
Di balik setiap keberhasilan seorang penghafal Al-Qur’an, selalu ada kisah perjuangan yang tidak sederhana. Itulah yang tergambar dari sosok Muhammad Mahfil Hikami, salah satu santri berprestasi dari Pondok Pesantren Ibnu Katsir, yang berhasil meraih juara 3 dalam ajang Festival Al-Qur’an Prosalina kategori 20 juz.
Menariknya, perjalanan Mahfil tidak berdiri sendiri. Ia mengikuti jejak kakaknya, Ustadz Afif, yang juga merupakan alumni Ibnu Katsir dan dikenal berprestasi di bidang Al-Qur’an. Dari sini, tampak bahwa lingkungan, teladan, dan semangat keluarga memiliki peran besar dalam membentuk generasi Qur’ani.
Berbeda dari banyak penghafal Al-Qur’an di masa kini yang memulai sejak usia dini, Mahfil justru memulai hafalannya pada usia 18 tahun, tepat setelah lulus SMA dan mulai nyantri di Pondok Pesantren Ibnu Katsir 1. Dengan rahmat Allah ﷻ yang disertai dengan kesungguhan dan konsistensi, ia menyelesaikan hafalan 30 juz pada usia 22 tahun.
Festival Al-Qur’an Prosalina ini merupakan pengalaman lomba pertama bagi Mahfil. Ia bahkan mengaku awalnya tidak tertarik mengikuti lomba. Keputusan untuk ikut pun terbilang spontan, bahkan “terpaksa”. Karena tidak ada santri yang bersedia maju, hingga akhirnya ia memberanikan diri mengangkat tangan saat Koordinator Tahfizh meminta adanya perwakilan mahasantri untuk mengikuti perlombaan ini.
Ia mendaftar di kategori 20 juz. Total peserta ada sekitar 29 orang dan hanya akan diambil untuk pembinaan sebanyak 6 orang. Dalam beberapa kali pembinaan hingga final, Mahfil menjawab soal demi soal tahfizh dan pemahaman ayat, hingga ia pada akhirnya dinobatkan sebagai juara 3.
Dalam prosesnya menghafal Al Qur’an, Mahfil justru menghadapi hal-hal yang lebih “realistis” dalam keseharian seperti distraksi gadget dan berita nasional internasional dan ketertarikannya pada hal-hal di luar hafalan seperti liga sepak bola luar negeri yang tidak ada habisnya untuk diikuti.
Ada sebuah kejadian unik saat Mahfil mengikuti Festival Qur’an Prosalina. Dalam salah satu sesi pembinaan, ia sempat tampil sangat baik di awal, namun performanya menurun di sesi berikutnya. Setelah evaluasi, ia menyadari satu hal yang terlewat:
Ia belum meminta doa orang tua sebelum tampil di pembinaan.
Ia mengaitkannya dengan firman Allah:
“Dan tidaklah aku melupakannya kecuali setan yang membuatku lupa untuk mengingatnya.”
(QS. Yusuf: 42)
Sejak itu, ia semakin menyadari bahwa keberhasilan dalam Al-Qur’an bukan hanya soal usaha, tetapi juga keberkahan, lebih-lebih keberkahan dari doa orang tua.
Dalam persiapannya, Mahfil berikhtiar untuk Muraja’ah sekitar 3–5 juz per hari. Setelah lolos pembinaan ia menguranginya menjadi 3 juz per hari, namun dengan kualitas yang lebih teliti. Ia juga meminta tolong kepada teman-temannya untuk memberinya berbagai soal sambung ayat.
Saat ditanya tentang pesan menjaga niat saat mengikuti kompetisi, Mahfil justru merendah. Ia merasa belum pantas memberi nasihat karena ini adalah pengalaman pertamanya dalam musabaqah AL Qur’an. Tentu saja, Mahfil masih belum puas dengan pencapaiannya yang sekarang. Dari Mahfil kita belajar bahwa perjalanan bersama Al-Qur’an adalah proses belajar yang tidak pernah selesai.
