Wisuda Al-Qur’an XI dan Uji Publik Mahasantri Ponpes Al-Qur’an Ibnu Katsir 1 & 2

Ahad, 21 Juni 2026 bertepatan dengan 6 Muharram 1448 H menjadi hari yang penuh syukur dan kebahagiaan bagi keluarga besar Pondok Pesantren Al-Qur’an Ibnu Katsir 1 dan 2. Pada hari tersebut diselenggarakan Wisuda Al-Qur’an XI yang dirangkaikan dengan Uji Publik Mahasantri, sebagai penanda berakhirnya masa pendidikan sekaligus awal perjalanan baru para penghafal Al-Qur’an di tengah masyarakat.

Sebanyak 9 mahasantri angkatan ke-12 dari Ibnu Katsir 1 (putra) dan 17 mahasantriwati angkatan ke-9 dari Ibnu Katsir 2 (putri) resmi diwisuda setelah menempuh perjalanan panjang selama kurang lebih empat tahun. Selama masa tersebut, mereka belajar dan menghafal Al-Qur’an, menelaah berbagai ilmu dan mengamalklan adab demi adab yang menjadi ciri khas pesantren.

Di antara para wisudawan, terdapat 3 mahasantri putra dan 3 mahasantriwati putri yang berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an dengan mutqin. Sebuah capaian yang lahir dari kesungguhan, kesabaran, dan doa yang terus mengiringi setiap langkah mereka. Tentu saja, diatas itu, capaian tersebut adalah merupakan rahmat dari Allah ﷻ.

Sebelum prosesi wisuda berlangsung, para mahasantri terlebih dahulu mengikuti Uji Publik di hadapan para penguji dan tamu undangan. Dalam kesempatan tersebut, mereka diuji kemampuan hafalan Al-Qur’an, penguasaan berbagai matan tajwid, serta kemampuan membaca kitab menggunakan metode Al-Miftah.

Acara wisuda turut dihadiri oleh berbagai unsur penting, mulai dari pembina dan pengawas pesantren, unsur Forkopimda, para tokoh masyarakat, hingga para donatur yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan dan perkembangan pesantren. Kehadiran mereka menjadi bentuk dukungan dan apresiasi atas perjuangan para mahasantri yang telah menyelesaikan masa belajarnya, sekaligus menjadi momentum mempererat sinergi dalam mendukung lahirnya generasi penjaga Al-Qur’an.

Ketua Yayasan Ibnu Katsir, Kyai Abuhasanuddin, S.Pd., Al-Hafizh, menyampaikan pesan mendalam kepada seluruh wisudawan agar senantiasa menjaga hafalan Al-Qur’an yang telah diperoleh dengan penuh kesungguhan.

Beliau memberikan perumpamaan yang sederhana namun sangat menyentuh.

“Emas saja disimpan dalam laci. Laci berada di dalam lemari. Lemari berada di dalam kamar. Kamar berada di dalam rumah. Rumah pun diberi pagar. Ketika pemiliknya pergi, semuanya dikunci. Mengapa? Karena emas itu mahal dan berharga. Maka hafalan Al-Qur’an seharusnya lebih dijaga lagi, karena nilainya jauh lebih berharga daripada emas.”

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa wisuda bukanlah akhir dari perjalanan menghafal Al-Qur’an. Justru setelah meninggalkan pesantren, tantangan untuk menjaga hafalan akan semakin besar. Karena itu, para wisudawan dituntut untuk terus berinteraksi dengan Al-Qur’an melalui murajaah, tilawah, dan pengamalan dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu momen yang paling khidmat dalam acara ini adalah saat Kyai Abuhasanuddin memimpin ikrar mahasantri. Dengan penuh kesungguhan, para wisudawan mengucapkan janji untuk senantiasa berpegang teguh kepada Al-Qur’an, menjaga hafalannya, mengamalkan kandungannya, serta menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup di mana pun mereka berada.

Kebahagiaan para wisudawan semakin lengkap dengan adanya kejutan yang tidak disangka-sangka.

Aditya, yang dinobatkan sebagai wisudawan terbaik putra, mendapatkan hadiah umroh dari H. Dono, pemilik Mak Enak Indonesia. Pengumuman tersebut sontak membuat suasana ruangan berubah haru. Wajah bahagia dan rasa syukur tampak jelas dari para hadirin yang turut menyaksikan momen istimewa tersebut.

Sementara itu, Zainab, wisudawati terbaik putri, sebelumnya juga telah memperoleh hadiah umroh setelah meraih juara pada Festival Qur’an Prosalina 2025 cabang hafalan 30 juz.

Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi atas kesungguhan mereka dalam berjuang bersama Al-Qur’an, sekaligus motivasi bagi generasi berikutnya untuk terus berprestasi dalam jalan yang diridhai Allah.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjaga hafalan mereka, melapangkan jalan untuk mengamalkan ilmu yang telah dipelajari, menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya dalam hati dan kehidupan mereka, serta mengangkat derajat kedua orang tua, para guru, dan seluruh pihak yang telah berjuang membersamai perjalanan mereka.

اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوبِهِمْ، وَنُورَ صُدُورِهِمْ، وَذَهَابَ هُمُومِهِمْ وَغُمُومِهِمْ، وَاجْعَلْهُمْ مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ الَّذِينَ هُمْ أَهْلُكَ وَخَاصَّتُكَ.

Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyejuk hati mereka, cahaya bagi dada mereka, penghilang kesedihan dan kegundahan mereka, serta jadikan mereka termasuk Ahlul Qur’an, yaitu hamba-hamba pilihan-Mu yang dekat di sisi-Mu.