
Ramadhan selalu menghadirkan nuansa yang berbeda, terutama dalam semarak syiar Al-Qur’an. Salah satu yang konsisten menjaga semangat tersebut adalah Festival Qur’an Prosalina, sebuah ajang bergengsi yang telah berlangsung selama dua dekade dan terus melahirkan generasi pecinta Al-Qur’an.
Pada gelaran tahun ini, salah satu tokoh yang mendapat amanah mulia sebagai salah satu dari juri adalah Ustadz Hudzaifah Al Ayyubi. Beliau adalah alumni Pondok Pesantren Ibnu Katsir 1 yang juga pernah menjadi juara 1 Festival QUr’an Prosalina 30 juz.
Sudah sekitar 20 tahun, Festival Qur’an yang diselenggarakan oleh Radio Prosalina ini menghiasi malam-malam ramadhan radio Prosalina dengan perlombaan hafalan Al-Qur’an. Setiap tahun, antusiasme peserta semakin meningkat, bukan hanya dari sisi jumlah, tetapi juga kualitas. Hal ini menunjukkan bahwa semangat generasi muda terhadap Al-Qur’an terus tumbuh dan menguat.
Festival ini menghadirkan berbagai kategori, mulai dari hafalan surat pendek hingga kategori berat seperti 10, 20 dan 30 juz. Secara umum, kualitas peserta dinilai sangat baik. Bacaan mereka semakin matang, baik dari sisi tajwid, makharijul huruf, fashahah (kelancaran dan kefasihan), serta irama atau nada bacaan.
Khusus pada kategori 10 juz, banyak peserta yang sudah menunjukkan kematangan yang luar biasa. Sementara untuk kategori 20 dan 30 juz, pembinaan dilakukan lebih intensif karena mereka merupakan calon-calon generasi unggulan yang akan melanjutkan estafet pembina hafalan Al Qur’an di masa depan.
Menjadi juri tentu bukan perkara mudah. Salah satu tantangan terbesar adalah menguji hafalan melalui ayat-ayat mutasyabihat (ayat-ayat yang mirip). Diantara tantangan yang dihadapi uleh sosok yang akrab disapa ustadz Uje ini adalah ketika ia harus memilih potongan ayat yang tepat dan menantang, menguji ketelitian hafalan peserta, sekaligus memberikan penjelasan yang benar saat ada peserta yang melakukan kesalahan, baik kesalahan Jali maupun Khofi.
Tidak hanya itu, juri juga dituntut untuk memberikan teladan. Dalam beberapa momen, bahkan juri ikut diuji hafalannya. Pengalaman ini dirasakan berbeda oleh Ustadz Hudzaifah. Menjadi pihak yang diuji ternyata menghadirkan ketegangan tersendiri—bahkan lebih menantang dibanding sekadar menilai.
Keberhasilan festival ini tidak lepas dari peran besar Radio Prosalina sebagai media penyiaran. Menurut beliau, radio memiliki peran strategis sebagai jembatan antara peserta, pendengar, dan pengajar Al Qur’an untuk turut menyemarakkan syiar Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Dedikasi tim Prosalina yang rela mengawal acara hingga larut malam menjadi bukti nyata kesungguhan dalam menyebarkan kebaikan.
Ke depan, beliau juga memberikan masukan agar format acara bisa lebih berkembang, misalnya dengan mempertimbangkan pelaksanaan di waktu siang hari, meskipun tetap menjaga tradisi yang telah berjalan lama.
Di balik kompetisi, terdapat pesan penting yang ingin disampaikan oleh ustadz Hudzaifah. Festival ini bukan hanya ajang mencari juara, tetapi sarana mendekatkan diri kepada Allah. Bagi para pemenang, hendaknya mereka tetap rendah hati, terus belajar dan tidak cepat puas, menyadari bahwa di luar sana masih banyak yang lebih unggul dalam kualitas hafalan dan bacaan.
Bagi yang belum berhasil, jangan berhenti melancarakan hafalan dan berlatih, terus ikut di tahun-tahun berikutnya, terus mencari guru dan lingkungan yang mendukung perkembangan hafalan. Karena, kesuksesan dalam menghafal Al-Qur’an bukan tentang siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang paling istiqamah.
Dengan kolaborasi yang kuat, festival ini diharapkan terus eksis dan semakin berkembang, menjadi salah satu pilar penting dalam mencetak generasi yang mencintai Al-Qur’an.
