
Pendidikan yang ramah dan adil untuk semua anak bukan lagi sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak yang harus segera diwujudkan oleh lembaga pendidikan saat ini. Kesadaran inilah yang mendorong lembaga pendidikan Madina dan TK Qur’an Ibnu Katsir untuk mengirimkan utusan terbaiknya dalam ajang intensif Workshop Sekolah Inklusi: Apa dan Bagaimana? yang diselenggarakan oleh JSIT Indonesia Wilayah Jawa Timur.
Dalam pelatihan yang berlangsung pada Jumat dan Sabtu, 24-25 Juli 2026 tersebut, delegasi yang dikirimkan meliputi Ustadz Nur dan Ustadz Suhaili mewakili Madina, serta Ustadz Anis dan Ustadz Titis mewakili TK Qur’an Ibnu Katsir.
Kegiatan berlokasi di BBPPMPV BOE Malang (Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Otomotif dan Elektronika), sebuah kawasan fasilitas pemerintah di Kota Malang yang biasa menjadi pusat workshop dan pelatihan berskala regional.
Semangat para peserta diuji melalui jadwal pelatihan yang sangat padat. Pada hari Jumat, sesi dimulai sejak pukul 07.30 pagi dan marathon hingga pukul 22.00 malam, di mana waktu istirahat secara ketat hanya dipergunakan untuk pelaksanaan ibadah shalat. Pelatihan kemudian dilanjutkan pada hari Sabtu mulai pukul 07.30 hingga 16.00 WIB.
Penggemblengan ini diisi oleh narasumber ahli di bidangnya, yaitu Dr. Yessy Yanita Sari, M.Pd. (Pakar Manajemen & Praktik Inklusi) dan Dr. Lalu Yulhaidir, M.Psi., Psikolog (Ahli Psikologi Perkembangan & Asesmen).
Dalam pemaparannya, Dr. Yessy menegaskan bahwa sekolah inklusi pada dasarnya adalah wadah pendidikan yang menerima seluruh peserta didik tanpa membeda-bedakan, termasuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Pemerintah pun telah menganjurkan dan merekomendasikan agar lembaga pendidikan tidak menolak ABK.
Selain imbauan regulasi, ada kondisi-kondisi “darurat” di lapangan yang kerap mengharuskan sekolah bersiap menerima ABK:
- Ketika anak dari pengurus yayasan, kepala sekolah, atau guru merupakan anak berkebutuhan khusus.
- Orang tua yang memiliki kemampuan secara finansial namun kebingungan mencari sekolah yang mau dan mampu membimbing anaknya.
- Kebutuhan kuota siswa lembaga yang masih tersedia dan perlu dipenuhi.
Kondisi-kondisi realistis ini menuntut sekolah untuk tidak sekadar menerima anak, tetapi juga menyiapkan kapasitas ilmu dan tata kelola yang benar.
Salah satu pemahaman penting dari workshop ini adalah bahwa inklusi tidak berarti menyamaratakan semua perlakuan. Secara prinsip, anak ABK tetap berhak atas kesempatan belajar yang sama di kelas reguler bersama teman-temannya. Namun, dalam praktiknya, diperlukan fleksibilitas:
Kurikulum Khusus
Kurikulum dan pendampingan harus dirancang secara individual (individualized) sesuai kondisi dan kebutuhan spesifik tiap anak.
Penanganan Terpisah Saat Diperlukan
Anak dapat ditarik sementara ke ruangan/tempat khusus apabila secara akademik belum mampu mengikuti, atau jika perilakunya dinilai berpotensi membahayakan peserta didik lain.
Manfaat terbesar yang dirasakan para peserta pelatihan adalah *perubahan pola pikir (mindset). Pendidik diajarkan untuk tidak mudah memberikan label (labeling) negatif seperti “nakal”, “bodoh”, atau “kurang” kepada siswa yang menunjukkan hambatan.
Sebagai tindak lanjut konkret di sekolah, delegasi telah merumuskan tiga alur penanganan bagi anak yang terindikasi berbeda:
Screening (Penjaringan Awal)
Mendata dan mengelompokkan seluruh peserta didik yang diduga memiliki kelebihan atau kekurangan tertentu dari populasi umum.
Identifikasi
Dari hasil screening awal, dilakukan pemilahan lebih spesifik untuk mengenali kecenderungan hambatan anak—seperti indikasi ADHD, keterlambatan membaca (dyslexia), atau keterlambatan berbicara (speech delay).
Asesmen (Penilaian Mendalam)
Proses mendalam yang melibatkan wawancara komprehensif dengan anak dan orang tua untuk menyinkronkan data perilaku di rumah maupun di sekolah.
Hasil akhir dari proses asesmen ini menjadi rujukan untuk merujuk anak kepada pihak profesional yang berwenang seperti dokter tumbuh kembang atau psikolog anak guna mendapatkan diagnosis yang pasti serta rekomendasi intervensi yang tepat.
Mengakhiri keikutsertaan mereka dalam workshop ini, para utustas dari Madina dan TK Qur’an Ibnu Katsir telah bermusyawarah untuk segera menyusun langkah tindak lanjut internal. Harapannya, ilmu dan perspektif baru yang didapat dari Malang ini dapat segera diterjemahkan ke dalam kebijakan serta lingkungan belajar yang lebih ramah, empati, dan profesional bagi seluruh santri dan peserta didik.
