
RIngkasan Materi Kyai Abuhasanuddin oleh mahasantri Ibnu Katsir 2
Kita hidup di zaman ketika jarak tak lagi menjadi penghalang dalam berbagi dan berkomunikasi dengan siapa pun di belahan dunia ini. Kehadiran teknologi digital membuat aktivitas manusia menjadi lebih cepat, praktis, dan mudah. Kemudahan tersebut merupakan salah satu ciri utama dari era digital. Cukup dengan gawai dan koneksi internet, kita dapat mengakses berbagai macam informasi sesuai kebutuhan dan keinginan kita.
Namun, derasnya arus informasi yang kita temukan juga dapat menjadi tantangan tersendiri. Sebab, informasi yang disajikan tak selalu berisi kebenaran dan hal-hal yang bermanfaat, tetapi juga dapat berupa informasi negatif hingga berita-berita palsu.
Maraknya informasi, tren, dan gaya hidup di kalangan masyarakat dapat memengaruhi cara seseorang dalam berpikir, berperilaku, bahkan dalam memandang diri sendiri. Banyaknya informasi yang menyebar juga membuat kita kesulitan dalam membedakan mana yang baik dan buruk untuk diterima. Tak semua hal yang viral harus diikuti dan tak semua berita dapat langsung kita percaya.
Berbagai tantangan tersebut dapat memengaruhi pola pikir hingga kepribadian seseorang apabila informasi yang diterima tidak disaring dengan baik. Karenanya, penting bagi seorang Muslim untuk tetap menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam menjalankan kehidupan, termasuk dalam menghadapi perkembangan teknologi dan derasnya informasi.
Al-Qur’an mengajarkan kita untuk melakukan tabayyun, yaitu memeriksa dan mengklarifikasi suatu informasi sebelum memercayainya. Al-Qur’an juga mengajarkan kita untuk berkata baik dan benar. Prinsip tersebut dapat diterapkan dalam aktivitas kita di media sosial, seperti berhati-hati dalam menulis komentar, membuat unggahan, maupun menyampaikan informasi kepada orang lain. Selain itu, kita diperintahkan untuk menjaga pandangan dari hal-hal yang tidak baik. Di era digital, hal tersebut dapat diterapkan dengan lebih selektif dalam memilih konten yang kita lihat dan konsumsi.
Islam juga mengajarkan agar kita tidak berlebihan terhadap sesuatu. Prinsip ini dapat menjadi pengingat agar penggunaan teknologi, seperti gawai dan media sosial, tidak dilakukan secara berlebihan hingga menyebabkan kelalaian terhadap waktu, kewajiban, maupun ibadah.
Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman, seorang Muslim memiliki landasan dalam menentukan sikap di tengah berbagai pilihan yang hadir di era digital. Teknologi hanyalah sarana, dan kitalah yang menentukan ke mana sarana tersebut membawa kita. Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman, kita dapat lebih bijak dalam menentukan apa yang perlu dilihat, didengar, diikuti, dan dibagikan. Di tengah derasnya arus digital, jangan sampai kita menjadi manusia yang memiliki banyak akses terhadap begitu banyak informasi, tetapi kehilangan arah dalam menjalani kehidupan.
