
RIngkasan materi KH. Abdul Aziz, Lc., oleh Aisyah, mahasantri Ibnu Katsir 2
Setiap inspirasi yang kita dapat dari kisah para nabi tak pernah luput dari perjuangan menjunjung tinggi ketauhidan kepada sang Maha Khaliq. Hal tersebut menjadi keutamaan karena keimanan yang kokoh akan memberi dampak kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat kelak, sebagaimana kisah teladan dari Nabi Ibrahim.
Melalui kisah Nabi Ibrahim sang kekasih Allah, kita dapat mengetahui bahwa beliau telah beriman kepada Allah sejak awal dan terus menebarkan nilai-nilai ketauhidan dengan mengajak umatnya untuk mengesakan Allah. Dengan kemuliaan tersebut, Allah mengaruniakan keturunan para nabi dan menjaga kesucian keturunannya dari akidah selain Islam hingga sampai kepada nabi akhir zaman, yaitu Nabi Muhammad saw.
Kisah Nabi Ibrahim dan keluarganya menjadi teladan bagi umat Islam sepanjang masa, terutama dalam ketabahan dan kesabaran beliau ketika diuji keimanannya oleh Sang Maha Pengasih. Di antaranya, Allah baru mengaruniakan anak kepada Ibrahim a.s. pada usia sekitar 86 tahun dari istri keduanya, Siti Hajar, yang merupakan budak pemberian Raja Mesir kepada istri pertamanya, Siti Sarah. Setelah dikaruniakan seorang anak bernama Ismail, Allah kembali menguji cinta Nabi Ibrahim dengan memerintahkan beliau untuk meninggalkan Siti Hajar dan Ismail kecil di sebuah lembah kering yang bahkan tak dihuni oleh seekor hewan pun.
Dari kisah ini, kita dapat meneladani ketabahan Siti Hajar ketika menyadari bahwa suaminya melakukan hal tersebut berdasarkan perintah Allah. Ia berhusnuzan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakannya di tempat tersebut. Ketabahan dan kesabaran Siti Hajar terlihat semakin jelas ketika ia mencarikan air untuk anaknya dengan berlari antara Bukit Shafa dan Marwah, yang kemudian kita kenal sebagai salah satu rukun ibadah haji dan umrah, yaitu sa’i. Kita dapat meneladani Siti Hajar melalui ikhtiarnya yang tidak pernah menyalahkan keadaan. Demikian pula dalam kehidupan kita, kita dapat berikhtiar atas pekerjaan yang dipilih, meskipun kita tidak pernah mengetahui di mana Allah telah menetapkan rezeki kita yang sebenarnya.
Setelah Ismail tumbuh besar, Allah kembali menguji cinta Nabi Ibrahim terhadap putranya melalui perintah untuk menyembelih Ismail. Karena kesabaran dan ketaatan beliau terhadap perintah Allah, Allah mengganti sembelihan tersebut dengan seekor hewan kurban yang besar. Hal ini membuktikan bahwa ketauhidan dan kecintaan Nabi Ibrahim kepada Allah lebih besar daripada kecintaannya terhadap keluarganya sendiri. Karena itulah Allah mengangkat beliau sebagai kekasih-Nya dan mengabadikan kisahnya dalam kitab suci Al-Qur’an.
Di antara keteladanan Nabi Ibrahim lainnya adalah ketakwaannya dalam membangun Ka’bah bersama putranya, Ismail. Dalam proses tersebut, beliau tetap mengharapkan keridaan Rabb-nya meskipun perintah itu datang langsung dari Allah. Hal itu menjadi pelajaran bagi kita agar senantiasa meluruskan niat dalam beribadah sehingga tidak mudah terjangkit rasa bangga diri atau ujub terhadap amal ibadah yang telah kita lakukan.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memiliki figur teladan yang dapat menuntun kita kepada kebaikan serupa. Baik sebelum maupun ketika menjalankan ibadah, kita dianjurkan untuk memanjatkan doa sebagaimana doa Nabi Ibrahim:
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amal ini). Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Wallahu a’lam.
