IDUL FITRI BUKAN SEKADAR KEMBALI MAKAN
By Moch. Ilyas

Sadarkah anda? Setiap tahun kita menunggu 1 Syawal. Takbir menggema. Masjid penuh. Orang-orang mengenakan baju terbaiknya.

Tapi satu pertanyaan besar jarang sekali ditanyakan :

Setelah ini… hidup anda mau ke mana?

Karena kalau Idul Fitri hanya dimaknai “akhir puasa lalu makan lagi”…

Maka Besok juga makan. Lusa juga makan. Sebulan lagi juga makan.

Lalu apa istimewanya?

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangannya (Ramadhan), dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya, dan agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Mohon perhatikan baik-baik.

Setelah menyempurnakan Ramadhan Allah perintahkan TAKBIR. Allah perintahkan SYUKUR.

Bukan hanya makan kembali seperti sebelum Ramdhan.

Artinya apa?

Ini bukan sekadar transisi biologis dari lapar ke kenyang. Ini transisi spiritual. Ini titik tolak.

Selama 30 hari : Anda dilatih disiplin. Anda dilatih menahan diri. Anda dilatih bangun sebelum subuh. Anda dilatih menekan ego.

Dan Rasulullah menetapkan hari raya ini sebagai hari kemenangan, bukan hari biasa.

Beliau bersabda:

إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا

Setiap kaum memiliki hari raya, dan ini adalah hari raya kita.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini adalah identitas. Ini simbol kemenangan.

Tapi kemenangan atas siapa?

Ya jawabannya kemenangan atas hawa nafsu.

Rasulullah bersabda:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ

Setiap anak dilahirkan di atas fitrah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Fitrah itu lurus. Fitrah itu bersih. Fitrah itu punya arah. Jadi ketika kita merayakan Idul Fitri,

Seharusnya kita bertanya:

Apakah arah hidupku sudah kembali lurus?

Atau hanya perut yang kembali kenyang?

Nabi bahkan melarang puasa di hari ini.

Beliau bersabda:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ عَنْ صَوْمِ يَوْمَيْنِ: يَوْمِ الْفِطْرِ وَيَوْمِ النَّحْرِ

Rasulullah melarang puasa pada dua hari: hari Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR. Bukhari)

Kenapa dilarang?

Karena ini hari syukur. Hari pengakuan bahwa kita telah menyelesaikan ibadah besar. Tapi syukur itu bukan hanya ucapan. Syukur itu arah hidup yang berubah.

Masalahnya Sekarang

Setiap tahun kita bilang:

“Tahun ini saya ingin berubah.”

Tapi berubahnya berapa lama?

Apakah Seminggu?

Apakah Dua minggu? Terus itu balik lagi?

Kalau Idul Fitri hanya jadi momen nostalgia, Berarti kita gagal menangkap pesannya.

Karena Allah berfirman :

لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Agar kamu bersyukur.”

Dan syukur yang sejati itu membuahkan perubahan.

Hati lagi lembut. Orang saling memaafkan. Ego diturunkan. Hubungan diperbaiki. Anda jarang dapat momen sebersih ini.

Jika di momen ini aja anda tidak berani menata masa depan,

Lalu Kapan lagi?

Jika Ramadhan bisa mengubah jam makan anda selama 30 hari, Kenapa tidak bisa mengubah arah hidup anda 5 tahun ke depan?

Kalau anda bisa tahan lapar 14 jam, Kenapa anda tidak bisa tahan gengsi untuk menabung?

Kenapa tidak bisa tahan malas untuk belajar?

Kenapa tidak bisa tahan ego untuk meminta maaf lebih dulu?

Masalahnya bukan tidak mampu.

Masalahnya tidak serius.

Idul fitri Bukan garis finish. Ini titik start.

Start untuk : Hidup lebih disiplin, Finansial lebih tertata, Ibadah lebih konsisten, Tujuan hidup lebih jelas.

Kalau setiap Idul Fitri datang dan hidup anda stagnan, Berarti ada yang salah dengan caraanda memaknainya.

Sekarang pertanyaannya satu..

Anda ingin Idul Fitri ini menjadi:

Titik balik ke kebiasaan lama?

Atau titik tolak menuju masa depan baru?

Karena yang mengubah hidup bukan kalender. Bukan suasana takbir. Bukan baju baru. Tapi keputusan yang anda ambil di momen paling jernih.

Dan Idul Fitri Adalah momen paling jernih dalam setahun.

Sekarang tinggal satu:

Anda mau benar-benar kembali ke suci dari dosa (idul fitrah),

Atau hanya kembali makan (idul Fitri)?