan tentang tunduk. Namun selepas itu, ada hal yang tidak boleh kita lupakan, yaitu hubungan dengan sesama manusia. Sebab kita bukan hanya hamba Allah, tetapi juga makhluk sosial yang hidup di tengah manusia.
Seringkali, yang menyumbat hidup kita bukanlah kurangnya rezeki, melainkan hati yang sempit—hati yang enggan menerima dan sulit memaafkan. Luka itu seperti duri. Kecil, tetapi terasa dalam. Namun sesungguhnya, yang membuatnya bertahan lama bukan tusukannya, melainkan karena kita enggan mencabutnya. Kita simpan, kita ingat, dan kita pelihara. Dari sekadar kecewa, ia tumbuh menjadi benci, lalu dendam, hingga akhirnya menjadi ghil—perasaan tidak rela yang diam-diam menggerogoti jiwa.
Memaafkan bukan tentang mereka yang menyakiti. Ia adalah tentang membebaskan diri kita sendiri. Bukankah aneh, ketika seseorang menyakiti kita sekali, lalu kita memilih menyakiti diri kita berulang kali dengan terus mengingatnya?
Maka, siapa yang sebenarnya paling menderita? Yang meminta maaf, atau yang menolak memberi maaf?
Allah berfirman:
وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ
“…Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”
(Q.S. Ali ‘Imran: 134)
Marah itu perlu dilepaskan agar hati memiliki ruang untuk memaafkan. Sebab memaafkan bukan sekadar memberi kebaikan pada orang lain, tetapi juga membebaskan diri kita sendiri. Saat maaf itu benar-benar dihadirkan, ada rasa lega yang tak dapat dijelaskan—seolah satu beban besar telah selesai.
Namun, jalan menuju maaf seringkali tidak mudah. Ada luka yang dalam, ada nama yang sulit dilupakan, dan ada kenangan yang masih menyisakan perih. Maka, tak apa jika sesekali kita jujur pada rasa itu. Hadirkan dalam doa wajah yang pernah menyakitkan. Akui lukanya dalam hati. Tak perlu berpura-pura kuat, sebab air mata bukan tanda kelemahan. Bahkan Umar bin Khattab pun menangisi masa lalunya. Lalu perlahan, tambahkan satu kalimat yang mungkin terasa berat:
“Ya Allah, meski dia menyakitiku… aku ridha, ya Rabb. Aku ikhlas.”
Di situlah awal kesembuhan. Sebab luka yang dilepaskan akan pulih, sementara luka yang disimpan akan menetap. Memang sakit di awal, tetapi bukankah obat yang paling manjur sering terasa pahit terlebih dahulu, lalu menyembuhkan dengan sempurna?
Teruslah mencoba, hingga akhirnya hati itu mampu berkata:
“Alhamdulillah ya Rabb, aku telah memaafkannya.”
Sebab marah, benci, dan dendam—itulah yang diam-diam membakar nikmat. Makanan terasa hambar, tidur tak lagi nyenyak, dan hati gelisah tanpa sebab. Kita sibuk memikirkan seseorang yang bahkan belum tentu memikirkan kita.
Padahal hidup ini dihadirkan untuk bahagia. Kita dibesarkan dengan cinta—oleh ibu yang menginginkan senyum kita, dan oleh ayah yang berjuang demi masa depan kita. Lalu, mengapa kita biarkan satu luka merampas semuanya?
Saat kita mengeluh atas penderitaan, Allah seakan bertanya kembali: bukankah kakimu masih mampu berjalan? Bukankah matamu masih bisa melihat? Bukankah tanganmu masih bisa menggenggam? Maka datanglah teguran yang lembut namun dalam:
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Di antara sekian banyak nikmat, mengapa kita sibuk menghitung luka?
Padahal Allah telah menjanjikan kemuliaan bagi mereka yang memilih memaafkan. Sebab maaf dan memaklumi bukan sekadar sikap, melainkan jalan menuju kebahagiaan—jalan untuk melepaskan diri dari belenggu luka, dari beratnya kecewa, dari panasnya marah, serta dari racun iri, dengki, dan dendam. Sebab dendam bukan sekadar perasaan. Ia adalah api yang diam-diam membakar semua kebaikan.
Maka, yang lalu biarlah berlalu. Tak semua harus dibawa ke hari ini, dan tak semua harus tinggal di hati ini. Sesungguhnya, masalah itu seperti air di lautan: luas, banyak, dan tak terhindarkan. Namun ia tak akan pernah menenggelamkan kita… sampai kita sendiri yang membiarkannya masuk, membocorkan dinding hati kita. Ada yang tampak kuat di luar, tetapi sebenarnya rapuh di dalam—karena hatinya penuh genangan yang tak pernah dikeringkan. Maka jagalah hati itu. Belajarlah melepaskan. Sebab semua orang yang sukses memiliki masa lalu, dan semua orang yang pernah gagal masih memiliki masa depan.
Jika hari ini terasa tidak sesuai harapan, boleh jadi itulah cara Allah mengarahkan kita pada sesuatu yang lebih baik. Pilihan kita boleh terbatas, tetapi rencana Allah tak pernah sempit.Maka tenangkan hati, lapangkan dada. InsyaAllah, saat kita memilih memaafkan, bukan hanya luka yang sembuh, tetapi hidup pun kembali utuh.
Wallāhu a‘lamu bish-shawāb.
