Makanan Halal Tayyiban: Sumber Keberkahan Doa, Amal, dan Generasi Kita  |  Majlis Dhuha Edisi Oktober 2026

Ringkasan materi Dr. KH. Abdul Haris, M.Ag oleh Sutri Purnamasari, mahasantri Ibnu Katsir 2

Mengambil hak orang lain merupakan perbuatan buruk yang dapat membawa dampak negatif dalam kehidupan, terlebih jika sampai melakukan korupsi. Perilaku ini terkadang bermula dari hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya, ketika mendapat jatah satu bagian, kita justru mengambil lebih dari satu karena masih ada sisa. Padahal, sisa tersebut belum tentu menjadi hak kita. Jika dibiarkan, kebiasaan seperti ini dapat menjadi bibit perilaku koruptif.

Dalam menjalani kehidupan, setiap insan memiliki amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Amanah tersebut dapat berupa harta, jabatan, maupun keluarga. Karena itu, kita perlu berhati-hati dalam menjalankan amanah dan memperhatikan segala sesuatu yang masuk ke dalam tubuh kita, terutama makanan yang kita konsumsi.

Kemiskinan juga dapat menjadi ujian berat bagi seseorang. Dalam kondisi terdesak, sebagian orang mungkin mengalami berbagai keadaan yang melemahkan dirinya, di antaranya:

  • Rendahnya komitmen keagamaan;
  • Lemahnya pertimbangan dalam mengambil keputusan; dan
  • Hilangnya rasa malu.
    Ketika seseorang berada dalam kondisi demikian, ia bisa lebih mudah terjerumus ke dalam perbuatan menyimpang, bahkan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran agama. Demi memenuhi keinginan atau kebutuhan hidup, seseorang terkadang rela menghalalkan berbagai cara.

Padahal, sesulit apa pun keadaan yang dihadapi, kita tetap perlu menyikapinya dengan hati yang tenang dan pertimbangan yang sehat. Kesabaran, pemikiran yang matang, serta keteguhan dalam memegang ajaran agama dapat membantu kita mengambil keputusan yang tepat. Dengan demikian, kita dapat menghindari tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang-orang di sekitar kita, terutama anak-anak dan keluarga. Sikap ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya.

Dalam kondisi sulit, seseorang terkadang juga lebih mudah diremehkan oleh orang lain. Namun, apa pun keadaan yang kita hadapi, kita tetap harus berhati-hati dalam memilih makanan yang dikonsumsi. Jangan asal mengambil atau mengonsumsi makanan tanpa mengetahui asal-usulnya. Pastikan makanan yang kita konsumsi berasal dari sumber yang halal dan baik (tayyib).

Makanan yang halal dan tayyib memiliki arti penting dalam kehidupan seorang Muslim. Menjaga kehalalan makanan bukan hanya tentang memastikan jenis makanan yang dikonsumsi diperbolehkan oleh syariat, tetapi juga memperhatikan cara memperolehnya. Makanan yang diperoleh dengan cara yang tidak benar, misalnya melalui pencurian atau mengambil hak orang lain, tentu tidak dapat dianggap sebagai rezeki yang halal.

Upaya menjaga makanan yang halal dan tayyib juga merupakan bagian dari ikhtiar membangun kehidupan yang baik. Kebiasaan ini dapat ditanamkan dalam keluarga dan menjadi teladan bagi anak-anak serta generasi mendatang. Dengan membiasakan diri mencari rezeki secara halal, kita juga melatih diri untuk menjauhi perbuatan yang merugikan orang lain.

Ibarat sebuah jalan tol, umat Islam telah memiliki jalan untuk menggapai kesuksesan, yaitu melalui amal-amal kebaikan. Namun, perjalanan tersebut membutuhkan kendaraan dan bahan bakar. Dalam perumpamaan ini, jalan tol menggambarkan jalan kebaikan yang dapat kita tempuh, sedangkan bahan bakarnya diibaratkan sebagai makanan yang halal dan tayyib. Keduanya menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup agar kita dapat terus berusaha melakukan kebaikan.

Dengan menjaga makanan yang halal dan tayyib, kita berusaha agar amal kebaikan tidak terhalang oleh perbuatan kita sendiri. Apa yang kita konsumsi merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam membangun kehidupan pribadi dan keluarga. Karena itu, menjaga kehalalan dan kebaikan makanan bukan hanya persoalan jasmani, tetapi juga bagian dari ikhtiar meraih keberkahan hidup, menjaga amal, dan mengharapkan terkabulnya doa-doa kita.

Pada akhirnya, apa yang kita makan hari ini tidak hanya berkaitan dengan diri sendiri, tetapi juga dengan nilai-nilai yang kita tanamkan kepada generasi mendatang. Karena itu, marilah kita senantiasa berhati-hati dalam mencari, memperoleh, dan mengonsumsi makanan. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan keberkahan dalam kehidupan kita dan meridai setiap ikhtiar yang kita lakukan.